<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974</id><updated>2011-04-21T12:32:27.157-07:00</updated><title type='text'>professional nurse</title><subtitle type='html'>blog ini merupakan media berbagi informasi mengenai dunia kesehatan khususnya keperawatan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-4275584478372659839</id><published>2009-02-03T21:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T21:33:17.536-08:00</updated><title type='text'>Pijat Bayi</title><content type='html'>Manfaat Pijat pada Bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi sentuh, terutama pijat menghasilkan perubahan fisiologis yang menguntungkan dan dapat diukur secara ilmiah, antara lain melalui pengukuran kadar cortisol ludah, kadar cortisol plasma secara radioimmunoassay, kadar hormone stress (catecholamine) air seni, dan pemeriksaan EEG (electro encephalogram, gambaran gelombang otak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Efek Biokimia dan Fisik yang Positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek biokimia yang positif dari pijat, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Menurunkan kadar hormone stress (catecholamine), dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Meningkatkan kadar serotonin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain efek biokimia, pijatan memberikan efek fisis/klinis sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Meningkatkan jumlah dan sitotoksisitas dari system imunitas (sel pembunuh alami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Mengubah gelombang otak secara positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Memperbaiki sirkulasi darah dan pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Merangsang fungsi pencernaan serta pembuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Meningkatkan kenaikan berat badan dan Meningkatkan pertumbuhan   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Mengurangi depresi dan ketegangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Membuat tidur lelap dan Meningkatkan kesiagaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Mengurangi rasa sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Mengurangi kembung dan kolik (sakit perut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolik atau sakit perut pada bayi ditunjukkan oleh bayi secara khas, yaitu dengan “tangis sakit” yang melengking.Secara teori penyebab kolik yang menonjol antara lain susunan saraf autonom yang tidak seimbang, adanya gangguan pada pertumbuhan mekanisme control tidur/bangun, atau gangguan interaksi antara orang tua dan bayi.kolik juga sering dihubungkan dengan adanya gangguan pada saluran pencernaan dan kesukaran makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi kolik ini dianjurkan untuk memijat bayinya pada waktu kolik berlangsung dan pada waktu menjelang tidur.Para peneliti juga menemukan bahwa bayi-bayi yang dipijat, interaksi dengan orang tuanya menjadi lebih positif, rasa gelisah berkurang, dan dapat lebih teratur tidur/bangunnya.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Meningkatkan hungungan batin antara orang tua dan bayinya (bonding)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentuhan dan pandangan kasih orang tua pada bayinya akan mengalirkan kekuatan jalinan kasih diantara keduanya.Pada perkembangan anak, sentuhan orang tua adalah dasar perkembangan komunikasi yang akan memupuk cinta kasih secara timbale balik.Semua ini akan menjadi penentu bagi anak untuk secara potensial menjadi anak berbudi pekerti baik yang percaya diri.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Meningkatkan volume air susu ibu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-4275584478372659839?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/4275584478372659839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=4275584478372659839' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4275584478372659839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4275584478372659839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2009/02/pijat-bayi.html' title='Pijat Bayi'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-586378865464712427</id><published>2009-01-31T15:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T15:44:08.018-08:00</updated><title type='text'>ESQ Perawat</title><content type='html'>Pentingnya ESQ bagi perawat dalaam manajemen konflik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hingga kini masih banyak perawat yang memuja kecerdasan intelektual yang mengandalkan kemampuan ber;ogika semata. Perawat merasa bangga dan berhasil mendidik anak, bila melihat anak-anaknya menpunyai nilai rapor yang bagus, menjadi juara kelas. Tentu saja hal ini tidak salah, tetapi tidak juga benar seratus persen. Karena beberapa penelitian justru menunjukan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan social dan kecerdasan spirituallah yang lebih berpengaruh bagi kesuksesan seorang anak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWAT MEMASUKI ERA MULTIPLE INTELLEGENCY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut Dr. Howard Garder, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 9 jenis kecerdasan yang meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Cerdas bahasa: cerdas dalam mengolah kata&lt;br /&gt;   2. Cerdas gambar: memiliki imajinasi tinggi&lt;br /&gt;   3. Cerdas musik: peka terhadap suara dan irama&lt;br /&gt;   4. Cerdas tubuh: trampil dalam mengolah tubuh dan gerak&lt;br /&gt;   5. Cerdas matematika dan logika: cerdas dalam sains dan berhitung&lt;br /&gt;   6. Cerdas sosial: kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain&lt;br /&gt;   7. Cerdas diri: menyadari kekuatan dan kelemahan diri&lt;br /&gt;   8. Cerdas alam: peka terhadap alam sekitar&lt;br /&gt;   9. Cerdas spiritual: menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan emosi  terdiri dari kecakapan, diantaranya: intapersonal intelligence dan interpersonal intelligence. Intapersonal intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan kita sendiri yang terdiri dari: kesadaran diri (keadaan emosi diri, penilaian pribadi, dan percaya diri); pengaturan diri (pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif); motivasi (dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis). Sedangkan interpersonal intelligence merupakan kecakapan berhubungan dengan orang lain yang terdiri dari: empati (memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis); keterampilan social (pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator, perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerja team).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi terhadap orang-orang yang sangat sukses menunjukan bahwa mereka juga memiliki cirri-ciri lain yang menonjol. Pertama, mereka mempunyai mimpi yang besar, tujuan yang jelas, dan teguh memegang mimpinya tersebut. Kedua, mereka tidak bekerja sendiria, mereka mampu memaafkan kekuatan yang ada di dalam dirinya maupun di sekeliling dirinya. Jadi, mereka mengembangkan dua kecerdasan lainnya sebagai pelengkap dari IQ-EQ-SQ. mereka mengembangkan kecerdasan yang disebut Kecerdasan Aspirasi (Aspiration Intelligence) dan Kecerdasan Kekuatan (Power Intelligence). Ternyata para oraang yang sukses mengembangkan lima kecerdasan dengan seimbang. Kelima kecerdasan ini kita sebut Kecerdasan SEPIA (Spiritual – Emotional – Power – intellectual – Aspiration).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar sukses dan bahagia, perawat memerlukan pengembangan kelima kecerdasannya. Sukses disini dalam arti yang luas, menyangkut financial, bisnis, karir, keluarga, kesehatan, pengembangan diri, kebahagiaan, dan semua tujuan yang berharga bagi manusia. Kelima kecerdasan ini merupakan refleksi dari karakter dan kompetensi. Kecerdasan aspirasi, spiritual, dan emosional mewakili karakter. Sedangkan kecerdasan intelektual dan pengelolaan kekuatan mewakili kompetensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APAKAH EMOTIONAL INTELLIGENCE ITU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kecerdasan emosional yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain dan kemampuan membin hubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan haati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana haati dan menjaga agar beban stess tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kemampuan seorang perawat untuk bisaa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam oraang-orang di sekelilingnya, mengikuti aturan-turan yang berlaku. Semua ini termasuk kunci keberhasilan bagi seorang perawat di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            EQ yang tinggi akan membantu seorang perawat dalam membangun relasi sosial dalam lingkungan keluarga, kantor, bisnis, maupun sosial. Bagi seorang perawat, kecerdasan emosional merupakan syarat mtlak. Lagi-lagi amat disayangkan, pendidikan kitaa miskin konsep dalam membantu mengembagkan EQ, bagi siswa maupun mahasiswa. Pelatihan EQ ini amat penting guna menumbuhkan iklim dialogis, demokratis, dan partisipatif karena semua menuntut adanya kedewasaan emosional dalam memahami dan menerima perbedaan. Pluralitas etnis, agama, dan budaya dialogis dan sikap empati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAGAIMANA CIRI PERAWAT YANG MEMILIKI EMOTIONAL INTELLIGENCE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perawat yang mempunyai kecerdasan emotional yang baik akan dapat dikenali melalui lima komponen dasar, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. self-awarenes (pengendalian diri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mampu mengenali emosi dan penyebab dari pemicu emosi tersebut. Jadi, dia mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan mendapatkan informasi untuk melakukan suatu tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. self-regulation (penguasaan diri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seseorang yang mempunyai pengendalian diri yang baik dapat lebih terkontrol dalam membuat tindakan agar lebih berhati0hati. Dia juga akan berusaha untuk tidak impulsive. Akan tetapi, perlu diingat, hal ini bukan berarti bahwa orang tersebut menyembunyikan emosinya melainkan memilih untuk tidak diatur oleh emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. self-motivation (motivasi diri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana, seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi tidaak akan bertanya “apa yang salah dengan saaya atau kita?”. Sebaliknya ia bertanya “apa yang dapat kita lakukan agar kita dapaat memperbaiki masalah ini?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   4. empathy (empati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemampuan untuk mengenali perasaan orang lain dan merasakan apaa yang orang lain rasakan jika dirinya sendiri yang berada pada posisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   5. effective relationship (hubungan yang efektif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengaan adanya empat kemampuan tersebut, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Kemampuan untuk memecahkan masalah bersama-sama lebih diteknkan dan bukan pad konfrontasi yng tidak penting yang sebenarnya daapat dihindari. Orang yang mempunyai tujuan yang konstruktif daalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perawat yang tidak mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi dpaat ditandai dengn hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitive dengan perasaan orang lain. Orng yang tidak mempunyai kecerdasan emosional tinggi, biasanya mempunyai kecenderungan untuk menyakiti dan memusuhi orng lain. Dalam dunia kerja, orang-orang yng mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi sangat diperlukan, terlebih dalam tim untuk mencapai tujuan tertentu. Karenanya, orng tua dn para guru harus memupuk kecerdasan emosional sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perawat dalam pekerjaan sehari-hari hamper selalu melibatkan perasaan dan emosi, sehingga setiap memberikan perawatan dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Secara khusus, para perawat home care membutuhkan kecerdasan emosi yang tinggi karena mereka mewakili organisaasi, berinteraksi dengan banyak orang, baik di dalam mupun di luar organisasi dan berperan penting dlam memahami kebutuhan orang tau keluarga yang dirawatnya dan dapat memberikan solusi atau feedback yng konstruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci keberhasilan hidup lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emotional, yaitu aspek-aspek yang berkaitan dengan kepribadian, yang di dalamnya setidaknya ada empat cirri pokok. Pertama, kemampuan seseorang memahami dan memotivasi potensi dirinya. Kedua, memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Ketiga, senang mendorong meliht nk buh sukses, tanpa dirinya merasa terancam. Keempat, agresif, yaitu terampil menyampaaikan pikiran dan perasaan dengan baik, lugas, dan jelas tanpa harus membuat orang lian tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawat dengan kemampuan emotional cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul. Melalui belajar kelompok dituntut untuk bekerjasama, megerti orang lain. Perawat merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang lain untuk memanusiakan dirinya. Perawat ingin dicintai, ingin diakui, dan dihargai. Berkeinginan pula untuk dihitung dan mendaapatkan tempat dalam kelompoknya. Jelas bahwa individualitas dan sosialitas merupakan unsure-unsur yang komplementer, saling mengisi dan melengkapi dalam eksistensi perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA YANG DIMAKSUD KECERDASAN SPIRITUAL  (SPIRITUAL QUOTION)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kecerdasan spiritual ialah suatu kecerdasan dimana kita berusaha menempatkan tindakan-tindakan dan kehidupan kita ke dalam suatu konteks yang lebih luas dan lebih kaya, serta lebih bermakna. Kecerdasan spiritual merupakan dasar yang perlu untuk mendorong berfungsinya secara efektif, baik Intelligence Quotient (IQ) maupun Emotional Intelligence (EI). Jadi, kecerdasan spiritual berkaitan dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Perawat yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandingkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Akhirnysmelalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita. Kunci bahagia adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual (SQ) berkait dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal, EQ merekatkan jalan membangun relasi social, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan, dan filsafat hidup seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA CIRI ORANG YANG MEMILIKI SPIRITUAL INTELLEGENCY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns: (1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan mental; (2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak; (3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari; (4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan (5) kemampuan untuk berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Perawat yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan mental. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semest. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan personalnya dalam salat malamnya, mendoakan kesembuhan luka kliennya, memulai tindakan dengan bismillah, mengisi waktu luang dengan sholat dluha, silaturahmi dengan keluarga klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Perawat yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkan dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi. Pada saat ganti balutan ia mengingat bahwa jutaan mikroba sudah diciptakan Allah sebulum manusia mengetahui obatnya penicillin. Sebelum manusia lahir penicillinpun sudah diciptakan Allah. Jadi, tugas perawat adalah berupaya memaknai bahwa mencari karunia Allah dalam membantu meringankan beban klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perawat diberitahu bahwa orang kantornya tidak akan sanggup menyekolahkannya, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau oaring itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman: “orang-orang yang sungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik yang kelima: perawatmemiliki rasa kasih yang tinggi pada sesame makhluk Tuhan. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terima kasih, bersikap rendah hati menunjukan kasih saying dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw: “amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesame manusia”&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA MENINGKATKAN SQ KLIEN ATAU PERAWAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dengan pengertian di atas, berikut ini secara singkat kiat-kiat untuk mengembangkan SQ bagai perawat kita: (1) jadilah kita suri tauladan yang baik, (2) bantulah klien untuk merumuskan “missi” hidupnya, (3) baca Kitab Suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita, (4) ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual, (50 diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah, (6) libatkan klien dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan, (7) bacakan puisi-puisi atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional, (8) ajak klien untuk menikmati keindahan alam, (9) bawa klien, keluarga atau anak ke tempat-tempat orang yang menderita, dan (10) ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA APLIKASI ESQ DALAM MANAJEMEN KONFLIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut Buchary A Rahman masalah pelayanan kepada klien dan cara perawat memenej konfliknya termasuk yang krusial yang mempengaruhi kemampuan perawat Indonesia masuk ke pasaran kerja Internasional. “contoh perawat Filipina, mereka merupakan perawat yang dicari di pasaran Internasional karena kemampuan melayani pasien dengan cara lebih memanusiakan pasien dengan kemampuan ESQ yang baik disamping karena factor kemampuan bahasa Inggris yang baik”. Sebab selain kecerdasan intelektual para perawat juga perlu memperhatikan kecerdasan emosional. “tak mudah putus asa, tak mudah marah, sabar, berbeda pendapat dengan santun, lebih mengacu pada santun, lebih mengacu pada solusi bukan pada konflik, merupakan contoh perawat yang mempunyai kecerdasan emosional”. Orang berobat ke Singapura atau ke Kucing bukan hanya karena tindakan medis di sana lebih baik, tetapi salah satu faktornya adalah karena sikap perawat di sana lebih familiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menghadapi konflik-konflik yang muncul berbekal kemampuan ESQ seperti yang sudah dibahas sebelumnya dengan tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perawat yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik akan dapat dikenali melalui lima komponen, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. pengenalan diri&lt;br /&gt;   2. penguasaan diri&lt;br /&gt;   3. motivasi diri&lt;br /&gt;   4. empati&lt;br /&gt;   5. hubungan yang efektif  &lt;br /&gt;http://mentalnursingunpad.multiply.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-586378865464712427?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/586378865464712427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=586378865464712427' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/586378865464712427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/586378865464712427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2009/01/esq-perawat.html' title='ESQ Perawat'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-5059812671319674408</id><published>2009-01-24T16:45:00.001-08:00</published><updated>2009-01-24T16:45:52.303-08:00</updated><title type='text'>Pneumioa</title><content type='html'>Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton &amp; Fugate, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab&lt;br /&gt;- Virus Influensa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Virus Synsitical respiratorik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Adenovirus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rhinovirus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rubeola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Varisella&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Micoplasma (pada anak yang relatif besar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pneumococcus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Streptococcus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Staphilococcus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;v Sesak Nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Batuk nonproduktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Ingus (nasal discharge)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Suara napas lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Retraksi intercosta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Penggunaan otot bantu nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Ronchii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Cyanosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Leukositosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pneumonia lobular&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bronchopneumonia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tinggal: Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Masuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Penyakit Dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sistem Integumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif : -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sistem Pulmonal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sistem Cardiovaskuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif : sakit kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sistem Neurosensori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sistem Musculoskeletal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif : lemah, cepat lelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sistem genitourinaria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif : -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif : produksi urine menurun/normal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sistem digestif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyektif : mual, kadang muntah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyektif : konsistensi feses normal/diare&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi Laboratorik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hb : menurun/normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah, kadar karbon darah meningkat/normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik : batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju nafas dalam rentang normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terdapat batuk, cyanosisi, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan suction secara bertahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Membantu pembersihan jalan nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Defisit Volume Cairan b.d :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Distress pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penurunan intake cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intake adekuat, baik IV maupun oral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adanya letargi, muntah, diare&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu tubuh dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catat intake dan output, berat diapers untuk output&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, muntah, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perubahan rasa nyaman b.d sakit kepala, nyeri dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Intoleransi aktivitas b.d distres pernafasan, latergi, penurunan intake, demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kecemasan b.d hospitalisasi, distress pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acton, Sharon Enis &amp; Fugate, Terry (1993) Pediatric Care Plans, AddisonWesley Co. Philadelphia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;posted by Iriyan Gunawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-5059812671319674408?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/5059812671319674408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=5059812671319674408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/5059812671319674408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/5059812671319674408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2009/01/pneumioa.html' title='Pneumioa'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-1038748996417469420</id><published>2009-01-24T16:20:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T16:26:14.433-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana Sarjana Keperawatan Kelak ????</title><content type='html'>Pembangunan bangsa adalah membangun manusianya, membangun manusia bukan hanya membangun raganya tapi juga jiwanya. Salah satu aspek yang ikut dibangun dalam pembangunan bangsa adalah pembangunan kesehatan, dan salah satu sub sistemnya adalah adalah keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau keperawatan dipandang sebagai suatu subsistem dari pembangunan kesehatan maka keperawatan harus ditempatkan pada suatu posisi yang sama dan sejajar dengan bidang lainnya, karena sedikit banyaknya pasti akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa ini, dan ini TIDAK PERLU DISANGKAL LAGI. Ada beberapa hal yang dapat kita tilik dari sisi awam tentang bagaimana peran perawat dan keperawatan seperti halnya dalam  pelayanan kesehatan dirumah sakit, puskesmas, klinik-klinik swasta dan lain sebagainya yang sebenarnya menunjukkan peran perawat terhadap pembangunan bangsa, dan membuktikan bahwa kerja tim kesehatan itu ada dan saling ketergantungan satu sama lainnya. Dengan demikian seyogyanya tidak ada satupun profesi kesehatan yang memposisikan diri lebih baik dari yang lainnya.Baca selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawat dalam menjalankan peran dan tanggungjawabnya sangat dituntut memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik yang dapat menunjang tindak prilaku profesionalnya . Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baik akan dapat diperoleh dalam lingkungan perguruan tinggi yang memiliki komitmen yang kuat untuk mencetak perawat yang profesional. Pertanyaannya adalah seberapa banyak perguruan tinggi yang memiliki komitmen seperti itu dan seberapa besar keinginan untuk mewujudkannya????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekade ini begitu banyak perguruan tinggi keperawatan yang berdiri dengan mekanisme yang ada. Perguruan tinggi ini tentunya memiliki andil dalam pembangunan bangsa utamanya dunia keperawatan untuk mencetak sumber daya keperawatan yang profesional, dan itu patut kita acungi jempol atas segala upayanya. Namun disatu sisi bahwa dengan maraknya perguruan tinggi keperawatan tersebut apakah sebanding dengan kualitas lingkup pendidikan yang disediakan untuk mencapai tujuannya??? Barangkali perlu ada lembaga independen yang dapat memberikan tolok ukur terhadap penyelenggaraan pendidikan keperawatan, layak atau tidak layak……………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa mesti demikian????Saya kira anda lebih mampu menjawabnya jika kita mencoba melibatkan nurani dan niat baik dalam memandang hakikat penyelenggaraan pendidikan keperawatan dan mencoba menerawang propektifitasnya, bukan hanya melihat kuantitasnya tetapi juga mempersiapkan kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa menangisnya dunia pendidikan (khususnya pendidikan keperawatan), jika kita menyaksikan penyelenggaraan pendidikan yang begitu terseok-seok, mahasiswa kurang dibekali dengan ketrampilan karena peralatan yang kurang, input pengetahuan kurang karena perpustakaan yang tidak memadai, moralitas terabaikan karena pembinaan moral dan teladan yang kurang. Lantas akan berakhir seperti apa? Kita jangan menyerahkannya kepada alam untuk menyeleksinya tetapi marilah memperkokoh tatanan yang ada dengan mewarnainya dengan akhlaq yang mulia mulai dari pendirian, penyelenggaraan, sampai pada pengawasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak demikian, jangan melemparkan bola api jika kita menghasilkan sumber daya yang tidak kompetitif, tidak profesional, dan tidak berakhlaq. Karena walaupun dilemparkan, niscaya bola api ini akan membakar kita di neraka kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana sarjana keperawatan kelak??? Silahkan anda menjawabnya masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-1038748996417469420?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/1038748996417469420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=1038748996417469420' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/1038748996417469420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/1038748996417469420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2009/01/bagaimana-sarjana-keperawatan-kelak.html' title='Bagaimana Sarjana Keperawatan Kelak ????'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-6023261195761194542</id><published>2008-12-29T20:51:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T20:53:30.364-08:00</updated><title type='text'>ALERGI MAKANAN</title><content type='html'>oleh; Ariyanto Harsono, Anang Endaryanto&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BATASAN&lt;br /&gt;Alergi makanan adalah kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan makanan. Alergi makanan di masyarakat merupakan istilah umum untuk menyatakan reaksi simpang terhadap makanan termasuk di dalamnya proses non-alergi yang sebenarnya lebih tepat disebut intoleransi. Intoleransi makanan merupakan reaksi terhadap makanan yang bukan reaksi imunologik, misalnya reaksi toksik, reaksi metabolik, dan reaksi indiosinkrasi.&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Faktor yang berperan dalam alergi makanan :&lt;br /&gt;• Imaturitas usus secara fungsional (misalnya dalam fungsi-fungsi : asam lambung, enzym-enzym usus, glycocalyx) maupun fungsi-fungsi imunologis (misalnya : IgA sekretorik) memudahkan penetrasi alergen makanan. Imaturitas juga mengurangi kemampuan usus mentoleransi makanan tertentu.&lt;br /&gt;• Genetik berperan dalam alergi makanan. Sensitisasi alergen dini mulai janin sampai masa bayi dan sensitisasi ini dipengaruhi oleh kebiasaan dan norma kehidupan setempat. &lt;br /&gt;• Faktor pencetus : faktor fisik (dingin, panas, hujan), faktor psikis (sedih, stress) atau beban latihan (lari, olah raga).&lt;br /&gt;Alergen dalam makanan :&lt;br /&gt;• Merupakan protein, glikoprotein atau polipeptida dengan besar molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan enzim proteolitik. &lt;br /&gt;• Pada ikan diketahui allergen-M sebagai determinan. Pada telur ovomukoid merupakan alergen utama. Pada susu sapi betalaktoglobulin (BLG), alfalalaktalbumin (ALA), bovin serum albumin (BSA) dan bovin gama globulin (BGG) merupakan alergen utama dan BLG adalah alergen terkuat. Pada kacang tanah alergen terpenting adalah arachin, conarachin dan peanut-1. Pada udang dikenal allergen-1 dengan berat molekul 21.000 dalton dan Allergen-2 dengan berat molekul 200.000 dalton. Pada gandum yang merupakan alergen utama adalah: albumin, pseudoglobulin dan euglobulin &lt;br /&gt;Terjadinya alergi makanan :&lt;br /&gt;• Pada paparan awal, alergen dikenali oleh sel penyaji antigen untuk selanjutnya mengekspresikan pada sel-T. Sel-T tersensitisasi dan akan merangsang sel-B menghasilkan antibodi dari berbagai subtipe. &lt;br /&gt;• Alergen yang intak diserap oleh usus dalam jumlah cukup banyak dan mencapai sel-sel pembentuk antibodi di dalam mukosa usus dan organ limfoid usus,yang pada anak atopi cenderung terbentuk IgE lebih banyak.Selanjutnya terjadi sensitisai sel mast pada saluran cerna, saluran nafas dan kulit. Kombinasi alergen dengan IgE pada sel mast bisa terjadi pada IgE yang telah melekat pada sel mast atau komplek IgE-Alergen terjadi ketika IgE masih belum melekat pada sel mast atau IgE yang telah melekat pada sel mast diaktifasi oleh pasangan non spesifik, akan menimbulkan degranulasi mediator. Pembuatan antibodi IgE dimulai sejak paparan awal dan berlanjut walaupun dilakukan diet eliminasi. Komplemen akan mulai mengalami aktivasi oleh kompleks antigen antibodi.&lt;br /&gt;• Pada paparan selanjutnya mulai terjadi produksi sitokin oleh sel-T. Sitokin mempunyai berbagai efek terhadap berbagai sel terutama dalam menarik sel-sel radang misalnya netrofil dan eosinofil, sehingga menimbulkan reaksi peradangan. Aktifasi komplemen dan terjadinya komplek imun akan menarik netrofil.&lt;br /&gt;• Gejala klinis yang timbul adalah hasil interaksi mediator, sitokin dan kerusakan jaringan yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;• Bayi atopi juga mendapat sensitisasi melalui makanan alergenik yang terkandung dalam air susu ibu. Bayi-bayi dengan alergi awal terhadap satu makanan misalnya susu, juga mempunyai resiko yang tinggi untuk berkembang menjadi alergi terhadap makanan lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;GEJALA KLINIK/Symptom&lt;br /&gt;Gejala klinis alergi makanan biasanya mengenai berbagai organ sasaran seperti kulit, saluran nafas, saluran cerna, mata, telinga, saluran vaskuler. Organ sasaran bisa berpindah-pindah, gejala sering kali sudah dijumpai pada masa bayi. Makanan tertentu bisa menyebabkan gejala tertentu pada seseorang anak, tetapi pada anak lain bisa menimbulkan gejala lain. Pada seseorang makanan yang satu bisa mempunyai organ sasaran yang lain dengan makanan yang lain, misalnya udang menyebabkan urtikaria, sedangkan kacang tanah menyebabkan sesak nafas. Susu sapi bisa menimbulkan gejala alergi pada saluran nafas, saluran cerna, kulit dan anafilaksis. Bischop (1990) mendapatkan pada penderita yang alergi susu sapi : 40% dengan gejala asma, 21% eksema, 43% dengan rinitis. Peneliti lain mendapatkan gejala alergi susu sapi berupa : urtikaria, angionerotik udem, pucat, muntah, diare, eksema dan asma.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;CARA PEMERIKSAAN/DIAGNOSIS &lt;br /&gt;Diagnosis alergi makanan diperoleh dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan secara akademis dipastikan dengan ”Double Blind Placebo Controlled Food Challenge”. Secara klinis bisa dilakukan uji eliminasi dan provokasi terbuka ”Open Challenge”. Pertama-tama dilakukan eliminasi dengan makanan yang dikemukakan sendiri oleh penderita atau orangtuanya atau dari hasil uji kulit. Kalau tidak ada perbaikan maka dipakai regimem diet tertentu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diagnosis dengan diet eliminasi&lt;br /&gt;Ada beberapa regimen diet yang bisa digunakan :&lt;br /&gt;1. ”ELIMINATION DIET”: beberapa makanan harus dihindari yaitu Buah, Susu, Telur, Ikan dan Kacang, di Surabaya terkenal dengan singkatan BSTIK. Merupakan makanan-makanan yang banyak ditemukan sebagai penyebab gejala alergi, jadi makanan-makanan dengan indeks alergenisitas yang tinggi. Indeks ini mungkin lain untuk wilayah yang lain, sebagai contoh dengan DBPFC mendapatkan telur, kacang tanah, susu sapi, ikan, kedelai, gandum, ayam, babi, sapi dan kentang, sedangkan Bischop mendapatkan susu, telur, kedelai dan kacang.&lt;br /&gt;2. ”MINIMAL DIET 1” (Modified Rowe’s diet 1): terdiri dari beberapa makanan dengan indeks alergenisitas yang rendah. Berbeda dengan ”elimination diet”, regimen ini terdiri dari beberapa bahan makanan yang diperbolehkan yaitu : air, beras, daging sapi, kelapa, kedelai, bayam, wortel, bawang, gula, garam dan susu formula kedelai. Bahan makanan lain tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;3. ”MINIMAL DIET 2” (Modified Rowe’s Diet 2): Terdiri dari makanan-makanan dengan indeks alergenisitas rendah yang lain yang diperbolehkan, misalnya : air, kentang, daging kambing, kacang merah, buncis, kobis, bawang, formula hidrolisat kasein, bahan makanan yang lain tidak diperkenankan.&lt;br /&gt;4. ”EGG and FISH FREE DIET”: diet ini menyingkirkan telur termasuk makanan-makanan yang dibuat dari telur dan semua ikan. Biasanya diberikan pada penderita-penderita dengan keluhan dengan keluhan utama urtikaria, angionerotik udem dan eksema. &lt;br /&gt;5. ”HIS OWN’S DIET”: menyingkirkan makanan-makanan yang dikemukakan sendiri oleh penderitanya sebagai poenyebab gejala alergi.&lt;br /&gt;Diet dilakukan selama 3 minggu, setelah itu dilakukan provokasi dengan 1 bahan makanan setiap minggu. Makanan yang menimbulkan gejala alergi pada provokasi ini dicatat. Disebut alergen kalau pada 3 kali provokasi menimbulkan gejala alergi. Waktunya tidak perlu berturut-turut. Jika dengan salah satu regimen diet tidak ada perbaikan padahal sudah dilakukan dengan benar, maka diberikan regimen yang lain. Sebelum memulai regimen yang baru, penderita diberi ”carnaval” selama seminggu, artinya selama 1 minggu itu semua makanan boleh dimakan (pesta). Maksudnya adalah memberi hadiah setelah 3 minggu diet dengan baik, dengan demikian ada semangat untuk menjalani diet berikunya. Selanjutnya diet yang berikutnya juga dilakukan selama 3 minggu sebelum dilakukan provokasi.&lt;br /&gt;Periksaan Penunjang&lt;br /&gt;• Uji kulit : sebagai pemerikasaan penyaring (misalnya dengan alergen hirup seperti tungau, kapuk, debu rumah, bulu kucing, tepung sari rumput, atau alergen makanan seperti susu, telur, kacang, ikan).&lt;br /&gt;• Darah tepi : bila eosinofilia 5% atau 500/ml condong pada alergi. Hitung leukosit 5000/ml disertai neutropenia 3% sering ditemukan pada alergi makanan. &lt;br /&gt;• IgE total dan spesifik: harga normal IgE total adalah 1000u/l sampai umur 20 tahun. Kadar IgE lebih dari 30u/ml pada umumnya menunjukkan bahwa penderita adalah atopi, atau mengalami infeksi parasit atau keadaan depresi imun seluler.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DIAGNOSA BANDING&lt;br /&gt;• Gangguan saluran cerna dengan diare dan atau mual muntah, misalnya : stenosis pilorik, Hirschsprung, defisiensi enzim, galaktosemia, keganasan dengan obstruksi, cystic fibrosis, peptic disease dan sebagainya.&lt;br /&gt;• Reaksi karena kontaminan dan bahan-bahan aditif, misalnya : bahan pewarna dan pengawet, sodium metabisulfite, monosodium glutamate, nitrit, tartrazine, toksin, fungi (aflatoxin), fish related (scombroid, ciguatera), bakteri (Salmonella, Escherichia coli, Shigella), virus (rotavirus, enterovirus), parasit (Giardia, Akis simplex), logam berat, pestisida, kafein, glycosidal alkaloid solanine, histamin (pada ikan), serotonin (pisang, tomat), triptamin (tomat), tiramin (keju) dan sebagainya.&lt;br /&gt;• Reaksi psikologis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN &lt;br /&gt;Identifikasi alergen dan eliminasi :&lt;br /&gt;• Diet eliminasi/provokasi adalah untuk diagnostik. Bila alergen telah diketemukan maka harus dihindari sebaik mungkin dan makanan-makanan yang tergolong hipoalergenik dipakai sebagai pengganti.&lt;br /&gt;• Pada bayi dari keluarga atopik, disarankan menunda pemberian makanan makanan yang dikenal sebagai makanan alergenik utama, dengan cara :&lt;br /&gt;o Eliminasi susu sapi sampai usia 1 tahun&lt;br /&gt;o Eliminasi telur sampai usia 18-24 bulan&lt;br /&gt;o Eliminasi kacang-kacangan dan ikan sampai usia 3 tahun&lt;br /&gt;Pencegahan :&lt;br /&gt;• Alergi tidak bisa disembuhkan, tapi dengan pencegahan yang efektif akan mengendalikan frekuensi dan intensitas serangan, penggunaan obat, jumlah hari absen sekolah, serta membantu memperbaiki kualitas hidup. &lt;br /&gt;• Pemberian ASI sangat dianjurkan. Pada bayi yang melakukan eliminasi makanan dan mendapat ASI, maka ibu juga harus pantang makanan penyebab alergi. Dengan eliminasi sebelumnya, alergi susu sapi menghilang pada kebanyakan kasus pada umur 2 tahun. Untuk pengganti susu sapi dapat dipakai susu hidrolisat whey atau hidrolisat casein. Pilihan lain adalah susu formula kedelai, dengan harus tetap waspada terhadap kemungkinan alergi terhadap kedelai. Pada bayi yang menderita alergi makanan derajat berat yang telah menggunakan formula susu hipoalergenik, bila ingin melakukan diet provokasi dengan susu formula sapi, harus dilakukan dirumah sakit, karena jika gagal ada kemungkinan terjadi renjatan anafilaksis. &lt;br /&gt;• Sayur mayur bisa dianjurkan sebagai pengganti buah, daging sapi atau kambing sebagai pengganti telur ayam dan ikan. &lt;br /&gt;• Makan di restoran kurang aman dan dianjurkan selalu membaca label bahan-bahan makanan jika membeli makanan jadi.&lt;br /&gt;• Desensitisasi pada alergi makanan tidak dilakukan sebab reaksinya hebat dan sedikit sekali bukti-bukti kerberhasilannya. Andaikata berhasil, selama desensitisasi penderita juga tetap harus menyingkirkan makanan penyebab serangan alergi itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengobatan&lt;br /&gt;Bila diet tidak bisa dilaksanakan maka harus diberi farmakoterapi dengan obat-obatan seperti yang tersebut di bawah ini :&lt;br /&gt;Kromolin, Nedokromil. &lt;br /&gt;Dipakai terutama pada penderita dengan gejala asma dan rinitis alergika. Kromolin umumnya efektif pada alergi makanan dengan gejala Dermatitis Atopi yang disebabkan alergi makanan. Dosis kromolin untuk penderita asma berupa larutan 1% solution (20 mg/2mL) 2-4 kali/hari untuk nebulisasi atau berupa inhalasi dengan metered-dose inhaler 1,6 mg (800 µg/inhalasi) 2-4 kali/hari. Untuk rinitis alergik digunakan obat semprot 3-4 kali/hari yang mangandung kromolin 5.2 mg/semprot. Untuk konjungtivitis diberikan tetes mata 4% 4-6 x 1 tetes mata/hari. Nedokromil untuk nebulisasi tak ada. Yang ada berupa inhalasi dengan metered-dose inhaler dan dosis untuk asma adalah 3,5 mg (1,75 mg/inhalasi) 2-4 kali/hari. Untuk konjungtivitis diberikan tetes mata nedokromil 2% 4-6 x 1-2 tetes mata/hari.&lt;br /&gt;Glukokortikoid.&lt;br /&gt;Digunakan terutama bila ada gejala asma. Steroid oral pada asma akut digunakan pada yang gejala dan PEF nya makin hari makin memburuk, PEF yang kurang dari 60%, gangguan asma malam dan menetap pada pagi hari, lebih dari 4 kali perhari, dan memerlukan nebulizer serta bronkodilator parenteral darurat. menggunaan bronkodilator. Steroid oral yang dipakai adalah : metil prednisolon, prednisolon dan prednison. Prednison diberikan sebagai dosis awal adalah 1-2 mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari sampai keadaan stabil kira-kira 4 hari kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4 kali/hari dalam 4-10 hari. Steroid parenteral digunakan untuk penderita alergi makanan dengan gejala status asmatikus, preparat yang digunakan adalah metil prednisolon atau hidrokortison dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul rumatan prednison oral. Steroid hirupan digunakan bila ada gejala asma dan rinitis alergika.&lt;br /&gt;Beta adrenergic agonist&lt;br /&gt;Digunakan untuk relaksasi otot polos bronkus. Epinefrin subkutan bisa diberikan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis. &lt;br /&gt;Metil Xantin&lt;br /&gt;Digunakan sebagai bronkodilator. Obat yang sering digunakan adalah aminofilin dan teofilin, dengan dosis awal 3-6/kg/dosis, lanjutan 2,5 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam.&lt;br /&gt;Simpatomimetika&lt;br /&gt;• Efedrin : 0,5 – 1,0 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam&lt;br /&gt;• Orciprenalin : 0,3 – 0,5 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam&lt;br /&gt;• Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam&lt;br /&gt;• Salbutamol : 0,1 – 0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam&lt;br /&gt;Leukotrien antagonis &lt;br /&gt;LTC4 dan LTD4 menimbulkan bronkokonstriksi yang kuat pada manusia, sementara LTE4 dapat memacu masuknya eosinofil dan netrofil ke saluran nafas. Dapat digunakan pada penderita dengan asma persisten ringan. Namun pada penelitian dapat diberikan sebagai alternatif peningkatan dosis kortikosteroid inhalasi, posisi anti lekotrin mungkin dapat digunakan pada asma persisten sedang, bahkan pada asma berat yang selalu membutuhkan kortikosteroid sistemik, digunakan dalam kombinasi dengan xantin, beta-2-agonis dan steroid. Preparat yang sudah ada di Indonesia adalah Zafirlukast yang diberikan pada anak sebesar 20 mg/dosis 2 kali/24jam.&lt;br /&gt;H1-Reseptor antagonis&lt;br /&gt;H1 reseptor antagonis generasi kedua tidak ada efek samping CNS. Setirizin bisa digunakan pada anak mulai umur 1 tahun dan tidak ada efek samping kardiovaskular, dapat digunakan jangka lama. H1 reseptor antagonis generasi pertama efek antikolinergiknya dapat memperburuk gejala asma karena pengentalan mukus. Pada dosis tinggi efek samping pada CNS sangat membatasi penggunaanya dalam pengobatan asma. Beberapa penelitian membuktikan efektifitas. Difenhidramin diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam. CTM diberikan dengan dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam. Setirizin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; &gt; 6 tahun : 5-10 mg/dosis,1 kali/hari. Loratadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun : 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; &gt; 6 tahun : 10 mg/dosis,1 kali/hari. Feksofenadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30 mg/hari, 2 kali/hari; &gt; 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180 mg/hari, 4 kali/hari. Azelastine, dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 5-11 tahun : 1 semprotan 2 kali/hari; &gt; 12 tahun : 2 semprotan, 2 kali/hari. Pseudoephedrine, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-6 tahun : 15 mg/hari, 4 kali/hari; 6-12 tahun : 30 mg/hari, 4 kali/hari; &gt; 12 tahun : 60 mg/hari 4 kali/hari. Ipratropium bromide 0.03% 2 semprotan, 2-3 kali/hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PROGNOSIS &lt;br /&gt;Alergi makanan yang mulai pada usia 2 tahun mempunyai prognosis yang lebih baik karena ada kemungkinan kurang lebih 40% akan mengalami grow out. Anak yang mengalami alergi pada usia 15 tahun ke atas cenderung untuk menetap.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Sampson HA, Leung DYM. Adverse reaction to Foods. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB (eds): Textbook of Pediatrics. 17th Ed Philadelphia, WB Saunders 2004. pp. 789-792.&lt;br /&gt;2. Sampson HA. Food allergy. J Allergy Clin Immunol, 2004; 111 : S540-7.&lt;br /&gt;3. American Academy of Pediatrics, Committee on Nutrition : Hypoallergenic infant formulas. Pediatrics 2000; 106 : 346-49. &lt;br /&gt;4. Sicherer SH: Diagnosis and management of childhood food allergy. Curr Probl Pediatr 2001; 31 : 35-57. &lt;br /&gt;5. Wahn U, Nickel R, Illi S, Lau S, Grubber C, Hamelmann E, 2004. Strategies for early prevention of allergic disorders. Clin Exp All Rev; 4 : 194-199.&lt;br /&gt;http://ummusalma.wordpress.com/2007/02/17/alergi-makanan/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-6023261195761194542?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/6023261195761194542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=6023261195761194542' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6023261195761194542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6023261195761194542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/12/alergi-makanan.html' title='ALERGI MAKANAN'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-2508121966755016719</id><published>2008-12-28T06:55:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T07:01:19.481-08:00</updated><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan. Dua puluh tahun lalu, seorang dengan luka bakar 50% dari luas permukaan tubuh dan mengalami komplikasi dari luka dan pengobatan dapat terjadi gangguan fungsional, hal ini mempunyai harapan hidup kurang dari 50%. Sekarang, seorang dewasa dengan luas luka bakar 75% mempunyai harapan hidup 50%. dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk memulangkanpasien dengan luka bakar 95% yang diselamatkan. Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius.&lt;br /&gt;Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan khusus yang berbeda. Karakteristik ini meliputi luasnya, penyebab(etiologi) dan anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan permukaan tubuh yang besar atau yang meluas ke jaringan yang lebih dalam, memerlukan tindakan yang lebih intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superficial. Luka bakar yang disebabkan oleh cairan yang panas (scald burn) mempunyai perbedaan prognosis dan komplikasi dari pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau paparan radiasi ionisasi. Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan yang berbeda dibandingkan karena sengatan listrik (elektrik) atau persikan api. Luka bakar yang mengenai genetalia menyebabkan resiko nifeksi yang lebih besar daripada di tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar pada kaki atau tangan dapat mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan memerlukan tehnik pengobatan yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang lain. Pengetahuan umum perawat tentang anatomi fisiologi kulit, patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk mengenal perbedaan dan derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk mengantisipasi harapan hidup serta terjadinya komplikasi multi organ yang menyertai.&lt;br /&gt;Prognosis klien yang mengalami suatu luka bakar berhubungan langsung dengan lokasi dan ukuran luka bakar. Faktor lain seperti umur, status kesehatan sebelumnya dan inhalasi asap dapat mempengaruhi beratnya luka bakar dan pengaruh lain yang menyertai. Klien luka bakar sering mengalami kejadian bersamaan yang merugikan, seperti luka atau kematian anggota keluarga yang lain, kehilangan rumah dan lainnya. Klien luka bakar harus dirujuk untuk mendapatkan fasilitas perawatan yang lebih baik untuk menangani segera dan masalah jangka panjang yang menyertai pada luka bakar tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi&lt;br /&gt;Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi&lt;br /&gt;1. Luka Bakar Suhu Tinggi(Thermal Burn)&lt;br /&gt;a. Gas&lt;br /&gt;b. Cairan&lt;br /&gt;c. Bahan padat (Solid)&lt;br /&gt;2. Luka Bakar Bahan Kimia (hemical Burn)&lt;br /&gt;3. Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)&lt;br /&gt;4. Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase Luka Bakar&lt;br /&gt;A. Fase akut.&lt;br /&gt;Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum pada fase ini, seorang penderita akan berada dalam keadaan yang bersifat relatif life thretening. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.&lt;br /&gt;Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok (terjadinya ketidakseimbangan antara paskan O2 dan tingkat kebutuhan respirasi sel dan jaringan) yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih ditingkahi denagn problema instabilitas sirkulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Fase sub akut.&lt;br /&gt;Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:&lt;br /&gt;1. Proses inflamasi dan infeksi.&lt;br /&gt;2. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.&lt;br /&gt;3. Keadaan hipermetabolisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Fase lanjut.&lt;br /&gt;Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.&lt;br /&gt;1. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Sebagian klien luka bakar dapat terjadi Diagnosa Utama dan Diagnosa Tambahan selama menderita luka bakar (common and additional). Diagnosis yang lazim terjadi pada klien yang dirawat di rumah sakit yang menderila luka bakar lebih dari 25 % Total Body Surface Area adalah :&lt;br /&gt;1. Penurunan Kardiak Output berhubungan dengan peningkatan permiabilitas kapiler.&lt;br /&gt;2. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan ketidak seimbangan elektrolit dan kehilangan volume plasma dari pembuluh darah.&lt;br /&gt;3. Perubahan Perfusi Jaringan berhubungan dengan Penurunan Kardiak Output dan edema.&lt;br /&gt;4. Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan kesukaran bernafas (Respiratory Distress) dari trauma inhalasi, sumbatan (Obstruksi) jalan nafas dan pneumoni.&lt;br /&gt;5. Perubahan Rasa Nyaman : Nyeri berhubungan dengan paparan ujung syaraf pada kulit yang rusak.&lt;br /&gt;6. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan luka bakar.&lt;br /&gt;7. Potensial Infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.&lt;br /&gt;8. Perubahan Nutrisi : Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan peningkatan rata-rata metabolisme.&lt;br /&gt;9. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan luka bakar, scar dan kontraktur.&lt;br /&gt;10. Gangguan Gambaran Tubuh (Body Image) berhubungan dengan perubahan penampilan fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien luka bakar mungkin dapat terjadi Diagnosa Resiko dari satu atau lebih Diagnosa keperawatan berikut :&lt;br /&gt;1. Ketidakefektifan coping keluarga berhubungan dengan kehilangan rumah, keluarga atau yang lain.&lt;br /&gt;2. Ketidakefektifan pertahanan coping individu berhubungan dengan situasi krisis.&lt;br /&gt;3. Kecemasan berhubungan dengan ancaman kematian, situasi krisis dan kehilangan pengendalian.&lt;br /&gt;4. Takut berhubungan dengan nyeri, prosedur terapi dan keadaan masa depan yang tidak diketahui.&lt;br /&gt;5. Kelebihan cairan berhubungan dengan pemberian cairan intra vena yang terlalu banyak.&lt;br /&gt;6. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan nyeri, kontraktur dan kehilangan fungsi pada ekstrimitas dan bagian tubuh lain.&lt;br /&gt;7. Gangguan fungsi (disfungsi) seksual berhubungan dengan luka bakar perineum, genetalia, payudara, imobilisasi, kelelahan, depresi dan gangguan dalam gambaran diri (body image).&lt;br /&gt;8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, cara pengobatan dan lingkungan yang gaduh.&lt;br /&gt;9. Isolasi sosial berhubungan dengan cara pengobatan dan perubahan dalam penampilan fisik.&lt;br /&gt;10. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan gagal ginjal dan terapi obat.&lt;br /&gt;11. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pengaruh luka bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilynn E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for planning and documenting patient care mengemukakan beberapa Diagnosa keperawatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1 Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada.&lt;br /&gt;2 Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan.&lt;br /&gt;3 Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.&lt;br /&gt;4 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.&lt;br /&gt;5 Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.&lt;br /&gt;6 Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena, contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema.&lt;br /&gt;7 Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik (sebanyak 50 % - 60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.&lt;br /&gt;8 Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.&lt;br /&gt;9 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam).&lt;br /&gt;10 Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi; kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan dan nyeri.&lt;br /&gt;11 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 1293 – 1328.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carolyn, M.H. et. al. (1990). Critical Care Nursing. Fifth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 752 – 779.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2 (terjemahan). PT EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges M.E. (1989). Nursing Care Plan. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). F.A. Davis Company. Philadelpia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donna D.Ignatavicius dan Michael, J. Bayne. (1991). Medical Surgical Nursing. A Nursing Process Approach. W. B. Saunders Company. Philadelphia. Hal. 357 – 401.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goodner, Brenda &amp; Roth, S.L. (1995). Panduan Tindakan Keperawatan Klinik Praktis. Alih bahasa Ni Luh G. Yasmin Asih. PT EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyton &amp; Hall. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudak &amp; Gallo. (1997). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik. Volume I. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya. (2001). Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB V) Tema: Asuhan Keperawatan Luka Bakar Secara Paripurna. Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane, B. (1993). Accident and Emergency Nursing. Balck wellScientific Peblications. London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Sjamsuhidajat, Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senat Mahasiswa FK Unair. (1996). Diktat Kuliah Ilmu Bedah 1. Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sylvia A. Price. (1995). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4 Buku 2. Penerbit Buku Kedokteran Egc, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-2508121966755016719?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/2508121966755016719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=2508121966755016719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/2508121966755016719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/2508121966755016719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/12/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-5976586897044905801</id><published>2008-12-22T17:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T22:47:05.905-08:00</updated><title type='text'>IBU</title><content type='html'>Engkau adalah wanita termegah,&lt;br /&gt;yang berkorban tanpa lelah...&lt;br /&gt;engkau adalah wanita terkasih,&lt;br /&gt;yang tak kan pernah tersisih...&lt;br /&gt;di sari batinku...&lt;br /&gt;untuk selamanya...&lt;br /&gt;dalam ada dan tiada...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU.......&lt;br /&gt;Samudra cintamu,&lt;br /&gt;Mengalir dalam tiap hela nafasku...&lt;br /&gt;Do’a sucimu,&lt;br /&gt;Mengiringi irama detak jantungku...&lt;br /&gt;Kasih sayangmu,&lt;br /&gt;Menghangatkan dingin jiwaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU......&lt;br /&gt;Air matamu adalah mutiara syurga...&lt;br /&gt;Air yang slalu mengalir,&lt;br /&gt;Ketika ku lemah terbaring...&lt;br /&gt;Air yang membuncah,&lt;br /&gt;Ketika ku terkena musibah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU.......&lt;br /&gt;Diatas syurgaku kau tegap mulia...&lt;br /&gt;Di kehidupanku kau adalah malaikat dunia, &lt;br /&gt;Dari Tuhan...&lt;br /&gt;untuk membimbingku mengenal-Nya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU.......&lt;br /&gt;Ijinkan ku berbakti padamu...&lt;br /&gt;Setelah ku tunduk pada ALLOH, Tuhanku...&lt;br /&gt;Setelah ku tunduk pada MUHAMMAD Rosulku...&lt;br /&gt;Aku tunduk padamu IBU...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ALLOH...&lt;br /&gt;Tuhan yang menggenggam jiwa semua manusia...&lt;br /&gt;Tuhan yang berkuasa atas yang nyata dan kasat mata...&lt;br /&gt;Tuhan yang maha kaya atas apapun juga...&lt;br /&gt;Tuhan yang pada-Mu segala puji tertuju...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ALLOH...&lt;br /&gt;Ampuni hamba yang tlah lama berslimut dosa...&lt;br /&gt;Ampuni IBU hamba dan jadikan dia bidadari syurga...&lt;br /&gt;Sayangi dan kasihi IBU hamba,&lt;br /&gt;Melebihi kasih dan sayangnya pada hamba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ALLOH...&lt;br /&gt;Tiada kesulitan bahkan kerugian secuilpun untuk-Mu,&lt;br /&gt;Jika mengabulkan apa yang hamba minta...&lt;br /&gt;Hamba mohon penuhilah doa hamba untuk IBU hamba...&lt;br /&gt;AMIN........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 desember 2008, hari IBU....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai persembahan untuk Wanita yang mencintaiku, &lt;br /&gt;menyeyangiku, &lt;br /&gt;dalam senang dan sedih...&lt;br /&gt;wanita yang slalu memberi inspirasi, &lt;br /&gt;wanita yang slalu memotivasi,&lt;br /&gt;wanita yang dengan doa dan pengorbanannya aku bisa seperti ini...&lt;br /&gt;tapi tak pernah sekalipun aku membahagiakannya selain menjaga diriku tetap sehat agar dia bahagia...&lt;br /&gt;aku akan berusaha membahagiakan nya....&lt;br /&gt;dialah satu-satunya harapan yang membuatku tetap tegar menghadapi semua urusan...&lt;br /&gt;dialah IBU....&lt;br /&gt;takzimku pada mu IBU...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-5976586897044905801?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/5976586897044905801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=5976586897044905801' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/5976586897044905801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/5976586897044905801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/12/ibu.html' title='IBU'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-8602040129027721561</id><published>2008-12-15T18:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T19:06:18.879-08:00</updated><title type='text'>Menjaga Kesehatan Kulit</title><content type='html'>Kulit yang sehat akan membuat membuat orang terlihat lebih segar dan muda. Terutama bagi kaum perempuan yang ingin terlihat cantik dan awet muda, maka kesehatan kulit salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Merokok&lt;br /&gt;Merokok akan merusak sirkulasi kecil dalam kulit, sehingga membuat kulit kelihatan kusam dan tidak cerah. Akan menambah keriput pada kulit, terutama pada kulit di sekitar mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diet Seimbang&lt;br /&gt;Diet dengan makanan yang sehat secara seimbang, mengandung banyak sayuran dan buah untuk memenuhi kecukupan vitamin, mineral dan anti oksidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olahraga&lt;br /&gt;Olahraga yang teratur akan membuat kulit sehat dan berat badan yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur yang cukup&lt;br /&gt;Tidur sangat diperlukan untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak, termasuk sel-sel kulit. Membuat kulit dan tubuh kembali segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangi Konsumsi Alkohol&lt;br /&gt;Konsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat merusak hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lindungi dari Sinar Matahari&lt;br /&gt;Bahaya dari sinar matahari ialah sinar ultraviolet A yang dipancarkannya, yang dapat merusak jaringan kolagen kulit. Kulit akan menipis dan mudah untuk terjadi keriput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atasi Stres&lt;br /&gt;Stres selain dapat merusak kesehatan, juga akan berpengaruh pada wajah dan bentuk tubuh anda. (cy)&lt;br /&gt;http://www.resep.web.id/tips/menjaga-kesehatan-kulit.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-8602040129027721561?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/8602040129027721561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=8602040129027721561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8602040129027721561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8602040129027721561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/12/menjaga-kesehatan-kulit.html' title='Menjaga Kesehatan Kulit'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-6632968353395601655</id><published>2008-12-15T18:41:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T18:42:49.665-08:00</updated><title type='text'>PROFIL PERAWAT MASA KINI; BAK MEMAKAN BUAH SIMALAKAMA</title><content type='html'>Perawat kontemporer menuntut perawat yang memiliki pengetahuan dan ketram pilan dalam berbagai bidang. Dulu peran perawat inti adalah memberikan perawatan dan kenyamanan karena mereka menjalankan perawatan spesifik, tapi seka rang hal ini telah berubah. Peran perawat sudah menjadi lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif. Pera wat masa kini menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi kepe rawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, pembuat kenyamanan, komunikator dan pendidik.(Potter-Perry).&lt;br /&gt;Statemen diatas sudah sebaiknya menjadi iktibar bagi kita-kader keperawatan tan ah air- untuk memahami tujuan kerja kita yang tidak sebatas melakukan technical saja tapi sudah menyentuh berbagai bidang.&lt;br /&gt;Bak jauh panggang dengan api, di lapangan kita bisa melihat kondisi keseharian kerja perawat. Banyak ditemu kan laporan bahwa pe rawat dikenal sebagai sosok yang menakutkan, tidak tahu sopan-santun dalam menangani pasien dan berbagai ungkapan miring lainnya. Perawat yang notabene telah bekerja lebih banyak dari dokter karena 24 jam selalu bertemu dengan pa sien, juga harus menghadapi berbagai kepedihan seperti laporan tindakan pemukulan oleh keluarga pasien yang tidak puas dengan asuhan keperawatan yang diberikan, lalu gaji yang diberi kan juga dibawah standar. Ibarat memakan buah simalakama, perawat men jadi serba-salah dalam melakukan tindakan apapun.&lt;br /&gt;Padahal, keperawatan sudah dianggap sebagai satu profesi, bukan lagi sejumlah ketrampilan khusus dan seorang perawat bukan hanya seorang yang dilatih dengan keah lian tertentu. Keperawatan adalah sebuah profesi. Profesi memiliki beberapa karakteristik utama seperti:&lt;br /&gt;1 Adanya pendidikan lanjutan dari anggotanya, demikian pula landasan dasarnya&lt;br /&gt;2 Mempunyai kerangka pengetahuan teoretis yang mengarah pada skill, kemampu an dan norma tertentu.&lt;br /&gt;3. Memberikan pelayanan tertentu&lt;br /&gt;4. Anggota suatu profesi memiliki otonomi untuk membuat keputusan dan mela kukan tindakan&lt;br /&gt;5. Profesi sebagai satu kesatuan memiliki kode etik untuk melakukan praktik kepera watan.&lt;br /&gt;Sudah jelas, keperawatan memiliki semua hal tersebut diatas. Akan tetapi, ki ni kita dihadapkan bahwa keperawatan hanya sebatas profesi, belum menyentuh aspek yang demikian lengkap seperti organisasi keperawatan di berbagai negara lainnya. Padahal, u sia keperawatan di Indonesia sudah sama tuanya dengan usia republik ini, wa lau dulu di kenal sebagai paramedis yang bertugas merawat korban perang disamping keberadaan dokter yang lebih dulu mujur dengan didirikannya STOVIA sebagai sekolah kedokteran pertama di Indonesia dengan CBZ (RS.CIPTO MANGUNKUSUMO saat ini-red) seba gai RS akademika-nya. Tapi bukan berarti dengan hal seperti itu membuat kita beralasan bahwa keperawatan di tanah air terus berada dalam ketertinggalan dan mematuhi sifat pe simisme. Sudah saatnya kita melakukan perubahan dan reformasi misi hingga visi 2010 menjadi kenyataan bagi kita selaku kader keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;http://andibloggersejati.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-6632968353395601655?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/6632968353395601655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=6632968353395601655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6632968353395601655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6632968353395601655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/12/profil-perawat-masa-kini-bak-memakan.html' title='PROFIL PERAWAT MASA KINI; BAK MEMAKAN BUAH SIMALAKAMA'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-229637518779286057</id><published>2008-12-15T18:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T18:38:29.316-08:00</updated><title type='text'>Tips Merawat Kulit</title><content type='html'>Kulit merupakan bagian tubuh kita yang bersentuhan langsung dengan segala hal di luar tubuh, seperti misalnya cuaca, sinar matahari atau yang lainnya. Dan kulit kita merupakan hal pertama yang terlihat, saat kita mulai mengalami penuaan. Jadi sudah sewajarnya kita patut melakukan perawatan pada kulit. Berikut kami sampaikan beberapa tips perawatan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan Terhadap Matahari - Matahari memiliki peran utama dalam merusak kulit. Anda perlu melindungi kulit dari matahari guna mencegah penuaan pada kulit. Matahari sangat berpengaruh dalam membuat kulit berkerut, kering, dan membuat warna kulit berubah; Penjarangan kulit, tekstur kulit, penipisan kulit serta penyakit kulit yang berhubungan dengan paparan sinar matahari dapat membuat kulit Anda nampak jauh lebih tua. Jadi, mulailah melindungi kulit dengan krem pelindung matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari Merokok - Tips ini terutama bagi kaum pria, karena populasi dari perokok terbesar di dunia adalah pria. Merokok bukan hanya menyebabkan kanker paru-paru, tapi juga dapat membuat kulit kusam dan berkerut. Menurut beberapa penelitian terdapat dugaan kuat kalau nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki pengaruh yang sama layaknya elastin pada matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berolahraga - Sejalan dengan bertambahnya usia, sangatlah mustahil menyembunyikan tanda-tanda penuaan di balik kulit. Leher, pipi dan sudut mata merupakan bagian yang paling mudah terlihat saat usia bertambah tua. Demi memperbaiki penampilan kulit, kita mesti menyeimbangkan antara diet dan latihan secara teratur. Selain Anda juga harus rajin minum air putih, paling sedikit delapan hingga sepuluh gelas setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum Memiliki Manfaat Ajaib - Wajah kita cenderung menyesuaikan pada posisi dari ekspresi yang kita bawa sepanjang waktu. Jika Anda lebih sering cemberut atau marah-marah, kulit Anda-pun akan lebih cenderung cepat berkerut, terutama di area mata, garis dan sudut bibir atau garis-garis lain yang mengikuti ekspresi saat cemberut. Sebuah senyum dapat membuat keajaiban bagi kulit Anda dan membuat awet muda pula. Jadi untuk mengindari jadi cepat tua, yang perlu Anda lakukan hanya lebih banyak tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan Kulit - Merawat kulit merupakan hal yang sangat penting. Anda harus segera mencuci wajah setiap kali sehabis keluar di bawah terik matahari. Menggosok kulit dengan peeling secara teratur, setidaknya seminggu 2 kali, akan membantu mengangkat sel-sel kulit mati dan kotoran yang menempel, sehingga kulit dapat lebih leluasa bernafas dan lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Tidur - Tidur dengan posisi telungkup dapat menyebabkan kerut. Selain itu hindari tidur dengan posisi tetap sepanjang malam, hal ini dapat menyebabkan kulit Anda kusut. Dan Anda perlu tidur setidaknya 8 jam setiap hari. &lt;br /&gt;KapanLagi.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-229637518779286057?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/229637518779286057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=229637518779286057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/229637518779286057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/229637518779286057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/12/tips-merawat-kulit.html' title='Tips Merawat Kulit'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-8466522349843024623</id><published>2008-11-26T18:33:00.001-08:00</published><updated>2008-11-26T18:36:54.060-08:00</updated><title type='text'>Pregnant and Born/Hamil dan Lahir</title><content type='html'>&lt;p class="teksindo"&gt;Seperti hampir semua anak kecil di dunia, daku pernah bertanya-tanya, dari manakah datangnya seorang anak? Dan daku pernah mempunyai konsep yang amat sangat indah. Menurut pikiran daku yang waktu itu belum mengenal istilah pembuahan ataupun proses-proses kenikmatan yang mendahuluinya, anak dihasilkan dari pengharapan.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;Like almost every child in this world, I was also questioning (wondering) where the babies come from. And I have a beautiful theory — from my innocent thought, which for sure at that time still don't know what the fertilization process is, or the pleasure activity preceding before it — a child comes from hope. &lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Saat sepasang suami-istri menikah, maka diberkatilah mereka. Mereka akan saling mengasihi dan berdoa bersama akan datangnya seorang anak. Oleh karena itu, tidak jarang kita akan mendengar perkataan, "Mereka masih menunggu datangnya seorang anak dalam kehidupan mereka." Bah, kenapa pakai kata-kata seperti itu? Kesannya terlalu saru. Sampai-sampai muncullah pemikiran bahwa seorang anak tiba-tiba 'diselipkan' begitu saja ke rahim seorang istri. Belakangan aku baru tahu kalau seorang anak itu bukan ditunggu kedatangannya, tapi 'diusahakan'.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;When a man and a woman are blessed to become husband and wife, they shall love each other, and then pray together for a coming of a child. Because of that, we are often hear a lot of people say that the couple's hope of getting a child hasn't been granted yet — or they are still hoping (waiting) for a child to enter their life. Walae, why do we use those expression? It seems so ambiguous and made me think that a child can just be slipped into a woman's womb. Finally, I knew that a a child is not for us to wait but it is for us to work out... :)&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Yah mungkin juga aku bisa berpikir seperti itu karena dulu belum tahu ada kasus yang istilahhnya 'hamil di luar nikah', 'kecelakaan' ataupun unwanted child. (Lah kalau memang anak didatangkan dengan doa, tentunya atas persetujuan Tuhan dong. Dengan kata lain yang bisa hamil itu cuma istri-istri dari pasangan yang diberkati di tempat ibadah secara agama dan direstui oleh seluruh sanak keluarga). Waktu itu juga sepertinya gelar MBA (Married By Accident) belum begitu populer.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;Perhaps it was caused by my naive thinking, I didn't recognize a case of woman got pregnant out of wedlock, "accident" or even "unwanted child." If a child comes from a granted pray so it must comes from GOD's approval. Thus, all wives that are expecting baby is only the blessed ones from all churches, temples, mosque, etc. and must also blessed by the entire family — as at the time, when I was a kid — no such things as MBA (Married By Accident) or that phrase was not (too) popular.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Tapi aku pernah mendengar sebuah berita di televisi yang mengubah konsep 'anak datang dari doa'. Kalau tidak salah ingat, berita tersebut tentang seorang guru yang amat sangat genit dan sangat 'dekat dan akrab' dengan muridnya. (dekat dalam arti, Sangat... dekat sekali dalam makna denotasi)&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;My concept — a child comes form hope — suddenly changed when I was watching a local news on the TV. If I remembered correctly, it was about a flirty high school teacher, famous to be close to his student — close in the meaning 'too close' in a denotation meaning.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Nah kira-kira laporan yang dibacakan oleh narator (atau apalah namanya yang baca berita pas dikasih gambar) itu berbunyi, "Tersangka terkenal suka memegang-megang siswi. Ada yang pipinya dielus, bahkan ada yang hamil." Sudah bisa ditebak ada yang ada di pikiran daku waktu itu?&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;The news anchor (the person who read the story when you can see the illustration picture) was telling that the teacher loves to touch the girls. He loves to touch the cheek of the girls and even one of them gets pregnant... Can you guess how wild my imagination is when I heard that news?&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;&lt;i&gt;"Oh... ternyata mengelus pipi bisa berefek samping hamil!!!&lt;/i&gt;" Pikiran daku tidak berhenti di sana, lalu aku mengambil satu kesimpulan teori: "Sentuhan seorang lelaki bisa meresap ke dalam kulit dan akhirnya tiba di perut? Membesar, membesar, dan akhirnya menjadi seorang bayi?" Bahaya bener... Pantesan orang-orang tua selalu bilang, "Ati-ati, jangan tidur sama lelaki!!" Wah, berarti pas tidur seranjang, sebelah-sebelahan, tiba-tiba tengah malam nanti ada 'sesuatu' yang tiba-tiba merayap keluar dari si jantan dan menyusup ke perut betina? Dan DUING!!! Mengembanglah perut sang betina. Tapi, belakangan (saat daku kira-kira udah SMA) tante daku malah bilang, "Tidur sama cowok itu gak papa. Asal bener tidur bareng ya. Kalau gak tidur, nah, itulah yang bahaya!" Hm... ada benarnya juga sih.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;&lt;i&gt;"Oh... so you can get pregnant if a man touch your cheek!!!&lt;/i&gt;" And my imagination didn't stop at that point. I concluded that a touch of a man can really go through into your skin and then turn up on your tummy. After that, it's getting bigger and bigger, and finally became a baby!! Wow... it's so dangerous... no wonder parents always says to their daughter, "Be careful, don't sleep with a man!!!" Wa... does it mean that if a man and a woman sleep side by side, then something will crawl slowly in the midnight from a man and will slip to a woman's tummy? And then, DUNG!!! The woman's tummy blows up. But, when I was in senior high school, my auntie said, "It's OK to sleep side by side with a man as long as you REALLY sleep!!! If you don't sleep... thus... IT IS DANGEROUS!!!". Hmm, it's quite true.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Oh iya, ngomong-ngomong. Kalau dilihat di komik ataupun di film kartun, ada yang menceritakan bahwa bayi itu didatangkan oleh burung besar! (entah jenis apa dan dari mana) Wah... kalau dipikir-pikir, aneh juga ya cerita ini, kira-kira masih ada anak kecil yang percaya gak ya? Soalnya menurut fakta, banyak hewan termasuk burung tentunya, terancam punah karena ekspansi wilayah yang dilakukan manusia ke habitat mereka di alam. Lalu di mana letak logikanya kalau pembawa kelahiran itu sendiri terancam punah sementara manusia malah semakin banyak? Yah, mungkin memang seharusnya cerita film kartun tidak boleh dianggap serius.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;By the way, comics or cartoons are often tell us that a big bird (a type of crane?) will bring the babies... This story, according to me, is quite funny... do you think that many children still believe that? It's funny for me since, as you know, that a lot of animal, including birds are already in the rare category... almost gone because of human's expansion to their environment in the nature. So, where is the logical thinking, if the carrier itself are almost gone but human are getting more and more? Yeah, maybe that's way we may not consider cartoon movies so seriously.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Mari kita ke tahap selanjutnya, hal lahir melahirkan. Hm.. kayanya daku mengerti istilah 'caesar' terlebih dahulu daripada lahir alami. Kenapa bisa begitu? Gampang saja alasannya.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;Let's move on to the next level... I think I understood Caesar operation as a delivery method earlier than the natural one... How could it be so? It was a very simple reason...&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Setelah bayi tumbuh besar di dalam perut, ia perlu segera dikeluarkan sebelom perut ibunya meledak. Nah cara paling cepat adalah membuka perut ibu, mengeluarkan bayi, lalu kita tutup kembali. Hampir persis sama seperti cara kerja resleting. Bagaimana prosesnya secara lebih mendetail? Ah peduli amat sama tetek bengek proses 'caesar' itu. Toh dokter pasti punya obat bius kan? Tinggal suntik sana suntik sini, siaplah perut ibu dibelek tanpa rasa sakit.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;My thinking was... after a baby grows in mum's tummy, he/she should be out of it before his/her mum's tummy explodes, so the easiest way is to open mum's tummy and then, close it up again. It almost looks like if we close up our zipper... How are the details of the process? Shall we care? No need, right? There are doctors to give the mummies a sleeping shots... shoot here... shoot there and mummy's tummy is ready to be opened without any pain.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Pada waktu masih SD, seorang teman menceritakan teorinya yang lebih ajaib lagi. Katanya, sebenarnya saat ibu hamil, isi perutnya adalah cairan. Lalu bagaimana cara melahirkan? Dengan penuh keyakinan dia berkata, "Melalui cara yang sama kaya kencing." &lt;i&gt;"Heh? Kenapa bisa begitu? Kalau yang keluar cuma cairan, bayinya mana? Apa harus dibekukan sampai pada suhu 0°C? Pake cetakan kue?" &lt;/i&gt;"Denger dulu dong. Setelah semua cairan dikeluarkan, kempeslah perut si mama. Tugas dokter adalah memastikan agar cairan tersebut tertampung seluruhnya dengan baik. Jangan sampai ada yang tumpah! Nanti bisa-bisa bayinya cacat. Setelah ditampung, biarkan beberapa lama, lalu dengan sendirinya air kencing itu akan berubah menjadi seorang bayi!!!"&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;Another theory is come from my primary school's friend... and it is more imaginary than mine. He said that the pregnant mummy contains of a kind of liquid. If so, then how to deliver the baby? With full confidence, he said, "Using the same way like we go to urinate." "Huh? How come it is like that? If it's only liquid, so where is the baby? Do we have to freeze it in 0ºC and use a cake molder to shape the baby?" "Hey!!! Please hear it first!!! After all the liquid is out, of course mummy's tummy is smaller... then the doctor is supposed to make sure that he get all the liquid and there is no even one drop goes wasted, so the baby will be a healthy and complete baby. After that, the doctor shall keep the liquid for awhile... and then... abracadabra... By itself, the liquid turns to a baby!!!" &lt;/p&gt; &lt;p class="teksindo"&gt;Heh? Kok gaya penjelasannya bahkan kaya di resep-resep masakan? (setelah matang, biarkan beberapa lama, lalu makanan siap dihidangkan). Mungkin juga teman daku itu berpikir kalau setelah cairan itu ditampung, lalu dimasukkan ke dalam inkubator. Jadi guna inkubator seperti guna oven pada pembuatan roti. Masukkan cairan, lalu cairan tersebut akan mengembang, sebagian menjadi daging, tulang, sebagian besar masih berupa cairan, yaitu darah. Mungkin teman daku itu terinspirasi untuk membandingkan antara inkubator ( yang bentuknya kotak) yang di rumah sakit dan oven (kotak juga!) yang ada di dapur.&lt;/p&gt; &lt;p class="teksinggris"&gt;The way she told me the theory sounded like told me about food recipes — after it's cooked, leave it for a while, then it's ready to be eaten... It might cross my friend's mind that after the doctor collects all the liquid, he will put it in an incubator. So the function of incubator is the same as the function of an oven when you make a bread. Put the liquid, let it blows up, a part of it will become flesh, bones, and the rest is still a liquid, i.e. blood. Maybe he was inspired by the form of an incubator in the hospital, which is square and the form of an oven (that's also square) in his mummy's kitchen.&lt;/p&gt;http://www.kejut.com/lahir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-8466522349843024623?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/8466522349843024623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=8466522349843024623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8466522349843024623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8466522349843024623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/pregnant-and-bornhamil-dan-lahir.html' title='Pregnant and Born/Hamil dan Lahir'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-6887991547041981503</id><published>2008-11-15T19:07:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T19:07:41.048-08:00</updated><title type='text'>What is in the future for stroke treatment?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Currently, studies are being done on additional drugs that dissolve clots. These drugs are administered either in the veins (like TPA) or directly into the clogged artery. The goal of these studies is to determine which stroke patients might benefit from this new and aggressive form of treatment. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;New medications are also being tested that help slow the degeneration of the nerve cells that are deprived of oxygen during a stroke. These drugs are referred to as "neuroprotective" agents, an example of which is sipatrigine. Another example is chlormethiazole, which works by modifying the expression of genes within the brain. (Genes produce proteins that determine an individual's makeup.) &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Finally, stem cells, which have the potential to develop into a variety of different organs, are being used to try to replace brain cells damaged by a previous stroke. In many academic medical centers, some of these experimental agents may be offered in the setting of a clinical trial. While new therapies for the treatment of patients after a stroke are on the horizon, they are not yet perfect and may not restore complete function to a stroke victim. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="tocls"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h5&gt;Stroke At A Glance&lt;/h5&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Stroke is the sudden death of brain cells due to lack of oxygen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stroke is caused by the blockage of blood flow or rupture of an artery to the brain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sudden tingling, weakness, or paralysis on one side of the body or difficulty with balance, speaking, swallowing, or vision can be a symptom of a stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Any person suspected of having a stroke or TIA should present for emergency care immediately&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Clot-busting drugs like TPA can be used to reverse a stroke, but the time frame for their use is very narrow. Patients need to present for care as soon as possible so that TPA therapy can be considered.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stroke prevention involves minimizing risk factors, such as controlling high blood pressure, elevated cholesterol, tobacco abuse, and diabetes. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="credits"&gt;References: Johnston SC, Nguyen-Huynh MN, Schwarz ME, Fuller K, Williams CE,  Josephson SA, Hankey GJ, Hart RG, Levine SR, Biller J, Brown RD Jr, Sacco RL,  Kappelle LJ, Koudstaal PJ, Bogousslavsky J, Caplan LR, van Gijn J, Algra A,  Rothwell PM, Adams HP, Albers GW.; "National Stroke Association guidelines for  the management of transient ischemic attacks." &lt;i&gt;Ann Neurol&lt;/i&gt;. 2006  Sep;60(3):301-13. "Primary prevention of ischemic stroke: a guideline from the  American Heart Association/American Stroke Association Stroke Council:  cosponsored by the Atherosclerotic Peripheral Vascular Disease Interdisciplinary  Working Group; Cardiovascular Nursing Council; Clinical Cardiology Council;  Nutrition, Physical Activity, and Metabolism Council; and the Quality of Care  and Outcomes Research Interdisciplinary Working Group: the American Academy of  Neurology affirms the value of this guideline." &lt;i&gt;Stroke&lt;/i&gt;. 2006  Jun;37(6):1583-633. Epub 2006 May 4. Liferidge AT, Brice JH, Overby BA, Evenson  KR. "Ability of laypersons to use the Cincinnati Prehospital Stroke Scale." &lt;i&gt; Prehosp Emerg Care&lt;/i&gt;. 2004 Oct-Dec:8(4):384-7.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="credits"&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page9.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-6887991547041981503?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/6887991547041981503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=6887991547041981503' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6887991547041981503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6887991547041981503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-is-in-future-for-stroke-treatment.html' title='What is in the future for stroke treatment?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-790480041517338084</id><published>2008-11-15T19:06:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T19:06:58.526-08:00</updated><title type='text'>What can be done to prevent a stroke?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Risk factor reduction &lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;High blood pressure:&lt;/b&gt; The possibility of suffering a stroke can be markedly decreased by controlling the risk factors. The most important risk factor for stroke is &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=378"&gt;high blood pressure&lt;/a&gt;. When a person's blood pressure is persistently too high, roughly greater than 130/85, the risk of a stroke increases in proportion to the degree by which the blood pressure is elevated. Controlling blood pressure in the normal range decreases the chances of a stroke. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Smoking:&lt;/b&gt; Another important risk factor is  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=11299"&gt;cigarette or other tobacco use&lt;/a&gt;. Cigarettes cause the carotid arteries to develop severe atherosclerosis, which can lead to their closure and block the blood flow to the brain. Atherosclerosis in general, including involvement of the arteries that supply blood to the heart, is accelerated by smoking. So, when an individual smokes, the main question becomes - which will occur first; a stroke, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=378"&gt;heart attack&lt;/a&gt;, or &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=406"&gt;lung cancer&lt;/a&gt;?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Diabetes:&lt;/b&gt; Another risk factor for developing a stroke is  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=343"&gt;diabetes mellitus&lt;/a&gt;. Diabetes causes the small vessels to close prematurely. When these blood vessels close in the brain, small (lacunar) strokes may occur. Good control of blood sugar is important in decreasing the risk of stroke in diabetic patients. An elevated level of blood cholesterol is also a risk factor for a stroke due to the eventual blockage of blood vessels (atherosclerosis). A &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=47883"&gt;healthy diet&lt;/a&gt; and  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=77938"&gt;medications&lt;/a&gt; can help normalize an elevated blood cholesterol level. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Blood thinner/warfarin:&lt;/b&gt; An irregular heart beat (atrial fibrillation in particular) is associated with an increased risk of an embolic stroke, in which the blood clot travels from the heart, through the bloodstream, and into the brain. &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=727"&gt;Warfarin&lt;/a&gt; (Coumadin) is a blood "thinner" that prevents the blood from clotting. This medication is often used in patients with atrial fibrillation to decrease this risk. Warfarin is also sometimes used to prevent the recurrence of a stroke in other situations, such as with certain other heart conditions and conditions in which the blood has a tendency to clot on its own (hypercoagulable states). Patients taking warfarin need to have periodic blood checks to make sure that their current dose is producing the desired effect. Patients on warfarin also need to know that they are at increased risk for bleeding, either externally or internally.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;b&gt;Aspirin and other antiplatelet therapy:&lt;/b&gt; Many stroke patients who do not require warfarin can use another class of medicines called  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=40177"&gt;"antiplatelet" drugs&lt;/a&gt; to  reduce their risk of suffering another stroke. These medicines reduce the  tendency of the blood to clot (clog) in the arteries. As a side effect, patients  on these medicines usually have a higher likelihood of bleeding, but this risk  is less than when taking an anticoagulant like warfarin. The most commonly  prescribed first-choice antiplatelet agent for preventing a stroke recurrence is  aspirin. If the patient has an adverse reaction to aspirin or has a stroke  despite being on aspirin, newer antiplatelet preparations can be used [&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=9552"&gt;clopidogrel&lt;/a&gt;  (Plavix), &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=43958"&gt;dipyridamole&lt;/a&gt;  (Persantine). &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Carotid endarterectomy:&lt;/b&gt; In many cases, a person may suffer a TIA or a stroke that is caused by the narrowing or ulceration (sores) of the carotid arteries (the major arteries in the neck that supply blood to the brain). If left untreated, patients with these conditions have a high risk of experiencing a major stroke in the future. An operation that cleans out the carotid artery and restores normal blood flow is known as a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=15231"&gt;carotid endarterectomy&lt;/a&gt;. This procedure has been shown to markedly reduce the incidence of a subsequent stroke. In patients who have a narrowed carotid artery, but no symptoms, this operation may be indicated in order to prevent the occurrence of a first stroke.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page8.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-790480041517338084?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/790480041517338084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=790480041517338084' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/790480041517338084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/790480041517338084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-can-be-done-to-prevent-stroke.html' title='What can be done to prevent a stroke?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-7162040797545966812</id><published>2008-11-15T19:05:00.002-08:00</published><updated>2008-11-15T19:06:22.807-08:00</updated><title type='text'>What complications can occur after a stroke?</title><content type='html'>&lt;a name="TopOfContent"&gt;&lt;/a&gt;A stroke can become worse despite an early arrival at the hospital and appropriate medical treatment. It is not unusual for a stroke and a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=379"&gt;heart attack&lt;/a&gt; to occur at the same time or in very close proximity to each other.&lt;p&gt; During the acute illness, swallowing may be affected. The weakness that affects the arm, leg, and side of the face can also impact the muscles of swallowing. A stroke that causes slurred speech seems to predispose the patient to abnormal swallowing mechanics. Should food and saliva enter the trachea instead of the esophagus when eating or swallowing, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=450"&gt;pneumonia&lt;/a&gt; or a lung infection can occur. Abnormal swallowing can also occur independently of slurred speech. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Because a stroke often results in immobility, blood clots can develop in a leg vein  (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=12597"&gt;deep vein thrombosis&lt;/a&gt;). This poses a risk for a clot to travel upwards to and lodge in the lungs - a potentially life-threatening situation  (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=87966"&gt;pulmonary embolism&lt;/a&gt;). There are a number of ways in which the treating physician can help prevent these leg vein clots. Prolonged immobility can also lead to pressure sores (a breakdown of the skin, called decubitus ulcers), which can be prevented by frequent repositioning of the patient by the nurse or other caretakers. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Stroke patients often have some problem with &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=342"&gt;depression&lt;/a&gt; as part of the recovery process, which needs to be recognized and treated. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; The prognosis following a stroke is related to the severity of the stroke and how much of the brain has been damaged. Some patients return to a near-normal condition with minimal awkwardness or speech defects. Many stroke patients are left with permanent problems such as hemiplegia (weakness on one side of the body), &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=47401"&gt;aphasia&lt;/a&gt; (difficulty or the inability to speak), or  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=41957"&gt;incontinence of the bowel&lt;/a&gt; and/or  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=7999"&gt;bladder&lt;/a&gt;. A significant number of persons become unconscious and die following a major stroke.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; If a stroke has been massive or devastating to a person's ability to think or function, the family is left with some very difficult decisions. In these cases, it is sometimes advisable to limit further medical intervention. It is often appropriate for the doctor and the patient's family to discuss and implement orders to not resuscitate the patient in the case of a cardiac arrest, since the quality of life for the patient would be so poor. In many cases, this decision is made somewhat easier if the patient has made such a request when well.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page7.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-7162040797545966812?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/7162040797545966812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=7162040797545966812' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7162040797545966812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7162040797545966812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-complications-can-occur-after.html' title='What complications can occur after a stroke?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-7663421070237561620</id><published>2008-11-15T19:05:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T19:05:37.331-08:00</updated><title type='text'>What is the treatment of a stroke?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Tissue plasminogen activator (TPA)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; There is opportunity to use &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=15616"&gt; alteplase&lt;/a&gt; (TPA) as a clot-buster drug to dissolve the blood clot that is causing the stroke. There is a narrow window of opportunity to use this drug. The earlier that it is given, the better the result and the less potential for the complication of bleeding into the brain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Present American Heart Association guidelines recommend that if used, TPA must be given within three hours after the onset of symptoms. Normally, TPA is injected into a vein in he arm. The time frame for use can be extended to six hours if it is dripped directly into the blood vessel that is blocked. This is usually performed by an interventional radiologist, and not all hospitals have access to this technology.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; For posterior circulation strokes that involve the vertebrobasilar system, the time frame for treatment with TPA may be extended even further to 18 hours.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Heparin and aspirin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Drugs to thin the blood (anticoagulation; for example,  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=44455"&gt;heparin&lt;/a&gt;) are also sometimes used in treating stroke patients in the hopes of improving the patient's recovery. It is unclear, however, whether the use of anticoagulation improves the outcome from the current stroke or simply helps to prevent subsequent strokes (see below). In certain patients, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=697"&gt;aspirin&lt;/a&gt; given after the onset of a stroke does have a small, but measurable effect on recovery. The treating doctor will determine the medications to be used based upon a patient's specific needs.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Managing other Medical Problems&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Blood pressure and cholesterol control are key to prevention of future stroke events. In transient ischemic attacks, the patient may be discharged with medications even if the blood pressure and cholesterol levels are acceptable. In an acute stroke, blood pressure will be tightly controlled to prevent further damage.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;  In patients with &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=343"&gt;diabetes&lt;/a&gt;, the blood sugar (glucose) level is often elevated after a stroke. Controlling the glucose level in these patients may minimize the size of a stroke. Finally, oxygen may administered to stroke patients when necessary.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;b&gt;Rehabilitation&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; When a patient is no longer acutely ill after a stroke, the healthcare staff focuses on maximizing the patient's functional abilities. This is most often done in an inpatient rehabilitation hospital or in a special area of a general hospital. Rehabilitation can also take place at a nursing facility. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;  The rehabilitation process can include some or all of the following: &lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;speech therapy to relearn talking and swallowing;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;occupational therapy to regain dexterity in the arms and hands;&lt;br /&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;physical therapy to improve strength and walking; and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;family education to orient them in   &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=47882"&gt;caring for their loved&lt;/a&gt; one at home and the challenges they will face.   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt; The goal is for the patient to resume as many, if not all, of their pre-stroke activities and functions. Since a stroke involves the permanent loss of brain cells, a total return to the patient's pre-stroke status is unfortunately, not a realistic goal in many cases. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; When a stroke patient is ready to go home, a nurse may come to the home for a period of time until the family is familiar with caring for the patient and the procedures for giving various medications. Physical therapy may continue at home. Eventually, the patient is usually left at home with one or more &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=47882"&gt;caregivers&lt;/a&gt;, who now find their lives have changed in major ways. Caring for the stroke patient at home may be easy or very nearly impossible. At times, it becomes apparent that the patient must be placed in a board and care home or a skilled nursing facility because adequate care cannot be given at home despite the good intentions of the family.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page6.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-7663421070237561620?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/7663421070237561620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=7663421070237561620' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7663421070237561620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7663421070237561620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-is-treatment-of-stroke.html' title='What is the treatment of a stroke?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-8506491278525196627</id><published>2008-11-15T19:04:00.002-08:00</published><updated>2008-11-15T19:05:01.799-08:00</updated><title type='text'>How is a stroke diagnosed?</title><content type='html'>&lt;p&gt;A stroke is a medical emergency. Anyone suspected of having a stroke should be taken to a medical facility &lt;b&gt;immediately &lt;/b&gt;for evaluation and treatment. Initially, the doctor takes a medical history from the patient if he/she is alert or others familiar with the patient if they are available, and performs a physical examination. If a person has been seeing a particular doctor, it would be ideal for that doctor to participate in the assessment. Previous knowledge of the patient can improve the accuracy of the evaluation. A neurologist, a doctor specializing in disorders of the nervous system and diseases of the brain, will often assist in the diagnosis and management of stroke patients.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Just because a person has slurred speech or weakness on one side of the body does not necessarily signal the occurrence of a stroke. There are many other possibilities that can be responsible for these symptoms. Other conditions that can mimic a stroke include:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=296"&gt;brain tumors&lt;/a&gt;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;a brain abscess (a collection of pus in the brain caused by bacteria or a fungus),   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=417"&gt;migraine headache&lt;/a&gt;,   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bleeding in the brain either spontaneously or from trauma,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=416"&gt;meningitis or encephalitis&lt;/a&gt;,   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;an overdose of certain medications, or&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;an imbalance of sodium, calcium, or glucose in the body can also cause changes in the nervous system that can mimic a stroke.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; In the acute stroke evaluation, many things will occur at the same time. As the physician is taking the history and performing the physical examination, nursing staff will begin monitoring the patient's vital signs, getting blood tests, and performing an &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=1944"&gt;electrocardiogram&lt;/a&gt; (EKG or ECG).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Part of the physical examination that is becoming standardized is the use of a stroke scale. The American Heart Association has published a guide to the examination of the nervous system to help care providers determine the severity of a stroke and whether aggressive intervention may be warranted.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; There is a narrow time frame to intervene in an acute stroke with medications to reverse the loss of blood supply to part of the brain (please see TPA below). The patient needs to be appropriately evaluated and stabilized before any clot-busting drugs can be potentially utilized.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Computerized tomography:&lt;/b&gt; In order to help determine the cause of a suspected stroke, a special x-ray test called a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=315"&gt;CT scan&lt;/a&gt; of the brain is often performed. A CT scan is used to look for bleeding or masses within the brain, a much different situation than stroke that is also treated differently.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;MRI scan:&lt;/b&gt; &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=421"&gt;Magnetic resonance  imaging&lt;/a&gt; (MRI) uses magnetic waves rather than x-rays to image the brain. The MRI images are much more detailed than those from CT, but this is not a first line test in stroke. While a CT scan may be completed within a few minutes, an MRI may take more than an hour to complete. An MRI may be performed later in the course of patient care if finer details are required for further medical decision making. People with certain medical devices (for example, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=1947"&gt;pacemakers&lt;/a&gt;) or other metals within their body, cannot be subjected to the powerful magnetic field of an MRI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Other methods of MRI technology:&lt;/b&gt; An MRI scan can also be used to specifically view the blood vessels non-invasively (without using tubes or injections), a procedure called an &lt;b&gt;MRA (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=12199"&gt;magnetic resonance angiogram&lt;/a&gt;)&lt;/b&gt;. Another MRI method called  &lt;b&gt;diffusion weighted imaging (DWI)&lt;/b&gt; is being offered in some medical centers. This technique can detect the area of abnormality minutes after the blood flow to a part of the brain has ceased, whereas a conventional MRI may not detect a stroke until up to six hours after it has started, and a CT scan sometimes cannot detect it until it is 12 to 24 hours old. Again, this is not a first line test in the evaluation of a stroke patient, when time is of the essence.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Computerized tomography with angiography:&lt;/b&gt; Using dye that is injected into a vein in the arm, images of the blood vessels in the brain can give information regarding  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=8708"&gt;aneurysms&lt;/a&gt; or  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=78120"&gt;arteriovenous malformations&lt;/a&gt;. As well, other abnormalities of brain blood flow may be evaluated. With increasingly sophisticated technology, CT angiography has supplanted conventional angiograms.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Conventional angiogram:&lt;/b&gt; An angiogram is another test that is sometimes used to view the blood vessels. A long catheter tube is inserted into an artery (usually in the groin area) and dye is injected while x-rays are simultaneously taken. While an angiogram delivers some of the most detailed images of the blood vessel anatomy, it is also an invasive procedure and is used only when absolutely necessary. For example, an angiogram is done after a hemorrhage when the precise source of bleeding needs to be identified. It also is sometimes performed to accurately evaluate the condition of a carotid artery when surgery to unblock that blood vessel is contemplated.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Carotid Doppler ultrasound:&lt;/b&gt; A carotid Doppler ultrasound is a non-invasive (without injections or placing tubes) method that uses sound waves to screen for narrowings and decreased blood flow in the carotid artery (the major artery in the neck that supplies blood to the brain).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Heart tests:&lt;/b&gt; Certain tests to evaluate heart function are often performed in stroke patients to search for the source of an embolism. An &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=42331"&gt;echocardiogram&lt;/a&gt; is a sound wave test that is done by placing a microphone device on the chest or down the esophagus (transesophageal echocardiogram) in order to view the heart chambers. A Holter monitor is similar to a regular electrocardiogram (EKG), but the electrode stickers remain on the chest for 24 hours or longer in order to identify a faulty heart rhythm. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Blood tests:&lt;/b&gt; Blood tests such as a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=19563"&gt;sedimentation rate&lt;/a&gt; and  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=47579"&gt;C-reactive protein&lt;/a&gt; are done to look for signs of inflammation that can suggest inflamed arteries. Certain blood proteins that can increase the chance of stroke by thickening the blood are measured. These tests are performed to identify treatable causes of a stroke or to help prevent further injury. Screening blood tests looking for potential infection, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=2015"&gt;anemia&lt;/a&gt;,  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=23556"&gt;kidney function&lt;/a&gt;, and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=16387"&gt;electrolyte abnormalities&lt;/a&gt; may also be considered.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page5.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-8506491278525196627?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/8506491278525196627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=8506491278525196627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8506491278525196627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8506491278525196627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/how-is-stroke-diagnosed.html' title='How is a stroke diagnosed?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-4519567867369467209</id><published>2008-11-15T19:04:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T19:04:30.160-08:00</updated><title type='text'>What should be done if you suspect you or someone else is having a stroke?</title><content type='html'>&lt;p&gt;If any of the symptoms mentioned above suddenly appear, emergency medical attention should be sought. &lt;b&gt;Therefore, the first action should be to call 911&lt;/b&gt; (or whatever number activates the emergency medical response in your area). The family doctor and/or neurologist should also be contacted. However, the first priority is ensuring that the ambulance arrives as soon as possible. &lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;The affected person should lie flat to promote an optimal blood flow to the brain.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;If drowsiness, unresponsiveness, or  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=24732"&gt;nausea&lt;/a&gt; are present, the person should be placed in the rescue position on their side to prevent choking should vomiting occur.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Although &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=697"&gt;aspirin&lt;/a&gt; plays a major role in stroke prevention (see below), once the symptoms of a stroke begin, it is generally recommended that additional aspirin not be taken until the patient receives medical attention. If stroke is of the bleeding type, aspirin could theoretically make matters worse.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Cincinnati Prehospital Stroke Scale (CPSS)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;According to a study by the University of North Carolina,  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=52795"&gt;three commands&lt;/a&gt; may  be used to assess whether a person may be experiencing a stroke. Lay persons can  command a potential stroke victim to:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Smile&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Raise both arms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Speak a simple sentence&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;The three commands, known as the Cincinnati Prehospital Stroke Scale (CPSS), are used by health professionals as a simple first step in the assessment process for signs of stroke. If a person has trouble with any of these simple commands, emergency services (911) should be called immediately with a description of the situation, noting that you suspect the individual is having a stroke.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page4.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-4519567867369467209?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/4519567867369467209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=4519567867369467209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4519567867369467209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4519567867369467209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-should-be-done-if-you-suspect-you.html' title='What should be done if you suspect you or someone else is having a stroke?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-131138566968988306</id><published>2008-11-15T19:02:00.002-08:00</published><updated>2008-11-15T19:03:59.033-08:00</updated><title type='text'>What is the impact of strokes?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;In the United States, stroke is the third largest cause of death (behind  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=87976"&gt;heart  disease&lt;/a&gt; and all forms of &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=13931"&gt;cancer&lt;/a&gt;). The cost of strokes is not just measured in the billions of dollars lost in work, hospitalization, and the care of survivors in nursing homes. The major cost or impact of a stroke is the loss of independence that occurs in 30% of the survivors. What was a self-sustaining and enjoyable lifestyle may lose most of its quality after a stroke and other family members can find themselves in a new role as caregivers.  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="toces"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;What are stroke symptoms?&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;When brain cells are deprived of oxygen, they cease to  perform their usual tasks. The symptoms that follow a stroke depend on the area  of the brain that has been affected and the amount of brain tissue damage.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Small strokes may not cause any symptoms, but can still damage brain tissue. These strokes that do not cause symptoms are referred to as silent strokes. According to The U.S. National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), these are the five major signs of stroke: &lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sudden numbness or &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=64119"&gt;weakness&lt;/a&gt; of the face, arm or leg, especially on one   side of the body. The loss of voluntary movement and/or sensation may be   complete or partial. There may also be an associated tingling sensation in   the affected area. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;Sudden &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=63314"&gt;confusion&lt;/a&gt; or trouble speaking or understanding. Sometimes weakness   in the muscles of the face can cause drooling. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;Sudden trouble seeing in one or both eyes &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="4"&gt;&lt;li&gt;Sudden trouble &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=81245"&gt;walking&lt;/a&gt;, dizziness, loss of balance or coordination &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="5"&gt;&lt;li&gt;Sudden, severe &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=20628"&gt;headache&lt;/a&gt; with no known cause&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page3.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-131138566968988306?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/131138566968988306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=131138566968988306' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/131138566968988306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/131138566968988306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-is-impact-of-strokes.html' title='What is the impact of strokes?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-880736091015566811</id><published>2008-11-15T19:02:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T19:02:31.971-08:00</updated><title type='text'>What are the risk factors for stroke?</title><content type='html'>&lt;p&gt; Overall, the most common risk factors for stroke are:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;high blood pressure,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;high cholesterol,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;smoking,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;diabetes and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;increasing age. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; Heart rhythm disturbances like atrial fibrillation, patent foramen ovale, and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=42350"&gt;heart valve disease&lt;/a&gt; can also be the cause.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; When strokes occur in younger individuals (less than 50 years old), less common risk factors are considered including illicit drugs, such as cocaine or amphetamines, ruptured aneurysms, and inherited (genetic) predispositions to blood clotting. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; An example of a genetic predisposition to stroke occurs in a rare condition called homocystinuria, in which there are excessive levels of the chemical homocystine in the body. Scientists are trying to determine whether the non-hereditary occurrence of high levels of homocystine at any age can predispose to stroke. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="toccs"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;What is a transient ischemic attack (TIA)?&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;A &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=85201"&gt;transient ischemic attack&lt;/a&gt; (TIA) is a short-lived episode (less than 24 hours) of temporary impairment to the brain that is caused by a loss of blood supply. A TIA causes a loss of function in the area of the body that is controlled by the portion of the brain affected. The loss of blood supply to the brain is most often caused by a clot that spontaneously forms in a blood vessel within the brain (thrombosis). However, it can also result from a clot that forms elsewhere in the body, dislodges from that location, and travels to lodge in an artery of the brain (emboli). A spasm and, rarely, a bleed are other causes of a TIA. Many people refer to a TIA as a "mini-stroke."&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Some TIAs develop slowly, while others develop rapidly. By definition, all TIAs resolve within 24 hours. Strokes take longer to resolve than TIAs, and with strokes, complete function may never return and reflect a more permanent and serious problem. Although most TIAs often last only a few minutes, all TIAs should be evaluated with the same urgency as a stroke in an effort to prevent recurrences and/or strokes. TIAs can occur once, multiple times, or precede a permanent stroke. &lt;b&gt;A transient ischemic attack should be considered an emergency because there is no guarantee that the situation will resolve and function will return.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; A TIA from a clot to the eye can cause temporary visual loss (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=11283"&gt;amaurosis fugax&lt;/a&gt;), which is often described as the sensation of a curtain coming down. A TIA that involves the carotid artery (the largest blood vessel supplying the brain) can produce problems with movement or sensation on one side of the body, which is the side opposite to the actual blockage. An affected patient may experience paralysis of the arm, leg, and face, all on one side. Double vision, dizziness (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=516"&gt;vertigo&lt;/a&gt;), and loss of speech, understanding, and balance can also be symptoms depending on what part of the brain is lacking blood supply.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/page2.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-880736091015566811?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/880736091015566811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=880736091015566811' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/880736091015566811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/880736091015566811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-are-risk-factors-for-stroke.html' title='What are the risk factors for stroke?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-9104605941045065965</id><published>2008-11-15T19:01:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T19:01:24.807-08:00</updated><title type='text'>What is a stroke?</title><content type='html'>&lt;p&gt;A stroke, or cerebrovascular accident (CVA), occurs when blood supply to part of the brain is disrupted, causing brain cells to die. When blood flow to the brain is impaired, oxygen and glucose cannot be delivered to the brain. Blood flow can be compromised by a variety of mechanisms.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Blockage of an artery&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Narrowing of the small arteries within the brain&lt;/b&gt; can cause a so-called lacunar stroke, (lacune=empty space). Blockage of a single arteriole can affect a tiny area of brain causing that tissue to die (infarct).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Hardening of the arteries (atherosclerosis) leading to the brain.&lt;/b&gt; There are four major blood vessels that supply the brain with blood.   &lt;b&gt;The anterior circulation&lt;/b&gt; of the brain that controls most motor, activity, sensation, thought, speech, and emotion is supplied by the carotid arteries.  &lt;b&gt;The posterior circulation&lt;/b&gt;, which supplies the brainstem and the cerebellum, controlling the automatic parts of brain function and coordination, is supplied by the vertebrobasilar arteries.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;blockquote&gt;  &lt;p&gt;If these arteries become narrow as a result of   &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=87976"&gt;atherosclerosis&lt;/a&gt;, plaque or  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=320"&gt;cholesterol&lt;/a&gt;, debris can break off and float downstream, clogging the blood supply to a part of the brain. As opposed to lacunar strokes, larger parts of the brain can lose blood supply, and this may produce more symptoms than a lacunar stroke.&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;   &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Embolism to the brain from the heart.&lt;/b&gt; In situations in which blood clots form within the heart, the potential exists for small clots to break off and travel (embolize) to the arteries in the brain and cause a stroke.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rupture of an artery (hemorrhage)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Cerebral hemorrhage&lt;/b&gt; (bleeding within the brain substance). The most common reason to have bleeding within the brain is uncontrolled &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=378"&gt;high blood pressure&lt;/a&gt;. Other situations include   &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=8708"&gt;aneurysms&lt;/a&gt; that leak or rupture or arteriovenous malformations (AVM) in which there is an abnormal collection of blood vessels that are fragile and can bleed.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt; &lt;b&gt;&lt;a name="tocbs"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;What causes a stroke?&lt;/h3&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Blockage of an artery&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The blockage of an artery in the brain by a clot (thrombosis) is the most common cause of a stroke. The part of the brain that is supplied by the clotted blood vessel is then deprived of blood and oxygen. As a result of the deprived blood and oxygen, the cells of that part of the brain die. Typically, a clot forms in a small blood vessel within the brain that has been previously narrowed due to a variety of risk factors including:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;high blood pressure (hypertension),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;high cholesterol,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=343"&gt;diabetes&lt;/a&gt;, and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=11299"&gt;smoking&lt;/a&gt;. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Embolic stroke&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Another type of stroke may occur when a blood clot or a piece of atherosclerotic plaque (cholesterol and calcium deposits on the wall of the inside of the heart or artery) breaks loose, travels through open arteries, and lodges in an artery of the brain. When this happens, the flow of oxygen-rich blood to the brain is blocked and a stroke occurs. This type of stroke is referred to as an embolic stroke. For example, a blood clot might originally form in the heart chamber as a result of an &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=84544"&gt;irregular heart rhythm&lt;/a&gt;, such as occurs in &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=286"&gt;atrial fibrillation&lt;/a&gt;. Usually, these clots remain attached to the inner lining of the heart, but occasionally they can break off, travel through the blood stream, form a plug (embolism) in a brain artery, and cause a stroke. An embolism can also originate in a large artery (for example, the carotid artery, a major artery in the neck that supplies blood to the brain) and then travel downstream to clog a small artery within the brain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Cerebral hemorrhage&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; A cerebral hemorrhage occurs when a blood vessel in the brain ruptures and bleeds into the surrounding brain tissue. A cerebral hemorrhage (bleeding in the brain) can cause a stroke by depriving blood and oxygen to parts of the brain. Blood is also very irritating to the brain and can cause swelling of brain tissue (cerebral edema). Edema and the accumulation of blood from a cerebral hemorrhage increases pressure within the skull and causes further damage by squeezing the brain against the bony skull.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;b&gt;Subarachnoid hemorrhage&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; In a subarachnoid hemorrhage, blood accumulates in the space beneath the arachnoid membrane that lines the brain. The blood originates from an abnormal blood vessel that leaks or ruptures. Often this is from an aneurysm (an abnormal ballooning out of the wall of the vessel). Subarachnoid hemorrhages usually cause a sudden, severe &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=20628"&gt;headache&lt;/a&gt; and stiff neck. If not recognized and treated, major neurological consequences, such as &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=85386"&gt;coma&lt;/a&gt;, and brain death will occur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Vasculitis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Another rare cause of stroke is &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=515"&gt;vasculitis&lt;/a&gt;, a condition in which the blood vessels become inflamed. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;b&gt;Migraine headache&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; There appears to be a very slight increased occurrence of stroke in people with  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=417"&gt;migraine headache&lt;/a&gt;. The mechanism for migraine or vascular headaches includes narrowing of the brain blood vessels. Some migraine headache episodes can even mimic stroke with loss of function of one side of the body or vision or speech problems. Usually, the symptoms resolve as the headache resolves.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/stroke/article.htm#tocas&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-9104605941045065965?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/9104605941045065965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=9104605941045065965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/9104605941045065965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/9104605941045065965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-is-stroke.html' title='What is a stroke?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-7080044444125598053</id><published>2008-11-15T18:59:00.002-08:00</published><updated>2008-11-15T19:00:09.813-08:00</updated><title type='text'>How is end-organ damage assessed in the patient with high blood pressure?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Damage of organs fed by the circulatory system due to uncontrolled hypertension is called end-organ damage. As already mentioned, chronic high blood pressure can lead to an enlarged heart, kidney failure, brain or &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=11748"&gt;neurological&lt;/a&gt; damage, and changes in  the retina at the back of the eyes. Examination of the eyes in patients with  severe hypertension may reveal damage; narrowing of the small arteries, small  hemorrhages (leaking of blood) in the retina, and swelling of the eye nerve. From the amount of  damage, the doctor can gauge the severity of the hypertension.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;People with high blood pressure have an increased  stiffness, or resistance, in the peripheral arteries throughout the tissues of  the body. This increased resistance causes the &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=9658"&gt;heart muscle&lt;/a&gt; to work harder to pump  the blood through these blood vessels. The increased workload can put a strain  on the heart, which can lead to heart abnormalities that are usually first seen  as enlarged heart muscle. Enlargement of the heart can be evaluated  by &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=336"&gt;chest x-ray&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=1944"&gt;electrocardiogram&lt;/a&gt;, and most accurately by  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=3182"&gt;echocardiography&lt;/a&gt; (an  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=11850"&gt; ultrasound&lt;/a&gt; examination of the heart). Echocardiography is especially useful in  determining the thickness (enlargement) of the left side (the main pumping side)  of the heart. Heart enlargement may be a forerunner of &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=3672"&gt;heart failure&lt;/a&gt;,  coronary (heart) artery disease, and  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=84544"&gt;abnormal heart rate or rhythms&lt;/a&gt; (cardiac  arrhythmias). Proper treatment of the high blood pressure and its complications  can reverse some of these heart abnormalities.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Blood and urine tests may be helpful in detecting kidney abnormalities in people  with high blood pressure. (Remember that kidney damage can be the cause or the  result of hypertension.) Measuring the &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=5470"&gt;serum&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=12550"&gt;creatinine&lt;/a&gt; in a blood test can  assess how well the kidneys are functioning. An elevated level of  serum creatinine indicates damage to the kidney. In addition, the presence of  protein in the urine (proteinuria) may reflect chronic kidney damage from  hypertension, even if the kidney function (as represented by the blood  creatinine level) is normal. Protein in the urine alone signals the  risk of deterioration in kidney function if the blood pressure is not  controlled. Even small amounts of protein (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=23540"&gt;microalbuminuria&lt;/a&gt;) may be a signal of  impending kidney failure and other vascular complications from uncontrolled  hypertension. African American patients with poorly controlled hypertension are at a higher  risk than Caucasians for most end-organ damage and particularly kidney damage.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Uncontrolled hypertension can cause strokes, which can lead to brain or neurological damage. The strokes are usually due to a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=14263"&gt;hemorrhage&lt;/a&gt; (leaking blood) or  a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=22122"&gt;blood clot&lt;/a&gt; (thrombosis) of the  blood vessels that supply blood to the brain. The patient's symptoms and signs  (findings on physical examination) are evaluated to assess the neurological  damage. A stroke can cause weakness, tingling, or paralysis of the arms or legs  and difficulties with speech or vision. Multiple small strokes can lead to  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=9090"&gt; dementia&lt;/a&gt; (impaired intellectual capacity). The best prevention for this  complication of hypertension or, for that matter, for any of the complications,  is control of the blood pressure. Recent studies have also  suggested the angiotensin receptor blocking drugs may offer an additional  protective effect against strokes above and beyond control of blood pressure.&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;a name="glance"&gt;High Blood Pressure (Hypertension) At A Glance&lt;/a&gt;&lt;/h5&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;High blood pressure (hypertension) is designated as    either essential (primary) hypertension or secondary hypertension and is    defined as a consistently elevated blood pressure exceeding 140/90 mm Hg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;In essential hypertension (95% of people with    hypertension), no specific cause is found, while secondary hypertension (5% of    people with hypertension) is caused by an abnormality somewhere in the body,    such as in the kidney, adrenal gland, or aortic artery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Essential hypertension may run in some families and    occurs more often in the African American population, although the genes for essential    hypertension have not yet been identified.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;High salt intake, obesity, lack of regular exercise,    excessive alcohol or coffee intake, and smoking may all adversely affect the    outlook for the health of an individual with hypertension.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;High blood pressure is called "the silent killer"    because it often causes no symptoms for many years, even decades, until it    finally damages certain critical organs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Poorly controlled hypertension ultimately can cause    damage to blood vessels in the eye, thickening of the heart muscle and heart    attacks, hardening of the arteries (arteriosclerosis), kidney failure, and    strokes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Heightened public awareness and screening of the    population are necessary to detect hypertension early enough so it can be    treated before critical organs are damaged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lifestyle adjustments in diet and exercise and    compliance with medication regimes are important factors in determining the    outcome for people with hypertension.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Several classes of anti-hypertensive medications are    available, including ACE inhibitors, ARB drugs, beta-blockers, diuretics,    calcium channel blockers, alpha-blockers, and peripheral vasodilators.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Most anti-hypertensive medications can be used alone    or in combination: some are used only in combination; some are preferred over    others in certain specific medical situations; and some are not to be used    (contraindicated) in other situations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The goal of therapy for hypertension is to bring the    blood pressure down to 140/85 in the general population and to even lower    levels in diabetics, African Americans, and people with certain chronic kidney diseases.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Screening, diagnosing, treating, and controlling hypertension early in   its course can significantly reduce the risk of developing strokes, heart   attacks, or kidney failure.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page8.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-7080044444125598053?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/7080044444125598053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=7080044444125598053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7080044444125598053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7080044444125598053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/how-is-end-organ-damage-assessed-in.html' title='How is end-organ damage assessed in the patient with high blood pressure?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3862222106639656899</id><published>2008-11-15T18:59:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T18:59:24.922-08:00</updated><title type='text'>The metabolic syndrome and obesity</title><content type='html'>&lt;p&gt;Genetic factors play a role in the constellation of findings that make up the "&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=46853"&gt;metabolic syndrome&lt;/a&gt;." Individuals with the metabolic syndrome have insulin resistance and a tendency to have &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=343"&gt;type 2 diabetes mellitus&lt;/a&gt; (non-insulin-dependent diabetes). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=943"&gt;Obesity&lt;/a&gt;, especially associated with a marked increase in abdominal girth, leads to high blood sugar (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=3836"&gt;hyperglycemia&lt;/a&gt;), elevated blood lipids (fats), vascular inflammation, endothelial dysfunction (abnormal reactivity of the blood vessels), and hypertension all leading to premature atherosclerotic vascular disease. The &lt;i&gt;American Obesity Association&lt;/i&gt; states the risk of developing hypertension is five to six times greater in obese Americans, age 20 to 45, compared to non-obese individuals of the same age. The American Journal of Clinical Nutrition reported in 2005 that waist size was a better predictor of a person's blood pressure than body mass index (BMI). Men should strive for a waist size of 35 inches or under and women 33 inches or under. The epidemic of obesity in the United States contributes to hypertension in children, adolescents, and adults. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="toc13bp"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;What are the symptoms of high blood pressure?&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Uncomplicated high blood pressure usually occurs without any symptoms (silently) and so hypertension has been labeled "the silent killer." It is called this because the disease can progress to finally develop any one or more of the several potentially fatal complications of hypertension such as heart attacks or strokes. Uncomplicated hypertension may be present and remain unnoticed for many years, or even decades. This happens when there are no symptoms, and those affected fail to undergo periodic blood pressure screening.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Some people with uncomplicated hypertension, however, may experience symptoms  such as &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=20628"&gt;headache&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=6114"&gt;dizziness&lt;/a&gt;, shortness of breath, and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=26099"&gt;blurred vision&lt;/a&gt;. The  presence of symptoms can be a good thing in that they can prompt people to  consult a doctor for treatment and make them more compliant in taking their  medications. Often, however, a person's first contact with a  physician may be after significant damage to the end-organs has occurred. In  many cases, a person visits or is brought to the doctor or an emergency room  with a heart attack, stroke, kidney failure, or impaired vision (due to damage  to the back part of the &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=7931"&gt;retina&lt;/a&gt;). Greater public awareness and frequent blood  pressure screening may help to identify patients with undiagnosed high blood  pressure before significant complications have developed.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;About one out of every 100 (1%) people with hypertension is diagnosed with  severe high blood pressure (accelerated or &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=4260"&gt;malignant&lt;/a&gt; hypertension) at their  first visit to the doctor. In these patients, the diastolic blood pressure (the  minimum pressure) exceeds 140 mm Hg! Affected persons often experience severe  headache, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=4510"&gt;nausea&lt;/a&gt;, visual symptoms, dizziness, and sometimes kidney failure.  Malignant hypertension is a medical emergency and requires urgent treatment to  prevent a stroke (brain damage).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page7.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3862222106639656899?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3862222106639656899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3862222106639656899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3862222106639656899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3862222106639656899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/metabolic-syndrome-and-obesity.html' title='The metabolic syndrome and obesity'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-980172115905948429</id><published>2008-11-15T18:58:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T18:58:40.757-08:00</updated><title type='text'>Adrenal gland tumors</title><content type='html'>&lt;p&gt;Two rare types of tumors of the adrenal glands are less common, secondary causes of hypertension. The adrenal glands sit right on top of the kidneys. Both of these tumors produce excessive amounts of adrenal hormones that cause high blood pressure. These tumors can be diagnosed from blood tests, urine tests, and imaging studies of the adrenal glands. Surgery is often required to remove these tumors or the adrenal gland (adrenalectomy), which usually relieves the hypertension.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;One of the types of adrenal tumors causes a condition that is called primary &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=3832"&gt; hyperaldosteronism&lt;/a&gt; because the tumor produces excessive amounts of the hormone aldosterone. In addition to the hypertension, this condition causes the loss of excessive amounts of potassium from the body into the urine, which results in a low level of potassium in the blood. Hyperaldosteronism is generally first suspected in a person with hypertension when low potassium is also found in the blood. (Also, certain rare genetic disorders affecting the hormones of the adrenal gland can cause secondary hypertension.)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;The other type of adrenal tumor that can cause secondary  hypertension is called a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=1918"&gt;pheochromocytoma&lt;/a&gt;. This tumor produces excessive  catecholamines, which include several adrenaline-related hormones. The diagnosis  of a pheochromocytoma is suspected in individuals who have sudden and recurrent  episodes of hypertension that are associated with flushing of the skin, rapid heart beating  (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=437"&gt;palpitations&lt;/a&gt;), and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=9299"&gt;sweating&lt;/a&gt;, in addition to the symptoms associated with high  blood pressure.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="aorta"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;Coarctation of the aorta&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Coarctation of the aorta is a rare hereditary disorder that is one of the most  common causes of hypertension in children. This condition is characterized by a  narrowing of a segment of the aorta, the main large artery coming from the  heart. The aorta delivers blood to the arteries that supply all of the body's  organs, including the kidneys.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The narrowed segment (coarctation) of the aorta generally occurs above the renal  arteries, which causes a reduced blood flow to the kidneys. This lack of blood  to the kidneys prompts the renin-angiotensin-aldosterone hormonal system to  elevate the blood pressure. Treatment of the coarctation is usually the surgical  correction of the narrowed segment of the aorta. Sometimes, balloon angioplasty  (as described above for &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=17313"&gt;renal artery stenosis&lt;/a&gt;) can be used to widen (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=3001"&gt;dilate&lt;/a&gt;) the  coarctation of the aorta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page6.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-980172115905948429?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/980172115905948429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=980172115905948429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/980172115905948429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/980172115905948429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/adrenal-gland-tumors.html' title='Adrenal gland tumors'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-149916141877630721</id><published>2008-11-15T18:57:00.002-08:00</published><updated>2008-11-15T18:58:03.918-08:00</updated><title type='text'>What are the causes of secondary high blood pressure?</title><content type='html'>&lt;p&gt;As mentioned  previously, 5% of people with hypertension have what is called secondary  hypertension. This means that the hypertension in these individuals is secondary  to (caused by) a specific disorder of a particular organ or blood vessel, such  as the kidney, adrenal gland, or &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=19428"&gt;aortic&lt;/a&gt; artery.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="renal"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;Renal (kidney) hypertension&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Diseases of the kidneys can cause secondary hypertension. This type of secondary  hypertension is called renal hypertension because it is caused by a problem in  the kidneys. One important cause of renal hypertension is narrowing (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=6337"&gt;stenosis&lt;/a&gt;)  of the artery that supplies blood to the kidneys (renal artery). In younger  individuals, usually women, the narrowing is caused by a thickening of the  &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=4468"&gt; muscular&lt;/a&gt; wall of the arteries going  to the kidney (fibromuscular hyperplasia).  In older individuals, the narrowing generally is due to hard, fat-containing  (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=25928"&gt;atherosclerotic&lt;/a&gt;) plaques that are blocking the renal artery.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;How does narrowing of the renal artery cause  hypertension? First, the narrowed renal artery impairs the circulation of blood to the affected kidney. This  deprivation of blood then stimulates the kidney to produce the hormones, renin  and angiotensin. These hormones, along with &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=2191"&gt;aldosterone&lt;/a&gt; from the adrenal gland, cause a constriction and increased stiffness (resistance) in the peripheral arteries throughout the body, which results in high blood pressure.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Renal hypertension is usually first suspected when high  blood pressure is found in a young individual or a new onset of high blood  pressure is discovered in an older person. Screening for renal artery narrowing  then may include renal isotope (radioactive) imaging, ultrasonographic (sound  wave) imaging, or &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=421"&gt;magnetic resonance imaging&lt;/a&gt; (MRI) of the renal arteries. The  purpose of these tests is to determine whether there is a restricted  blood flow to the kidney and whether &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=271"&gt;angioplasty&lt;/a&gt; (removal of the restriction in  the renal arteries) is likely to be beneficial. However, if the ultrasonic  assessment indicates a high resistive index within the kidney (high resistance  to blood flow), angioplasty may not improve the blood pressure because chronic  damage in the kidney from long-standing hypertension already exists. If any of  these tests are abnormal or the doctor's suspicion of renal artery narrowing is high enough,  renal &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=20588"&gt;angiography&lt;/a&gt; (an &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=6032"&gt;x-ray&lt;/a&gt; study in which dye is injected into the renal  artery) is done. Angiography is the ultimate test to actually visualize the  narrowed renal artery.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;A narrowing of the renal artery may be treated by &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=2423"&gt;balloon angioplasty&lt;/a&gt;. In this  procedure, the physician threads a long narrow tube (catheter) into the renal  artery. Once the catheter is there, the renal artery is widened by inflating a  balloon at the end of the catheter and placing a permanent &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=5554"&gt;stent&lt;/a&gt; (a device that stretches the narrowing) in the artery at the site of the narrowing. This procedure usually results in an improved blood flow to the kidneys and lower blood pressure. Moreover, the procedure also preserves the function of the kidney that was partially deprived of its normal blood supply. Only rarely is surgery needed these days to open up the narrowing of the renal artery.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Any of the other types of chronic kidney disease that reduces the function of  the kidneys can also cause hypertension due to hormonal disturbances and/or  retention of salt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;It is important to remember that not only can kidney disease cause hypertension,  but hypertension can also cause kidney disease. Therefore, all patients with  high blood pressure should be evaluated for the presence of kidney disease so  they can be treated appropriately.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page5.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-149916141877630721?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/149916141877630721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=149916141877630721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/149916141877630721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/149916141877630721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-are-causes-of-secondary-high-blood.html' title='What are the causes of secondary high blood pressure?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-4405010568072196525</id><published>2008-11-15T18:57:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T18:57:27.487-08:00</updated><title type='text'>Borderline high blood pressure</title><content type='html'>&lt;p&gt;Borderline hypertension is defined as mildly elevated blood pressure higher than 140/90 mm Hg at some times, and lower than that at other times. As in the case of white coat hypertension, patients with borderline hypertension need to have their blood pressure taken on several occasions and their end-organ damage assessed in order to establish whether their hypertension is significant.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;People with borderline hypertension may have a tendency as they get older to develop more sustained or higher elevations of blood pressure. They have a modestly increased risk of developing heart-related (cardiovascular) disease. Therefore, even if the hypertension does not appear to be significant initially, people with borderline hypertension should have continuing follow-up of their blood pressure and monitoring for the complications of hypertension.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;If, during the follow-up of a patient with borderline hypertension, the blood pressure becomes persistently higher than 140/ 90 mm Hg, an anti-hypertensive medication is usually started. Even if the diastolic pressure remains at a borderline level (usually under 90 mm Hg, yet persistently above 85) &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=80218"&gt;treatment may be started&lt;/a&gt; in certain circumstances. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="toc7bp"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;What causes high blood pressure?&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Two forms of high blood pressure have been described: essential (or primary) hypertension and secondary hypertension. Essential hypertension is a far more common condition and accounts for 95% of hypertension. The cause of essential hypertension is multifactorial, that is, there are several factors whose combined effects produce hypertension. In secondary hypertension, which accounts for 5% of hypertension, the high blood pressure is secondary to (caused by) a specific abnormality in one of the organs or systems of the body. (Secondary hypertension is discussed further in a separate section later.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Essential hypertension affects approximately 72 million Americans, yet its basic causes or underlying defects are not always known. Nevertheless, certain associations have been recognized in people with essential hypertension. For example, essential hypertension develops only in groups or societies that have a fairly high intake of salt, exceeding 5.8 grams daily. Salt intake may be a particularly important factor in relation to essential hypertension in several situations, and excess salt may be involved in the hypertension that is associated with advancing age, African American background, obesity, hereditary (genetic) susceptibility, and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=10419"&gt;kidney failure&lt;/a&gt; (renal insufficiency). The Institute of Medicine of the National Academies recommends healthy 19 to 50-year-old adults consume only 3.8 grams of salt to replace the average amount lost daily through perspiration and to &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=23715"&gt;achieve a diet&lt;/a&gt; that provides sufficient amounts of other essential nutrients. &lt;/p&gt;      &lt;p&gt;Genetic factors are thought to play a prominent role in  the development of  essential hypertension. However, the &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=15391"&gt;genes&lt;/a&gt; for hypertension have not yet been  identified. (Genes are tiny portions of &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=2723"&gt;chromosomes&lt;/a&gt; that produce the &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=15380"&gt;proteins&lt;/a&gt; that determine the  characteristics of individuals.) The current research in this area is focused on  the genetic factors that affect the renin-angiotensin-aldosterone system. This  system helps to regulate blood pressure by controlling salt balance and the tone (state of elasticity) of the  arteries.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Approximately 30% of cases of essential hypertension are  attributable to genetic factors. For example, in the United States, the  incidence of high blood  pressure is greater among African Americans than among Caucasians or Asians. Also, in  individuals who have one or two parents with hypertension, high blood pressure  is twice as common as in the general population. Rarely, certain unusual genetic  disorders affecting the hormones of the adrenal glands may lead to hypertension.  (These identified genetic disorders are considered secondary  hypertension.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The vast majority of patients with essential hypertension have in common a particular abnormality of the arteries: an increased resistance (stiffness or lack of elasticity) in the tiny arteries that are most distant from the heart (peripheral arteries or arterioles). The arterioles supply oxygen-containing blood and nutrients to all of the tissues of the body. The arterioles are connected by capillaries in the tissues to the veins (the venous system), which returns the blood to the heart and lungs. Just what makes the peripheral arteries become stiff is not known. Yet, this increased peripheral arteriolar stiffness is present in those individuals whose essential hypertension is associated with genetic factors, obesity, lack of exercise, overuse of salt, and aging. Inflammation also may play a role in hypertension since a predictor of the development of hypertension is the presence of an elevated C reactive protein level (a blood test marker of inflammation) in some individuals.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page4.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-4405010568072196525?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/4405010568072196525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=4405010568072196525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4405010568072196525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4405010568072196525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/borderline-high-blood-pressure.html' title='Borderline high blood pressure'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3487986447886250969</id><published>2008-11-15T18:55:00.002-08:00</published><updated>2008-11-15T18:56:45.797-08:00</updated><title type='text'>Isolated systolic high blood pressure</title><content type='html'>&lt;p&gt;Remember that the systolic blood pressure is the top number in the blood pressure reading and represents the pressure in the arteries as the heart contracts and pumps blood into the arteries. A systolic blood pressure that is persistently higher than 140 mm Hg is usually considered elevated, especially when associated with an elevated diastolic pressure (over 90).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Isolated systolic hypertension, however, is defined as a systolic pressure that is above 140 mm Hg with a diastolic pressure that still is below 90. This disorder primarily affects older people and is characterized by an increased (wide) pulse pressure. The pulse pressure is the difference between the systolic and diastolic blood pressures. An elevation of the systolic pressure without an elevation of the diastolic pressure, as in isolated systolic hypertension, therefore, increases the pulse pressure. Stiffening of the arteries contributes to this widening of the pulse pressure.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Once considered to be harmless, a high pulse pressure is now considered an important precursor or indicator of health problems and potential end-organ damage. Isolated systolic hypertension is associated with a two to four times increased future risk of an enlarged heart, a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=379"&gt;heart attack&lt;/a&gt; (myocardial infarction), a &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=489"&gt;stroke&lt;/a&gt; (brain damage), and death from heart disease or a stroke. Clinical studies in patients with isolated systolic hypertension have indicated that a reduction in systolic blood pressure by at least 20 mm to a level below 160 mm Hg reduces these increased risks.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="white"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;White coat high blood pressure&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;A single elevated blood pressure reading in the doctor's office can be misleading because the elevation may be only temporary. It may be caused by a patient's &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=42985"&gt;anxiety&lt;/a&gt; related to the stress of the examination and fear that something will be wrong with his or her health. The initial visit to the physician's office is often the cause of an artificially high blood pressure that may disappear with repeated testing after rest and with follow-up visits and blood pressure checks. One out of four people that are thought to have mild hypertension actually may have normal blood pressure when they are outside the physician's office. An increase in blood pressure noted only in the doctor's office is called 'white coat hypertension.' The name suggests that the physician's white coat induces the patient's anxiety and a brief increase in blood pressure. A diagnosis of white coat hypertension might imply that it is not a clinically important or dangerous finding.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;However, caution is warranted in assessing white coat hypertension. An elevated blood pressure brought on by the stress and anxiety of a visit to the doctor may not necessarily always be a harmless finding since other stresses in a patient's life may also cause elevations in the blood pressure that are not ordinarily being measured. Monitoring blood pressure at home by blood pressure cuff or continuous monitoring equipment or at a pharmacy can help estimate the frequency and consistency of higher blood pressure readings. Additionally, conducting appropriate tests to search for any complications of hypertension can help evaluate the significance of variable blood pressure readings.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page3.htm&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3487986447886250969?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3487986447886250969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3487986447886250969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3487986447886250969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3487986447886250969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/isolated-systolic-high-blood-pressure.html' title='Isolated systolic high blood pressure'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3321341476389012340</id><published>2008-11-15T18:55:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T18:55:41.288-08:00</updated><title type='text'>How is the blood pressure measured?</title><content type='html'>&lt;h3&gt;How is the blood pressure measured?&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;The blood pressure usually is measured with a small, portable instrument called a blood pressure cuff (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=15771"&gt;sphygmomanometer&lt;/a&gt;). (Sphygmo is Greek for pulse, and a manometer measures pressure.) The blood pressure cuff consists of an air pump, a pressure gauge, and a rubber cuff. The instrument measures the blood pressure in units called millimeters of mercury (mm Hg).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The cuff is placed around the upper arm and inflated with an air pump to a pressure that blocks the flow of blood in the main artery (&lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=2513"&gt;brachial artery&lt;/a&gt;) that travels through the arm. The arm is then extended at the side of the body at the level of the heart, and the pressure of the cuff on the arm and artery is gradually released. As the pressure in the cuff decreases, a health practitioner listens with a stethoscope over the artery at the front of the elbow. The pressure at which the practitioner first hears a pulsation from the artery is the systolic pressure (the top number). As the cuff pressure decreases further, the pressure at which the pulsation finally stops is the diastolic pressure (the bottom number).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a name="toc3bp"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;How is high blood pressure defined?&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Blood pressure can be affected by several factors, so it is important to standardize the environment when blood pressure is measured. For at least one hour before blood pressure is taken, avoid eating, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=6841"&gt;strenuous exercise&lt;/a&gt; (which can lower blood pressure), &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=11299"&gt;smoking&lt;/a&gt;, and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=82141"&gt;caffeine intake&lt;/a&gt;. Other stresses may alter the blood pressure and need to be considered when blood pressure is measured.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Even though most insurance companies consider high blood pressure to be 140/90 and higher for the general population, these levels may not be appropriate cut-offs for all individuals. Many experts in the field of hypertension view blood pressure levels as a range, from lower levels to higher levels. Such a range implies there are no clear or precise cut-off values to separate normal blood pressure from high blood pressure. Individuals with so-called pre-hypertension (defined as a blood pressure between 120/80 and 139/89) may benefit from lowering of blood pressure by life style modification and possibly medication especially if there are other risk factors for end-organ damage such as diabetes or kidney disease (life style changes are discussed below).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;For some people, blood pressure readings lower than 140/90 may be a more appropriate normal cut-off level. For example, in certain situations, such as in patients with long duration (chronic) kidney diseases that spill (lose) protein into the urine (proteinuria), the blood pressure is ideally kept at 130/80, or even lower. The purpose of reducing the blood pressure to this level in these patients is to slow the progression of kidney damage. Patients with &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=82141"&gt;diabetes&lt;/a&gt; (diabetes mellitus) may also benefit from blood pressure that is maintained at a level lower than 130/80. In addition, African Americans, who have an increased risk for developing the complications of hypertension, may decrease this risk by reducing their systolic blood pressure to less than 135 and the diastolic blood pressure to 80 mm Hg or less.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;In line with the thinking that the risk of end-organ damage from high blood  pressure represents a continuum, statistical analysis reveals that beginning at  a blood pressure of 115/75 the risk of &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=87976"&gt;cardiovascular disease&lt;/a&gt; doubles with each  increase in blood pressure of 20/10. This type of analysis has led to an ongoing  "rethinking" in regard to who should be treated for hypertension, and what the goals  of treatment should be.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page2.htm#toc2bp&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3321341476389012340?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3321341476389012340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3321341476389012340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3321341476389012340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3321341476389012340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/how-is-blood-pressure-measured.html' title='How is the blood pressure measured?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3808903432306054860</id><published>2008-11-15T18:52:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T18:55:04.301-08:00</updated><title type='text'>What is high blood pressure/hypertension?</title><content type='html'>&lt;p&gt;High blood pressure (HBP) or hypertension means high pressure (tension) in the arteries. Arteries are vessels that carry blood from the pumping heart to all the tissues and organs of the body. High blood pressure does not mean excessive emotional tension, although emotional tension and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=488"&gt;stress&lt;/a&gt; can temporarily increase blood pressure. Normal blood pressure is below 120/80; blood pressure between 120/80 and 139/89 is called "pre-hypertension", and a blood pressure of 140/90 or above is considered high.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The top number, the systolic blood pressure, corresponds to the pressure in the arteries as the heart contracts and pumps blood forward into the arteries. The bottom number, the diastolic pressure, represents the pressure in the arteries as the heart relaxes after the contraction. The diastolic pressure reflects the lowest pressure to which the arteries are exposed.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;An elevation of the systolic and/or diastolic blood pressure increases the risk of developing heart (cardiac) disease, &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=63508"&gt;kidney (renal) disease&lt;/a&gt;, hardening of the arteries (atherosclerosis or arteriosclerosis), eye damage, and &lt;a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=489"&gt;stroke&lt;/a&gt; (brain damage). These complications of hypertension are often referred to as end-organ damage because damage to these organs is the end result of chronic (long duration) high blood pressure. For that reason, the diagnosis of high blood pressure is important so efforts can be made to normalize blood pressure and prevent complications.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;It was previously thought that rises in diastolic blood pressure were a more important risk factor than systolic elevations, but it is now known that in people 50 years or older systolic hypertension represents a greater risk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The American Heart Association estimates high blood pressure affects approximately one in three adults in the United States - 73 million people. High blood pressure is also estimated to affect about two million American teens and children, and the Journal of the American Medical Association reports that many are under-diagnosed. Hypertension is clearly a major public health problem.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.medicinenet.com/high_blood_pressure/page2.htm#toc2bp&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3808903432306054860?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3808903432306054860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3808903432306054860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3808903432306054860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3808903432306054860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/what-is-high-blood-pressurehypertension.html' title='What is high blood pressure/hypertension?'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-4295915642054896988</id><published>2008-11-15T18:50:00.002-08:00</published><updated>2008-11-15T18:51:24.775-08:00</updated><title type='text'>Diet Golongan Darah AB</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Golongan    darah AB, adalah golongan darah terakhir, yang diketahui 1000 tahun SM.   &lt;b&gt;Dr. Peter J.D'Adamo&lt;/b&gt; mengatakan saat itu leluhur kita mulai    mengubah gaya hidupnya ke arah modern. Jenis makanan yang disarankan    adalah perpaduan antara makanan yang diperbolehkan dikonsumsi oleh para    pemilik golongan darah A dan B.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;   Sebenarnya, jenis makanan golongan darah A dan B sangat bertolak    belakang. Orang bergolongan darah B disarankan untuk mengonsumsi    berbagai jenis makanan, sedangkan pemilik golongan darah A disarankan    hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan, alias berpola makan vegetarian. Untuk    itu Dr. Peter J.D'Adamo menganjurkan agar pemilik golongan darah AB    lebih banyak melakukan diet vegetarian tapi tetap mengkonsumsi produk    susu pada saat tertentu. Terutama saat berolahraga.Golongan darah AB    sendiri sebagai golongan darah yang masih cukup jarang dijumpai secara    keseluruhan lebih stabil dari golongan darah A dan B karena dapat    memiliki sebagian besar keuntungan dan intoleransi dari golongan darah A    dan B. Golongan darah ini juga dinilai memiliki sistem daya tahan tubuh    paling baik dibandingkan golongan darah lain, namun di sisi lain juga    rentan terhadap penyakit-penyakit serius seperti penyakit jantung, saraf    dan kanker. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada    golongan darah AB juga dianjurkan olahraga yang berkaitan dengan    relaksasi dan meditasi. Makanan-makanan yang dianjurkan untuk golongan    darah ini antara lain adalah makanan laut, produk susu, beberapa jenis    kacang-kacangan dan yang tidak dianjurkan adalah seperti daging merah,    kacang merah dan jagung. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Berkaitan    dengan nutrisi yang dibutuhkan ini, tubuh sebenarnya memerlukan    makanan-makanan organik termasuk bahan nabati organik dengan kelengkapan    gizi yang sesuai dengan golongan darah tertentu, dan ini menyangkut    semua kebutuhan prebiotik dan probiotik serta enzim-enzim, vitamin,    mineral serta asam amino esensial untuk mengoptimalkan fungsi tubuh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;    http://dietsehatalami.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-4295915642054896988?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/4295915642054896988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=4295915642054896988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4295915642054896988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4295915642054896988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/diet-golongan-darah-ab.html' title='Diet Golongan Darah AB'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-1835830639234165161</id><published>2008-11-15T18:50:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T18:50:31.324-08:00</updated><title type='text'>Diet Golongan Darah O</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Di dalam    bukunya Dr. Peter J.D'Adamo mengatakan bahwa berdasarkan sejarah evolusi    sekitar 50.000 hingga 25.000 tahun SM, leluhur manusia memiliki golongan    darah yang sama, yakni O. Mereka adalah para pemburu sejati yang selalu    mengkonsumsi daging hasil buruan. Untuk itulah Dr. Peter J.D'Adamo    menyarankan agar pemilik golongan darah O lebih banyak mengonsumsi    makanan berprotein tinggi, mengikuti diet rendah karbohidrat dengan    banyak makan daging atau ikan tapi menghindari produk susu dan gandum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pemilik    golongan darah O bebas mengonsumsi daging dan ikan yang dicampur minyak    zaitun. Selain itu, bebas mengonsumsi telur, kacang, tetapi sebaiknya    membatasi buah. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sementara makanan yang harus    benar-benar dihindari adalah sereal, berbagai jenis pasta dan nasi.    Untuk mendapatkan stamina tubuh yang maksimal Dr. Peter J.D'Adamo    menganjurkan untuk melakukan olahraga erobik yang gerakannya mirip    gerakan para pemburu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ciri khas    golongan darah O &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Memiliki    sistem kekebalan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan tipe darah lain.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Mudah    beradaptasi dengan berbagai makanan pada lingkungan yang ditempati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Untuk    mengatasi stres disarankan melakukan erobik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;   • Dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi protein dan rendah    karbohidrat, seperti daging, buah, ikan, sayuran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bila    makanan yang dikonsumsi tidak sesuai, maka Anda berisiko terkena    penyakit yang disebabkan oleh radang dan kerusakan organ seperti    arthritis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menu diet    yang dianjurkan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sarapan :    2 potong roti bakar lapis mentega + Satu buah Pisang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Snack    siang : Teh herbal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Makan    Siang: Sepotong daging panggang + Salad bayam + Apel &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Snack Sore    : Sepotong kue &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Makan    Malam : Sepotong daging domba dan asparagus yang direbus + Kentang rebus    + Buah + Teh herbal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;http://dietsehatalami.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-1835830639234165161?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/1835830639234165161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=1835830639234165161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/1835830639234165161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/1835830639234165161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/diet-golongan-darah-o.html' title='Diet Golongan Darah O'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3315502832924547612</id><published>2008-11-15T18:49:00.001-08:00</published><updated>2008-11-15T18:49:53.181-08:00</updated><title type='text'>Diet untuk Golongan Darah B</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Ciri khas golongan darah    B:&lt;br /&gt;  • Dianjurkan untuk melakukan diet dengan berbagai variasi makanan    golongan darah, namun membatasi asupan daging.&lt;br /&gt;  • Disarankan mengonsumsi makanan dan minuman berbahan dasar susu untuk    meningkatkan sistem kekebalan tubuh.&lt;br /&gt;  • Olahraga yang cocok dilakukan adalah renang, tenis, jalan kaki dan    meditasi.&lt;br /&gt;  • Untuk mengatasi stres, sebaiknya mencari kegiatan rutin berupa hobi    dan kreativitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Orang    bergolongan darah B disarankan untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan,    sedangkan pemilik golongan darah A disarankan hanya mengonsumsi    tumbuh-tumbuhan, alias berpola makan vegetarian. Untuk itu Dr. Peter    J.D'Adamo menganjurkan agar pemilik golongan darah AB lebih banyak    melakukan diet vegetarian tapi tetap mengkonsumsi produk susu pada saat    tertentu. Terutama saat berolahraga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;   Karakteristik pemilik golongan darah B adalah:&lt;br /&gt;  • Memiliki jalur pencernaan yang sensitif.&lt;br /&gt;  • Disarankan untuk mengkonsumsi makanan dalam jumlah sedikit, namun    kekerapan makan lebih padat (lebih sering makan dengan porsi kecil)&lt;br /&gt;  Untuk lebih berenergi biasakan berolahraga di pagi hari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;br /&gt;  Menu Diet yang dianjurkan&lt;br /&gt;  • Sarapan : Air putih dicampur jeruk nipis + Juice Anggur + Roti dua    potong + Satu potong keju.&lt;br /&gt;  • Snack siang : Yogurt&lt;br /&gt;  • Makan Siang : Dada Ayam 4 irisan + Salad + 2 buah Plum + Teh Herbal&lt;br /&gt;  • Snack Sore : Cheesecake + Teh Herbal&lt;br /&gt;  Makan Malam : Omelet + Salad Buah + Kopi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;http://dietsehatalami.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3315502832924547612?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3315502832924547612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3315502832924547612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3315502832924547612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3315502832924547612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/diet-untuk-golongan-darah-b.html' title='Diet untuk Golongan Darah B'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-2101568447838560183</id><published>2008-11-15T18:47:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T18:49:08.930-08:00</updated><title type='text'>Diet Golongan Darah A</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dr. Peter    J.D'Adamo dalam bukunya, Eat Right For Your Type menyebutkan pada 15.000    SM golongan darah A ditemukan. Pada masa itu, leluhur kita adalah    pemburu yang mulai membentuk komunitas dan bertempat tinggal tetap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka    mulai bercocok tanam dan mengonsumsi sayur-sayuran dan hanya makan    daging dalam jumlah sangat sedikit. Untuk itulah Dr. Peter J.D'Adamo    menyarankan agar pemilik golongan darah A menjalani diet vegetarian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ciri khas    Golongan darah A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Memiliki    sistem pencernaan yang relatif sensitif. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Harus    menghindari makanan yang terbuat dari produk susu dan daging &lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;   • Dianjurkan menjadi vegetarian atau mengonsumsi makanan berkadar    karbohidrat tinggi, namun rendah lemak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;   • Meminimalisasi stres dengan meditasi, atau olahraga non kompetitif dan    cukup istirahat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menu diet    yang dianjurkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Sarapan    : Air putih dicampur jeruk nipis + Oatmel &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Snack    Siang : Juice Anggur / Kopi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Makan    Siang : Salad + Roti Gandum satu potong + Teh Herbal &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;• Snack    Sore : Kue Beras dua potong + Teh Hijau&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;   &lt;span style="font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;   &lt;span style="font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;( Bila perlu boleh makan Malam : Pasta    tanpa daging + Brokoli + Yoghurt + Teh Herbal )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 110%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;http://dietsehatalami.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-2101568447838560183?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/2101568447838560183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=2101568447838560183' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/2101568447838560183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/2101568447838560183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/diet-golongan-darah.html' title='Diet Golongan Darah A'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-6629824062762914975</id><published>2008-11-11T08:38:00.001-08:00</published><updated>2008-11-11T08:41:20.442-08:00</updated><title type='text'>Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Definisi &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB 2500 gram/ lebih rendah (WHO 1961)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Klasifikasi BBLR &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prematuritas murni&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Masa Gestasi kurang dari 37 minggu dan Bbnya sesuai dengan masa gestasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dismaturitas &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;BB bayi yang kurang dari BB seharusnya, tidak sesuai dengan masa gestasinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Etiologi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Faktor ibu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Faktor penyakit (toksemia gravidarum, trauma fisik dll)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Faktor usia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keadaan sosial &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Faktor janin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hydroamnion&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kehamilan multiple/ganda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kelainan kromosom&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Faktor Lingkungan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tempat tinggal didataran tinggi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Radiasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Zat-zat beracun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Patofisiologi?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gejala Klinis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;BB &lt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pb &lt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lingkar dada &lt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lingkar kepala &lt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pem. Penunjang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Analisa gas darah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Komplikasi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;RDS&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aspiksia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penatalaksanaan medis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemberian vitamin K&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemberian O2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Askep Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanda-tanda anatomis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kulit keriput, tipis, penuh lanugo pada dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak jaringan sedikit (tipis).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kuku jari tangan dan kaki belum mencapai ujung jari &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada bayi laki-laki testis belum turun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada bayi perempuan labia mayora lebih menonjol.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanda fisiologis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gerakan bayi pasif dan tangis hanya merintih, walaupun lapar bayi tidak menangis, bayi lebih banyak tidur dan lebih malas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suhu tubuh mudah untuk menjadi hipotermi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penyebabnya adalah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pusat pengatur panas belum berfungsi dengan sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kurangnya lemak pada jaringan subcutan akibatnya mempercepat terjadinya perubahan suhu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kurangnya mobilisasi sehingga produksi panas berkurang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diagnosa Keperawatan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidak efektifnya pola nafas b.d      imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidak efektifnya termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Resiko infeksi b.d defisiensi      pertahanan tubuh (imunologi).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan tubuh dalam mencerna nutrisi (imaturitas saluran cerna). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Resiko gangguan integritas kulit b.d      tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kecemasan orang tua b.d situasi      krisis, kurang pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 23.4pt;" valign="top" width="31"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;No.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Diagnosa   Keperawatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;h1 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 135pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perencanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 23.4pt;" valign="top" width="31"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas   fungsi paru dn neuro muscular&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pola nafas efektif .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kriteria Hasil :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;RR 30-60 x/mnt&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sianosis (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sesak (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ronchi (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Whezing (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 135pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi pola Nafas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi frekuensi dan bunyi nafas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi adanya sianosis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beri O2 sesuai program dokter&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi respon bayi terhadap ventilator dan   terapi O2.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 23.4pt;" valign="top" width="31"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak efektifnya termoregulasi b.d   imaturitas control dan pengatur suhu dan berkurangnya lemak subcutan didalam   tubuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suhu tubuh kembali normal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kriteria Hasil :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suhu 36-37 C.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kulit hangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sianosis (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ekstremitas hangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 135pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi tanda-tanda vital.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tempatkan bayi pada incubator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Awasi dan atur control temperature dalam incubator   sesuai kebutuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Monitor tanda-tanda Hipertermi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu   tubuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ganti pakaian setiap basah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi adanya sianosis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 23.4pt;" valign="top" width="31"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;3.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan   tubuh (imunologi) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Infeksi tidak terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kriteria Hasil :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suhu 36-37 C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak ada tanda-tanda infeksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Leukosit 5.000 – 10.000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 135pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kaji tanda-tanda infeksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Isolasi bayi dengan bayi lain &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan   bayi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gunakan masker setiap kontak dengan bayi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi   dalam keadaan bersih/steril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kolaborasi dengan dokter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berikan antibiotic sesuai program.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 23.4pt;" valign="top" width="31"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;4.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Resiko gangguan nutrisi kurang dari   kebutuhan b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi (Imaturitas saluran cerna)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nutrisi terpenuhi setelah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kriteria hasil :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Reflek hisap dan menelan baik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Muntah (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kembung (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;BAB lancar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berat badan meningkat 15 gr/hr&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Turgor elastis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 135pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi intake dan output.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi reflek hisap dan menelan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beri minum sesuai program &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak   ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi   parenteral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kaji kesiapan ibu untuk menyusu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Timbang BB setiap hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 23.4pt;" valign="top" width="31"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Resiko gangguan integritas kulit b.d   tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gangguan integritas kulit tidak terjadi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kriteria hasil :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suhu 36,5-37 C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak ada lecet atau kemerahan pada kulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tanda-tanda infeksi (-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 135pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi vital sign.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Observasi tekstur dan warna kulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lakukan tindakan secara aseptic dan antiseptic.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan   bayi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jaga kebersihan kulit bayi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ganti pakaian setiap basah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jaga kebersihan tempat tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lakukan mobilisasi tiap 2 jam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Monitor suhu dalam incubator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 23.4pt;" valign="top" width="31"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;6.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kecemasan orang tua b.d kurang pengetahuan   orang tua dan kondisi krisis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cemas berkurang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kriteria hasil :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang tua tampak tenang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang tua tidak bertanya-tanya lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang tua berpartisipasi dalam proses   perawatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 135pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kaji tingkat pengetahuan orang tua &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beri penjelasan tentang keadaan bayinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berikan support dan reinforcement atas apa yang   dapat dicapai oleh orang tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Latih orang tua tentang cara-cara perawatan bayi   dirumah sebelum bayi pulang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;http://askep.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-6629824062762914975?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/6629824062762914975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=6629824062762914975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6629824062762914975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6629824062762914975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/berat-badan-bayi-lahir-rendah-bblr.html' title='Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-6615261214936471591</id><published>2008-11-11T08:38:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T08:39:00.998-08:00</updated><title type='text'>Hipertensi</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mm Hg &lt;br /&gt;atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).&lt;br /&gt;Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG &lt;br /&gt;dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).&lt;br /&gt;Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah &lt;br /&gt;sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau &lt;br /&gt;lebih. (Barbara Hearrison 1997)&lt;br /&gt;Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah &lt;br /&gt;peningkatan tekanan darah yang abnormal dengan sistolik lebih dari 140 &lt;br /&gt;mmHg dan diastolic lebih dari 90 mmHg.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Etilogi.&lt;br /&gt;Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi &lt;br /&gt;terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan &lt;br /&gt;perifer&lt;br /&gt;Namun ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:&lt;br /&gt;a. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau &lt;br /&gt;transport Na.&lt;br /&gt;b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan &lt;br /&gt;tekanan darah meningkat.&lt;br /&gt;c. Stress Lingkungan&lt;br /&gt;d. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta &lt;br /&gt;pelabaran pembuluh darah.&lt;br /&gt;Berdasarkan etiologinya  Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:&lt;br /&gt;a. Hipertensi Esensial (Primer)&lt;br /&gt;Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti &lt;br /&gt;genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system &lt;br /&gt;rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.&lt;br /&gt;b. Hipertensi Sekunder&lt;br /&gt;Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. Penggunaan &lt;br /&gt;kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.&lt;br /&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke sel &lt;br /&gt;jugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Dan &lt;br /&gt;apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin &lt;br /&gt;yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada &lt;br /&gt;angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh &lt;br /&gt;darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.&lt;br /&gt;Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan &lt;br /&gt;retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan &lt;br /&gt;darah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan &lt;br /&gt;pada organ organ seperti jantung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah meningkatkan &lt;br /&gt;tekanan darah &gt; 140/90 mmHg, sakit kepala, epistaksis, pusing/migrain, &lt;br /&gt;rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, lemah dan lelah, &lt;br /&gt;muka pucat suhu tubuh rendah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komplikasi&lt;br /&gt;Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain mata &lt;br /&gt;berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan, &lt;br /&gt;gagal jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak.&lt;br /&gt;Penatalaksanaan Medis&lt;br /&gt;Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis &lt;br /&gt;penatalaksanaan:&lt;br /&gt;a. Penatalaksanaan Non Farmakologis.&lt;br /&gt;1. Diet&lt;br /&gt;Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan &lt;br /&gt;tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan &lt;br /&gt;kadar adosteron dalam plasma.&lt;br /&gt;2. Aktivitas.&lt;br /&gt;Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan &lt;br /&gt;batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, &lt;br /&gt;bersepeda atau berenang.&lt;br /&gt;b. Penatalaksanaan Farmakologis.&lt;br /&gt;Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam &lt;br /&gt;pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:&lt;br /&gt;1. Mempunyai efektivitas yang tinggi.&lt;br /&gt;2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.&lt;br /&gt;3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.&lt;br /&gt;4. Tidak menimbulakn intoleransi.&lt;br /&gt;5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.&lt;br /&gt;6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.&lt;br /&gt;Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti &lt;br /&gt;golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium, &lt;br /&gt;golongan penghambat konversi rennin angitensin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Test diagnostic.&lt;br /&gt;a. Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan &lt;br /&gt;(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : &lt;br /&gt;hipokoagulabilitas, anemia.&lt;br /&gt;b. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.&lt;br /&gt;c. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat &lt;br /&gt;diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.&lt;br /&gt;d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan &lt;br /&gt;ada DM.&lt;br /&gt;e. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati&lt;br /&gt;f. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang &lt;br /&gt;P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.&lt;br /&gt;g. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal, &lt;br /&gt;perbaikan ginjal.&lt;br /&gt;h. Poto dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, &lt;br /&gt;pembesaran jantung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;a.    Aktivitas/ Istirahat.&lt;br /&gt;Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.&lt;br /&gt; Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.&lt;br /&gt;b. Sirkulasi&lt;br /&gt;Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup &lt;br /&gt;dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.&lt;br /&gt;Tanda :Kenaikan TD, Nadi          denyutan jelas dari karotis, jugularis, &lt;br /&gt;radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, &lt;br /&gt;kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian &lt;br /&gt;kapiler mungkin lambat/ bertunda.&lt;br /&gt;c.  Integritas Ego.&lt;br /&gt; Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple &lt;br /&gt;(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.&lt;br /&gt; Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian, &lt;br /&gt;tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola &lt;br /&gt;bicara.&lt;br /&gt;d. Eliminasi&lt;br /&gt;Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat &lt;br /&gt;penyakit ginjal pada masa yang lalu.)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;e. Makanan/cairan&lt;br /&gt;Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak &lt;br /&gt;serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini &lt;br /&gt;(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic&lt;br /&gt;Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.&lt;br /&gt;f. Neurosensori&lt;br /&gt;Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala, &lt;br /&gt;subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan &lt;br /&gt;setelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur, &lt;br /&gt;epistakis).&lt;br /&gt;Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, &lt;br /&gt;efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.&lt;br /&gt;g. Nyeri/ ketidaknyaman&lt;br /&gt;Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakit &lt;br /&gt;kepala.&lt;br /&gt;h. Pernafasan&lt;br /&gt;Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, &lt;br /&gt;ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.&lt;br /&gt;Tanda:  Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi &lt;br /&gt;nafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.&lt;br /&gt;i. Keamanan&lt;br /&gt;Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.&lt;br /&gt;j. Pembelajaran/Penyuluhan&lt;br /&gt;Gejala: Faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosporosis, penyakit &lt;br /&gt;jantung, DM.&lt;br /&gt;Faktor faktor etnik seperti: orang Afrika-amerika, Asia Tenggara, &lt;br /&gt;penggunaan pil KB atau hormone lain, penggunaan alcohol/obat.&lt;br /&gt;Rencana pemulangan : bantuan dengan pemantau diri TD/perubahan dalam &lt;br /&gt;terapi obat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diagnosa, Kriteria hasil dan Intervensi Keperawatan&lt;br /&gt;Diagnosa 1 .&lt;br /&gt;Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi &lt;br /&gt;pembuluh darah.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban &lt;br /&gt;kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat &lt;br /&gt;diterima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang &lt;br /&gt;normal pasien.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Observasi tekanan darah (perbandingan dari tekanan memberikan gambaran &lt;br /&gt;yang lebih lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler).&lt;br /&gt;2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer (Denyutan &lt;br /&gt;karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati / palpasi. &lt;br /&gt;Dunyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi &lt;br /&gt;(peningkatan SVR) dan kongesti vena).&lt;br /&gt;3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. (S4 umum terdengar pada &lt;br /&gt;pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3 &lt;br /&gt;menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels, &lt;br /&gt;mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya &lt;br /&gt;atau gagal jantung kronik).&lt;br /&gt;4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler. &lt;br /&gt;(adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat &lt;br /&gt;mencerminkan dekompensasi / penurunan curah jantung).&lt;br /&gt;5. Catat adanya demam umum / tertentu. (dapat mengindikasikan gagal &lt;br /&gt;jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler).&lt;br /&gt;6. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas / keributan &lt;br /&gt;ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. (membantu untuk &lt;br /&gt;menurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan relaksasi).&lt;br /&gt;7. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi. (dapat &lt;br /&gt;menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang, &lt;br /&gt;sehingga akan menurunkan tekanan darah).&lt;br /&gt;8. Kolaborasi dengan dokter dlam pembrian therafi anti &lt;br /&gt;hipertensi,deuritik. (menurunkan tekanan darah).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dignosa 2&lt;br /&gt;Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak &lt;br /&gt;seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan, &lt;br /&gt;melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.&lt;br /&gt; Intervensi&lt;br /&gt;1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter : &lt;br /&gt;frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatan &lt;br /&gt;TD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, &lt;br /&gt;pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasien &lt;br /&gt;terhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja &lt;br /&gt;/ jantung).&lt;br /&gt;2. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan &lt;br /&gt;/ kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada &lt;br /&gt;aktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahat &lt;br /&gt;penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual).&lt;br /&gt;3. Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsi &lt;br /&gt;oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah &lt;br /&gt;oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan &lt;br /&gt;tiba-tiba pada kerja jantung).&lt;br /&gt;4. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, &lt;br /&gt;menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan &lt;br /&gt;energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan &lt;br /&gt;suplai dan kebutuhan oksigen).&lt;br /&gt;5. Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas. &lt;br /&gt;(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan &lt;br /&gt;mencegah kelemahan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diagnosa 3&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepela berhubungan dengan peningkatan &lt;br /&gt;tekanan vaskuler cerebral.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan tulang / terkontrol, mengungkapkan &lt;br /&gt;metode yang memberikan pengurangan, mengikuti regiment farmakologi yang &lt;br /&gt;diresepkan.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Pertahankan tirah baring selama fase akut. (Meminimalkan stimulasi / &lt;br /&gt;meningkatkan relaksasi).&lt;br /&gt;2. Beri tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, &lt;br /&gt;misalnya : kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher serta teknik &lt;br /&gt;relaksasi. (Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dengan &lt;br /&gt;menghambat / memblok respon simpatik, efektif dalam menghilangkan sakit &lt;br /&gt;kepala dan komplikasinya).&lt;br /&gt;3. Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan &lt;br /&gt;sakit kepala : mengejan saat BAB, batuk panjang,dan membungkuk. (Aktivitas &lt;br /&gt;yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya &lt;br /&gt;peningkatkan tekanan vakuler serebral).&lt;br /&gt;4. Bantu pasien dalam ambulasi  sesuai kebutuhan. (Meminimalkan penggunaan &lt;br /&gt;oksigen dan aktivitas yang berlebihan yang memperberat kondisi klien).&lt;br /&gt;5. Beri cairan, makanan lunak. Biarkan klien itirahat selama 1 jam setelah &lt;br /&gt;makan. (menurunkan kerja miocard sehubungan dengan kerja pencernaan).&lt;br /&gt;6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti ansietas, &lt;br /&gt;diazepam dll. (Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf &lt;br /&gt;simpatis).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diagnosa 4&lt;br /&gt;Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake &lt;br /&gt;nutrisi in adekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;klien dapat mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan, &lt;br /&gt;menunjukan perubahan pola makan, melakukan / memprogram olah raga yang &lt;br /&gt;tepat secara individu.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Kaji emahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan &lt;br /&gt;kegemukan. (Kegemukan adalah resiko tambahan pada darah tinggi, kerena &lt;br /&gt;disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan &lt;br /&gt;dengan masa tumbuh).&lt;br /&gt;2. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan &lt;br /&gt;lemak,garam dan gula sesuai indikasi. (Kesalahan kebiasaan makan menunjang &lt;br /&gt;terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk &lt;br /&gt;hipertensi dan komplikasinya, misalnya, stroke, penyakit ginjal, gagal &lt;br /&gt;jantung, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler &lt;br /&gt;dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi).&lt;br /&gt;3. Tetapkan keinginan klien menurunkan berat badan.  (motivasi untuk &lt;br /&gt;penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk &lt;br /&gt;menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak &lt;br /&gt;berhasil).&lt;br /&gt;4. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.  (mengidentivikasi &lt;br /&gt;kekuatan / kelemahan dalam program diit terakhir. Membantu dalam &lt;br /&gt;menentukan kebutuhan inividu untuk menyesuaikan / penyuluhan).&lt;br /&gt;5. Tetapkan rencana penurunan BB yang realistic dengan klien, Misalnya : &lt;br /&gt;penurunan berat badan 0,5 kg per minggu.  (Penurunan masukan kalori &lt;br /&gt;seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat &lt;br /&gt;badan 0,5 kg / minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan &lt;br /&gt;kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah &lt;br /&gt;kebiasaan makan).&lt;br /&gt;6. Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasukkapan &lt;br /&gt;dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat &lt;br /&gt;makanan dimakan.  (memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang &lt;br /&gt;dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk memfokuskan perhatian &lt;br /&gt;pada factor mana pasien telah / dapat mengontrol perubahan).&lt;br /&gt;7. Intruksikan dan Bantu memilih makanan yang tepat , hindari makanan &lt;br /&gt;dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging dll) &lt;br /&gt;dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan,jeroan).  &lt;br /&gt;(Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam &lt;br /&gt;mencegah perkembangan aterogenesis).&lt;br /&gt;8. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi. (Memberikan konseling dan &lt;br /&gt;bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Diagnosa 5 &lt;br /&gt;Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak &lt;br /&gt;efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekkuensinya, menyatakan &lt;br /&gt;kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi, mengidentifikasi potensial &lt;br /&gt;situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari dan mengubahnya.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Kaji keefektipan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, &lt;br /&gt;Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan &lt;br /&gt;berpartisipasi dalam rencana pengobatan.  (Mekanisme adaptif perlu untuk &lt;br /&gt;megubah pola hidup seorang, mengatasi hipertensi kronik dan &lt;br /&gt;mengintegrasikan terafi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari).&lt;br /&gt;2. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan &lt;br /&gt;konsentrasi, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala,  ketidak &lt;br /&gt;mampuan untuk mengatasi / menyelesaikan masalah.  (Manifestasi mekanisme &lt;br /&gt;koping maladaptive mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan &lt;br /&gt;diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic).&lt;br /&gt;3. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan &lt;br /&gt;strategi untuk mengatasinya.  (pengenalan terhadap stressor adalah langkah &lt;br /&gt;pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor).&lt;br /&gt;4. Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan partisifasi &lt;br /&gt;maksimum dalam rencana pengobatan.  (keterlibatan memberikan klien &lt;br /&gt;perasaan kontrol diri yang berkelanjutan. Memperbaiki keterampilan koping, &lt;br /&gt;dan dapat menigkatkan  kerjasama dalam regiment teraupetik.&lt;br /&gt;5. Dorong klien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup. Tanyakan &lt;br /&gt;pertanyaan seperti : apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda &lt;br /&gt;inginkan ?.   (Fokus perhtian klien pada realitas situasi yang relatif &lt;br /&gt;terhadap pandangan klien tentang apa yang diinginkan. Etika kerja keras, &lt;br /&gt;kebutuhan untuk kontrol dan focus keluar dapat mengarah pada kurang &lt;br /&gt;perhatian pada kebutuhan-kebutuhan personal).&lt;br /&gt;6. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan &lt;br /&gt;hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan ketibang membatalkan tujuan &lt;br /&gt;diri / keluarga.  (Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara &lt;br /&gt;realistic untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Diagnosa 6&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangn&lt;br /&gt;Kriteria hasil  &lt;br /&gt;1. Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan  regiment pengobatan.&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang &lt;br /&gt;perlu diperhatikan. Mempertahankan TD dalam parameter normal.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;3. Bantu klien dalam mengidentifikasi factor-faktor resiko kardivaskuler &lt;br /&gt;yang dapat diubah, misalnya : obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan &lt;br /&gt;kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alcohol (lebih dari 60 &lt;br /&gt;cc / hari dengan teratur) pola hidup penuh stress.  (Faktor-faktor resiko &lt;br /&gt;ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit &lt;br /&gt;kardiovaskuler serta ginjal).&lt;br /&gt;4. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.  &lt;br /&gt;(kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang &lt;br /&gt;sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal klien / orang terdekat untuk &lt;br /&gt;mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis. Bila klien tidak menerima &lt;br /&gt;realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku &lt;br /&gt;tidak akan dipertahankan).&lt;br /&gt;5. Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab, tanda dan &lt;br /&gt;gejala, pencegahan, pengobatan, dan  akibat lanjut.  (mengidentivikasi &lt;br /&gt;tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudahj &lt;br /&gt;dalam menentukan intervensi).&lt;br /&gt;6. Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi &lt;br /&gt;(pengertian,penyebab,tanda dan gejala,pencegahan, pengobatan, dan akibat &lt;br /&gt;lanjut) melalui penkes.  (Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien &lt;br /&gt;tentang proses penyakit hipertensi).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IV. Evaluasi&lt;br /&gt;Resiko penurunan jantung tidak terjadi, intoleransi aktivitas dapat &lt;br /&gt;teratasi, rasa sakit kepala berkurang bahkan hilang, klien dapat &lt;br /&gt;mengontrol pemasukan / intake nutrisi, klien dapat menggunakan mekanisme &lt;br /&gt;koping yang efektif dan tepat, klien paham mengenai kondisi penyakitnya.&lt;/p&gt;http://askep.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-6615261214936471591?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/6615261214936471591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=6615261214936471591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6615261214936471591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6615261214936471591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/hipertensi.html' title='Hipertensi'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-900387890049897373</id><published>2008-11-11T08:37:00.001-08:00</published><updated>2008-11-11T08:37:58.516-08:00</updated><title type='text'>Gastroentritis ( GE )</title><content type='html'>PENGERTIAN.&lt;br /&gt;Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).&lt;br /&gt;Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).&lt;br /&gt;Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley &amp;amp; Wong’s,1995).&lt;br /&gt;Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).&lt;br /&gt;Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gstroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PATOFISIOLOGI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.&lt;br /&gt;Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.&lt;br /&gt;Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.&lt;br /&gt;GEJALA KLINIS.&lt;br /&gt;a.Diare.&lt;br /&gt;b.Muntah.&lt;br /&gt;c.Demam.&lt;br /&gt;d.Nyeri Abdomen&lt;br /&gt;e.Membran mukosa mulut dan bibir kering&lt;br /&gt;f.Fontanel  Cekung&lt;br /&gt;g.Kehilangan berat badan&lt;br /&gt;h.Tidak nafsu makan&lt;br /&gt;i.Lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPLIKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a.Dehidrasi&lt;br /&gt;b.Renjatan hipovolemik&lt;br /&gt;c.Kejang&lt;br /&gt;d.Bakterimia&lt;br /&gt;e.Mal nutrisi&lt;br /&gt;f.Hipoglikemia&lt;br /&gt;g.Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan  sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.Dehidrasi  ringan&lt;br /&gt;Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.&lt;br /&gt;b.Dehidrasi Sedang&lt;br /&gt;Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.&lt;br /&gt;c.Dehidrasi Berat&lt;br /&gt;Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENATALAKSANAAN MEDIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a.Pemberian cairan.&lt;br /&gt;b.Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;1.Memberikan asi.&lt;br /&gt;2.Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.&lt;br /&gt;c.Obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;a. Pemberian cairan,pada klien Diare dengasn memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.&lt;br /&gt;1.cairan per oral.&lt;br /&gt;Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang,cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na,Hco,Kal dan Glukosa,untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan,atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/I dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.&lt;br /&gt;2.Cairan parenteral.&lt;br /&gt;Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi,yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.&lt;br /&gt;2.1.Dehidrasi ringan.&lt;br /&gt;2.1.1. 1 jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB / hari&lt;br /&gt;2.1.2. Kemudian 125 ml / Kg BB / oral&lt;br /&gt;2.2. Dehidrasi sedang.&lt;br /&gt;2.2.1. 1 jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral&lt;br /&gt;2.2.2. kemudian 125 ml / kg BB / hari.&lt;br /&gt;2.3. Dehidrasi berat.&lt;br /&gt;2.3.1. Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg&lt;br /&gt;•   1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.&lt;br /&gt;•   7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).&lt;br /&gt;• 16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.&lt;br /&gt;2.3.2. Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.&lt;br /&gt; 1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).&lt;br /&gt; 7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.&lt;br /&gt;2.3.3. Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.&lt;br /&gt; 1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).&lt;br /&gt; 16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.&lt;br /&gt;2.4. Diatetik ( pemberian makanan ).&lt;br /&gt;Terafi diatetik adalah pemberian makan dan minum khusus kepada penderita dengan tujuan meringankan,menyembuhkan serta menjaga kesehatan penderita.&lt;br /&gt;Hal – hal yang perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;2.4.1.    Memberikan Asi.&lt;br /&gt;2.4.2. Memberikan bahan makanan yang mengandung cukup kalori,protein,mineral dan vitamin,makanan harus bersih.&lt;br /&gt;2.5. Obat-obatan.&lt;br /&gt;2.5.1. Obat anti sekresi.&lt;br /&gt;2.5.2. Obat anti spasmolitik.&lt;br /&gt;2.5.3. Obat antibiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan laboratorium.&lt;br /&gt;1.1. Pemeriksaan tinja.&lt;br /&gt;1.2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan.&lt;br /&gt;1.3. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.&lt;br /&gt;2. pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TUMBUH KEMBANG ANAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang pengertian dari pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam besar, jumlah, ukuran atau dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan perkembangan adalah menitik beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ individu termasuk perubahan aspek dan emosional.&lt;br /&gt;Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan orang dewasa kecil, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara ekonomi.&lt;br /&gt;Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak, baik secara fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan masyarakat.&lt;br /&gt;Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan.&lt;br /&gt;d. Motorik halus.&lt;br /&gt;    1. Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.&lt;br /&gt;    2. Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya&lt;br /&gt;    3. Memasukkan benda kedalam mulutnya.&lt;br /&gt;    4. Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.&lt;br /&gt;    5. Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.&lt;br /&gt;e. Motorik kasar.&lt;br /&gt;    1. Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.&lt;br /&gt;    2. Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.&lt;br /&gt;    3. Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.&lt;br /&gt;f. Kognitif.&lt;br /&gt;    1. Berusaha memperluas lapangan.&lt;br /&gt;    2. Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.&lt;br /&gt;    3. Mulai mencari benda-benda yang hilang.&lt;br /&gt;g. Bahasa.&lt;br /&gt;Mengeluarkan suara ma, pa, ba walaupun kita berasumsi ia sudah dapat memanggil kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAMPAK HOSPITALISASI TERHADAP ANAK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    a. Separation ansiety&lt;br /&gt;    b. Tergantung pada orang tua&lt;br /&gt;    c. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti&lt;br /&gt;    d. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, &lt;br /&gt;       menarik diri, sedih, kesepian dan apatis&lt;br /&gt;    e. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan&lt;br /&gt;       dengan orang lain dan menyukai lingkungan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;PENGKAJIAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,observasi,psikal assessment. Kaji data menurut Cyndi Smith Greenberg,1992 adalah :&lt;br /&gt;1. Identitas klien.&lt;br /&gt;2. Riwayat keperawatan.&lt;br /&gt;2.1. Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.&lt;br /&gt;2.2. Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.&lt;br /&gt;3. Riwayat kesehatan masa lalu.&lt;br /&gt;Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.&lt;br /&gt;4. Riwayat psikososial keluarga.&lt;br /&gt;Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.&lt;br /&gt;5. Kebutuhan dasar.&lt;br /&gt;5.1. Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang.&lt;br /&gt;5.2. Pola nutrisi : diawali dengan mual,muntah,anopreksia,menyebabkan penurunan berat badan pasien.&lt;br /&gt;5.3. Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;5.4. Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.&lt;br /&gt;5.5. Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.&lt;br /&gt;6. Pemerikasaan fisik.&lt;br /&gt;6.1. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat.&lt;br /&gt;6.2.   Pemeriksaan sistematik :&lt;br /&gt;6.2.1. Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun  besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan.&lt;br /&gt;6.2.2. Perkusi : adanya distensi abdomen.&lt;br /&gt;6.2.3. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis&lt;br /&gt;6.2.4. Auskultasi : terdengarnya bising usus.&lt;br /&gt;6.3.   Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.&lt;br /&gt;Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.&lt;br /&gt;6.4.  Pemeriksaan penunjang.&lt;br /&gt;Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERWATAN.&lt;br /&gt;1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;br /&gt;2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;br /&gt;4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;br /&gt;6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 1. &lt;br /&gt;Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;br /&gt;Tujuan .&lt;br /&gt;Devisit cairan dan elektrolit teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 2.  &lt;br /&gt;Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 3.  &lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 4.    &lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Nyeri dapat teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 5.   &lt;br /&gt;Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Pengetahuan keluarga meningkat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 6.  &lt;br /&gt;Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVALUASI.&lt;br /&gt;1.Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;2.Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh.&lt;br /&gt;3.Integritas kulit kembali noprmal.&lt;br /&gt;4.Rasa nyaman terpenuhi.&lt;br /&gt;5.Pengetahuan kelurga meningkat.&lt;br /&gt;6.Cemas pada klien teratasi.&lt;br /&gt;http://askep.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-900387890049897373?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/900387890049897373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=900387890049897373' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/900387890049897373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/900387890049897373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/gastroentritis-ge.html' title='Gastroentritis ( GE )'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3912300587534540549</id><published>2008-11-11T08:34:00.001-08:00</published><updated>2008-11-11T08:36:59.214-08:00</updated><title type='text'>Atrium Septal Defek (ASD)</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Pengertian&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron.&lt;br /&gt;Tiga macam variasi yang terdapat pada ASD, yaitu&lt;br /&gt;1. Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum, mungkin disertai kelainan katup mitral.&lt;br /&gt;2. Ostium Secundum (ASD 2), letak lubang di tengah septum.&lt;br /&gt;3. Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior dan Atrium Kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Patofisiologi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah yang mengandung oksigen dari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. Aliran yang melalui defek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut. Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikel kiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibatvolume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Jika complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan bisa berkurang. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Etiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD.&lt;br /&gt;Faktor-faktor tersebut diantaranya :&lt;br /&gt;1. Faktor Prenatal&lt;br /&gt;a. Ibu menderita infeksi Rubella&lt;br /&gt;b. Ibu alkoholisme&lt;br /&gt;c. Umur ibu lebih dari 40 tahun&lt;br /&gt;d. Ibu menderita IDDM&lt;br /&gt;e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu&lt;br /&gt;2. Faktor genetik&lt;br /&gt;a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB&lt;br /&gt;b. Ayah atau ibu menderita PJB&lt;br /&gt;c. Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down&lt;br /&gt;d. Lahir dengan kelainan bawaan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan hemodinamik&lt;br /&gt;Tekanan di Atrium kiri lebih tinggi daripada tekanan di Atrium Kanan sehingga memungkinkan aliran darah dari Atrium Kiri ke Atrium Kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi&lt;br /&gt;1. Bising sistolik tipe ejeksi di daerah sela iga dua/tiga pinggir sternum kiri.&lt;br /&gt;2. Dyspnea&lt;br /&gt;3. Aritmia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan penunjang&lt;br /&gt;1. Laboratorium&lt;br /&gt;2. Foto thorax&lt;br /&gt;3. EKG ; deviasi aksis ke kiri pada ASD primum dan deviasi aksis ke kanan pada ASD Secundum; RBBB,RVH&lt;br /&gt;4. Echo&lt;br /&gt;5. Kateterisasi jantung ; prosedur diagnostik dimana kateter radiopaque dimasukan kedalam serambi jantung melalui pembuluh darah perifer, diobservasi dengan fluoroskopi atau intensifikasi pencitraan; pengukuran tekanan darah dan sample darah memberikan sumber-sumber informasi tambahan.&lt;br /&gt;6. TEE (Trans Esophageal Echocardiography)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplikasi&lt;br /&gt;1. Gagal Jantung&lt;br /&gt;2. Penyakit pembuluh darah paru&lt;br /&gt;3. Endokarditis&lt;br /&gt;4. Aritmia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi medis/pemeriksaan penunjang&lt;br /&gt;1. Pembedahan penutupan defek dianjurkan pada saat anak berusia 5-10 tahun. Prognosis sangat ditentukan oleh resistensi kapiler paru, dan bila terjadi sindrome Eisenmenger, umumnya menunjukkan prognosis buruk.&lt;br /&gt;2. Amplazer Septal Ocluder&lt;br /&gt;3. Sadap jantung (bila diperlukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Asuhan Keperawatan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;a. Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.&lt;br /&gt;b. Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;c. Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:&lt;br /&gt;- Inspeksi :&lt;br /&gt;Status nutrisi¬¬ – Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung.&lt;br /&gt;Warna – Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit jantung.&lt;br /&gt;Deformitas dada – Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.&lt;br /&gt;Pulsasi tidak umum – Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.&lt;br /&gt;Ekskursi pernapasan – Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya dengkur ekspirasi).&lt;br /&gt;Jari tabuh – Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.&lt;br /&gt;Perilaku – Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenis penyakit jantung.&lt;br /&gt;- Palpasi dan perkusi :&lt;br /&gt;Dada – Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)&lt;br /&gt;Abdomen – Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.&lt;br /&gt;Nadi perifer – Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan ketidaksesuaian.&lt;br /&gt;- Auskultasi&lt;br /&gt;Jantung – Mendeteksi adanya murmur jantung.&lt;br /&gt;Frekwensi dan irama jantung – Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.&lt;br /&gt;Paru-paru – Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.&lt;br /&gt;Tekanan darah – Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)&lt;br /&gt;Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian – mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, fluoroskopi, ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah), kateterisasi jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Rencana asuhan keperawatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Diagnosa keperawatan : Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia.&lt;br /&gt;b. Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kgbb, bergantung pada usia )&lt;br /&gt;Intervensi keperawatan/rasional&lt;br /&gt;a. Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.&lt;br /&gt;b. Beri obat penurun afterload sesuai program&lt;br /&gt;c. Beri diuretik sesuai program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.&lt;br /&gt;b. Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat.&lt;br /&gt;Intervensi keperawatan/rasional&lt;br /&gt;a. Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan.&lt;br /&gt;b. Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.&lt;br /&gt;c. Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.&lt;br /&gt;d. Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.&lt;br /&gt;e. Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.&lt;br /&gt;f. Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Diagnosa keperawatan : Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan.&lt;br /&gt;Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan usia&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat.&lt;br /&gt;b. Anak melakukan aktivitas sesuai usia&lt;br /&gt;c. Anak tidak mengalami isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan/rasional&lt;br /&gt;a. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.&lt;br /&gt;b. Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.&lt;br /&gt;c. Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.&lt;br /&gt;d. Dorong aktivitas yang sesuai usia.&lt;br /&gt;e. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.&lt;br /&gt;f. Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Diagnosa keperawatan : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien tidak menunjukkan bukti-bukti infeksi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Anak bebas dari infeksi.&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan/rasional&lt;br /&gt;a. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi&lt;br /&gt;b. Beri istirahat yang adekuat&lt;br /&gt;c. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien/keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi secara dini.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat.&lt;br /&gt;b. Klien/keluarga menunjukkan pemahaman tentang tes diagnostik dan pembedahan.&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan/rasional&lt;br /&gt;a. Ajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi :&lt;br /&gt;Gagal jantung kongestif :&lt;br /&gt;- Takikardi, khususnya selama istirahat dan aktivitas ringan.&lt;br /&gt;- Takipnea&lt;br /&gt;- Keringat banyak di kulit kepala, khususnya pada bayi.&lt;br /&gt;- Keletihan&lt;br /&gt;- Penambahan berat badan yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;- Distress pernapasan&lt;br /&gt;Toksisitas digoksin&lt;br /&gt;- Muntah (tanda paling dini)&lt;br /&gt;- Mual&lt;br /&gt;- Anoreksia&lt;br /&gt;- Bradikardi.&lt;br /&gt;Disritmia&lt;br /&gt;Peningkatan upaya pernapasan – retraksi, mengorok, batuk, sianosis.&lt;br /&gt;Hipoksemia – sianosis, gelisah.&lt;br /&gt;Kolaps kardiovaskular – pucat, sianosis, hipotonia.&lt;br /&gt;b. Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik&lt;br /&gt;- Tempatkan anak pada posisi lutut-dada dengan kepala dan dada ditinggikan.&lt;br /&gt;- Tetap tenang.&lt;br /&gt;- Beri oksigen 100% dengan masker wajah bila ada.&lt;br /&gt;- Hubungi praktisi&lt;br /&gt;c. Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga.&lt;br /&gt;d. Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur.&lt;br /&gt;e. Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.&lt;br /&gt;f. Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Diagnosa Keperawatan : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas&lt;br /&gt;Klien menunjukkan perilaku koping yang positif&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya&lt;br /&gt;Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan/rasional :&lt;br /&gt;a. Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.&lt;br /&gt;b. Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.&lt;br /&gt;c. Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;d. Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi&lt;br /&gt;Proses : langsung setalah setiap tindakan&lt;br /&gt;Hasil : tujuan yang diharapkan&lt;br /&gt;1. Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan usia&lt;br /&gt;2. Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia&lt;br /&gt;3. Anak bebas dari komplikasi pascabedah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM (1996), Balai Penerbit FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;Buku Ajar KEPERAWATAN KARDIOVASKULER (2001), Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, Jakarta.&lt;br /&gt;Buku Saku Keperawatan Pediatrik (2002), Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;http://askep.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3912300587534540549?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3912300587534540549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3912300587534540549' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3912300587534540549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3912300587534540549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/atrium-septal-defek-asd.html' title='Atrium Septal Defek (ASD)'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-4582555229478785714</id><published>2008-11-11T08:34:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T08:35:51.846-08:00</updated><title type='text'>Dokumentasi keperawatan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dokumentasi keperawatan sangat diperlukan sebagai bukti dari apa yang telah perawat lakukan untuk memulihkan kesehatan pasien. Tetapi, proses pendokumentasian keperawatan ini banyak dikeluhkan baik oleh perawat itu sendiri maupun oleh orang luar karena prosesnya yang cukup memakan waktu. Sudah semestinya kita memanfaatkan teknologi komputer untuk membantu proses ini. Setahu saya, baru RS Banyumas yang telah ”menDigitalkan” dokumentasi keperawatan ini, silahkan anda kunjungi blog perawatbanyumas.wordpress.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;L EMBAR RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanggal                               :&lt;br /&gt;Nama Pemberi asuhan :&lt;br /&gt;Ruangan                              :&lt;br /&gt;Inisial Pasien                   :&lt;br /&gt;Diagnosa medis               :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian                         :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;/strong&gt;: copy and paste dari NNN Linkages/NANDA atau &lt;a href="http://www.asuhankeperawatan.com/?id=susilawati"&gt;klik disini&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Definisi    &lt;/strong&gt;                            : copy and paste dari NNN Linkages/NANDA  atau &lt;a href="http://www.asuhankeperawatan.com/?id=susilawati"&gt;klik disini&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Data Objektif/subjektif :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan NOC&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.asuhankeperawatan.com/?id=susilawati"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Tujuan :&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.asuhankeperawatan.com/?id=susilawati"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Definisi setiap Kriteria hasil (copy and paste dari NNN Linkages or, lihat NOC)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Keperawatan NIC&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Nursing Intervention (Ceklist) (Lihat diagram dibawah):&lt;br /&gt;1. Dasar : Fisiologi (Class A-F) &lt;br /&gt;2. Kompleks : Fisiologis (Class G-N) &lt;br /&gt;3. Perilaku (Class O-T) &lt;br /&gt;4. Keamanan (Class U-V)&lt;br /&gt;5. Keluarga (Class W, X, Z)&lt;br /&gt;6. Sistem Kesehatan (Class Ya-Yb)&lt;br /&gt;  7. Komunitas (Class Yc-Yd)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Definisi dari tiap intervensi&lt;/strong&gt; : (copy and paste  dari NNN Linkages or, see NIC):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References (APA style) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok NIC&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dasar : Fisiologis&lt;br /&gt;     A. Manajemen Aktivitas dan latihan&lt;br /&gt;    B. Manajemen Eliminasi  &lt;br /&gt;    C. Manajemen Immobilisasi  &lt;br /&gt;    D. Dukungan Nutrisi  &lt;br /&gt;    E. Promasi kesehatan fisik  &lt;br /&gt;    F. Fasilitasi Perawatan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kompleks : Fisiologis&lt;br /&gt;    G. Manajemen elektrolit dan asam-basa&lt;br /&gt;    H. Manajemen obat&lt;br /&gt;    I.  Manajemen neurology&lt;br /&gt;    J.  Perawatan Perioperatif&lt;br /&gt;    K. Manajemen Respiratori&lt;br /&gt;    L. Manajemen kulit/luka&lt;br /&gt;   M. Thermoregulasi&lt;br /&gt;       N. Manajemen perfusi jaringan&lt;br /&gt;   S. Pendidikan pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perilaku&lt;br /&gt;     O. Terapi perilaku&lt;br /&gt;    P. Terapi kognitif&lt;br /&gt;    Q. Peningkatan komunikasi&lt;br /&gt;    T. Promosi kesehatan psikologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keamanan&lt;br /&gt;     U. Manajemen Krisis&lt;br /&gt;   V. Manajemen risiko&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  5. Keluarga&lt;br /&gt;    W. Perawatan Childbearing&lt;br /&gt;     Z. Perawatan Childrearing  &lt;br /&gt;     X. Lifespan Care&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sistem Kesehatan&lt;br /&gt;    Y.   Mediasi Sistem Kesehatan&lt;br /&gt;    Ya. Manajemen Sistem Kesehatan&lt;br /&gt;    Yb. Manajemen Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Komunitas&lt;br /&gt;    Yc. Promosi kesehatan Komunitas&lt;br /&gt;    Yd. Manajemen komunitas berisiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NANDA : North American Nursing Diagnosis Association&lt;br /&gt;NOC : Nursing Intervention Classification&lt;br /&gt;NIC : Nursing Outcome Classification&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CONTOH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;/strong&gt; : Kerusakan pertukaran gas&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Definisi&lt;/strong&gt;                                         : Keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas (O2 dan&lt;br /&gt;      CO2) yang aktual atau risiko antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TANDA DAN GEJALA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Data mayor :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dispnea saat melakukan aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Data minor :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bingung/agitasi.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kecenderungan untuk mengambil posisi tiga titik (duduk, 1 tangan pada setiap lutut, condong kedepan).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bernapas dengan bibir dengan fase ekspirasi yang lama.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Letargi dan keletihan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peningkatan tahanan vaskular pulmonal.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penurunan motilitas lambung.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penurunan isi oksigen, penurunan saturasi O2, penurunan PCO2 seperti yang diperlihatkan oleh hasil analisa gas darah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sianosis.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Faktor-faktor yang berhubungan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Patofisiologis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berhubungan dengan sekresi yang kental atau sekresi yang berlebihan, sekunder terhadap :&lt;br /&gt;                        Infeksi&lt;br /&gt;                        Fibrosis kistik&lt;br /&gt;                        Influensa&lt;br /&gt;Berhubungan dengan imobilitas, sekresi statis, dan batuk tidak efektif, sekunder terhadap :&lt;br /&gt;                         Penyakit persarafan (Sindrom guillain barre, miastenia gravis)&lt;br /&gt;                         Depresi sistem saraf pusat/trauma kepala&lt;br /&gt;                         Cedera serebrovaskular (stroke)&lt;br /&gt;                         Quadriplegia&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tindakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berhubungan dengan imobilitas, sekunder terhadap :&lt;br /&gt;                         Efek sedasi dari medikasi&lt;br /&gt;                         Anestesia umum atau spinal&lt;br /&gt;Berhubungan dengan supresi refleks batuk&lt;br /&gt;Berhubungan dengan penurunan oksigen dalam udara inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasional (Personal, lingkungan)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berhubungan dengan imobilitas&lt;br /&gt;                        Pembedahan atau trauma&lt;br /&gt;                        Nyeri, ketakutan, ansietas&lt;br /&gt;                        Keletihan&lt;br /&gt;                        Kerusakan persepsi/kognitif&lt;br /&gt;Berhubungan dengan kelembaban yang sangat tinggi atau rendah&lt;br /&gt;Berhubungan dengan hilangnya mekanisme pembersiha siliar, respons inflamasi, dan peningkatan pembentukan lendir, sekunder terhadap merokok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-4582555229478785714?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/4582555229478785714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=4582555229478785714' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4582555229478785714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/4582555229478785714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/dokumentasi-keperawatan.html' title='Dokumentasi keperawatan'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3483288810524643108</id><published>2008-11-11T08:33:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T08:34:33.245-08:00</updated><title type='text'>Marasmus</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://asuhankeperawatan.com/?id=rusari"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGERTIAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).&lt;br /&gt;• Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).&lt;br /&gt;• Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212).&lt;br /&gt;• Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157).&lt;br /&gt;• Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.&lt;br /&gt;• Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk :&lt;br /&gt;1. Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.&lt;br /&gt;2. Sebagai cadangan protein tubuh.&lt;br /&gt;3. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen).&lt;br /&gt;4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.&lt;br /&gt;5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.&lt;br /&gt;Dalam darah ada 3 fraksi protein, yaitu : Albumin, globulin, fibrinogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ETIOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;• Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).&lt;br /&gt;• Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PATOFISIOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MANIFESTASI KLINIK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua&lt;br /&gt;2. Lethargi&lt;br /&gt;3. Irritable&lt;br /&gt;4. Kulit keriput (turgor kulit jelek)&lt;br /&gt;5. Ubun-ubun cekung pada bayi&lt;br /&gt;6. Jaingan subkutan hilang&lt;br /&gt;7. Malaise&lt;br /&gt;8. Kelaparan&lt;br /&gt;9. Apatis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENATALAKSANAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.&lt;br /&gt;2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.&lt;br /&gt;3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.&lt;br /&gt;4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan KKP berat&lt;br /&gt;Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi.&lt;br /&gt;Upaya pengobatan, meliputi :&lt;br /&gt;- Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.&lt;br /&gt;- Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik&lt;br /&gt;- Pengobatan infeksi&lt;br /&gt;- Pemberian makanan&lt;br /&gt;- Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arisman, 2004:105&lt;br /&gt;- Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.&lt;br /&gt;- Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam.&lt;br /&gt;- Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam.&lt;br /&gt;- Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.&lt;br /&gt;- Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nuchsan Lubis&lt;br /&gt;Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :&lt;br /&gt;1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.&lt;br /&gt;- cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%.&lt;br /&gt;- Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.&lt;br /&gt;- Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.&lt;br /&gt;- Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.&lt;br /&gt;2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan&lt;br /&gt;- Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.&lt;br /&gt;- Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.&lt;br /&gt;- Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;a. Mengukur TB dan BB&lt;br /&gt;b. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter)&lt;br /&gt;c. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.&lt;br /&gt;d. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).&lt;br /&gt;2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FOKUS INTERVENSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Pasien mendapat nutrisi yang adekuat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;meningkatkan masukan oral.&lt;br /&gt;Intervensi  :&lt;br /&gt;a. Dapatkan riwayat diet&lt;br /&gt;b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan&lt;br /&gt;c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan&lt;br /&gt;d. Gunakan alat makan yang dikenalnya&lt;br /&gt;e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka&lt;br /&gt;f. Sajikan makansedikit tapi sering&lt;br /&gt;g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Tidak terjadi dehidrasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt; Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi&lt;br /&gt;b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan&lt;br /&gt;c. Ukur haluaran urine dengan akurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000).&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Tidak terjadi gangguan integritas kulit&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal&lt;br /&gt;Intervesi :&lt;br /&gt;a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi&lt;br /&gt;b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi&lt;br /&gt;c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang&lt;br /&gt;d. Alih baring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan&lt;br /&gt;b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril&lt;br /&gt;c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi&lt;br /&gt;d. Beri antibiotik sesuai program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;pengetahuan pasien dan keluarga bertambah&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien&lt;br /&gt;b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi&lt;br /&gt;c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat&lt;br /&gt;d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157).&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.&lt;br /&gt;b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II&lt;br /&gt;c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan&lt;br /&gt;d. Berikan mainan sesuai usia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia&lt;br /&gt;b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143).&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Kelebihan volume cairan tidak terjadi.&lt;br /&gt;Kriteria hasil  :&lt;br /&gt;Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan&lt;br /&gt;b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam&lt;br /&gt;c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : &lt;a href="http://asuhankeperawatan.com/?id=rusari"&gt;Rusli Arif&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3483288810524643108?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3483288810524643108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3483288810524643108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3483288810524643108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3483288810524643108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/marasmus.html' title='Marasmus'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-3432322070385760510</id><published>2008-11-11T08:30:00.001-08:00</published><updated>2008-11-11T08:33:18.241-08:00</updated><title type='text'>Askep Anak dengan Hirsprung</title><content type='html'>&lt;strong&gt;A. Pengertian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pengertian mengenai Mega Colon, namun pada intinya sama yaitu penyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter rectum berelaksasi.&lt;br /&gt;Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan ( Betz, Cecily &amp;amp; Sowden : 2000 ). Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir  3 Kg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan. ( Arief Mansjoeer, 2000 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Etiologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang menjadi penyebab Hirschsprung atau Mega Colon itu sendiri adalah diduga terjadi karena faktor genetik dan lingkungan sering terjadi pada anak dengan Down syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Patofisiologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily &amp;amp; Sowden, 2002:197).&lt;br /&gt;Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal.&lt;br /&gt;Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S &amp;amp; Wilson, 1995 : 141 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Manifestasi Klinis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan Meconium dalam 24 – 28 jam pertama setelah lahir. Tampak malas mengkonsumsi cairan, muntah bercampur dengan cairan empedu dan distensi abdomen. (Nelson, 2000 : 317).&lt;br /&gt;Gejala Penyakit Hirshsprung adalah obstruksi usus letak rendah, bayi dengan Penyakit Hirshsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai berikut. Obstruksi total saat lahir dengan muntaah, distensi abdomen dan ketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi meconium diikuti obstruksi konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala rigan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Konstipasi ringan entrokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Adanya feses yang menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang khas. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi abdomen hebat dan diare berbau busuk yang dapat berdarah ( Nelson, 2002 : 317 ).&lt;br /&gt;1. Anak – anak&lt;br /&gt;a Konstipasi&lt;br /&gt;b Tinja seperti pita dan berbau busuk&lt;br /&gt;c Distenssi abdomen&lt;br /&gt;d Adanya masa difecal dapat dipalpasi&lt;br /&gt;e Biasanya tampak kurang nutrisi dan anemi ( Betz cecily &amp;amp; sowden, 2002 : 197 ).&lt;br /&gt;2. Komplikasi&lt;br /&gt;a Obstruksi usus&lt;br /&gt;b Konstipasi&lt;br /&gt;c Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit&lt;br /&gt;d Entrokolitis&lt;br /&gt;e Struktur anal dan inkontinensial ( pos operasi ) ( Betz cecily &amp;amp; sowden, 2002 : 197 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Pemeriksaan Penunjang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan dengan barium enema, dengan pemeriksaan ini akan bisa ditemukan :&lt;br /&gt;a Daerah transisi&lt;br /&gt;b Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang menyempit&lt;br /&gt;c Entrokolitis padasegmen yang melebar&lt;br /&gt;d Terdapat retensi barium setelah 24 – 48 jam ( Darmawan K, 2004 : 17 )&lt;br /&gt;2. Biopsi isap&lt;br /&gt;Yaitu mengambil mukosa dan sub mukosa dengan alat penghisap dan mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa ( Darmawan K, 2004 :17 )&lt;br /&gt;3. Biopsi otot rektum&lt;br /&gt;Yaitu pengambilan lapisan otot rektum&lt;br /&gt;4. Periksaan aktivitas enzim asetil kolin esterase dari hasil biobsi isap pada penyakit ini khas terdapat peningkatan, aktifitas enzimasetil kolin esterase ( Darmawan K, 2004 : 17 )&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsi usus&lt;br /&gt;( Betz, cecily &amp;amp; Sowden, 2002 : 197 )&lt;br /&gt;6. Pemeriksaan colok anus&lt;br /&gt;Pada pemeriksaan ini jari akan merasakan jepitan dan pada waktu tinja yang menyemprot. Pemeriksaan ini untuk mengetahu bahu dari tinja, kotoran yang menumpuk dan menyumbat pada usus di bagian bawah dan akan terjadi pembusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. Penatalaksanaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Medis&lt;br /&gt;Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di usus besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal.&lt;br /&gt;Ada dua tahapan dalam penatalaksanaan medis yaitu :&lt;br /&gt;a Temporari ostomy dibuat proksimal terhadap segmen aganglionik untuk melepaskan obstruksi dan secara normal melemah dan terdilatasinya usus besar untuk mengembalikan ukuran normalnya.&lt;br /&gt;b Pembedahan koreksi diselesaikan atau dilakukan lagi biasanya saat berat anak mencapai sekitar 9 Kg ( 20 pounds ) atau sekitar 3 bulan setelah operasi pertama ( Betz Cecily &amp;amp; Sowden 2002 : 98 )&lt;br /&gt;Ada beberapa prosedur pembedahan yang dilakukan seperti Swenson, Duhamel, Boley &amp;amp; Soave. Prosedur Soave adalah salah satu prosedur yang paling sering dilakukan terdiri dari penarikan usus besar yang normal bagian akhir dimana mukosa aganglionik telah diubah ( Darmawan K 2004 : 37 )&lt;br /&gt;2. Perawatan&lt;br /&gt;Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya bila ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal, perhatikan utama antara lain :&lt;br /&gt;a Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada anak secara dini&lt;br /&gt;b Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak&lt;br /&gt;c Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis ( pembedahan )&lt;br /&gt;d Mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana pulang ( FKUI, 2000 : 1135 )&lt;br /&gt;Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak – anak dengan mal nutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai status fisiknya meningkat. Hal ini sering kali melibatkan pengobatan simptomatik seperti enema. Diperlukan juga adanya diet rendah serat, tinggi kalori dan tinggi protein serta situasi dapat digunakan nutrisi parenteral total ( NPT )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konsep Tumbuh Kembang Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Konsep tumbuh kembang anak difokuskan pada usia todler yakni 1 – 3 tahun bisa juga dimasukkan dalam tahapan pre operasional yakni umur 2 – 7 tahun. Menurut Yupi. S ( 2004 ) berdasarkan teori peaget bahwa masa ini merupakan gambaran kongnitif internal anak tentang dunia luar dengan berbagai kompleksitasnya yang tumbuh secara bertahap merupakan suatu masa dimana pikiran agak terbatas. Anak mampu menggunakan simbul melalui kata – kata, mengingat sekarang dan akan datang. Anak mampu membedakan dirinya sendiri dengan objek dalam dunia sekelilingnya baik bahasa maupun pikiranya bercirikan egesenterisme, ia tidak mahu menguasai ide persamaan terutama berkaitan dengan masalah–masalah secara logis, tetapi dalam situasi bermain bebas ia cenderung untuk memperlihatkan perilaku logis dan berakal sehat pada tahap ini akan mulai mengenal tubuhnya&lt;br /&gt;Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang dapat diukur dengan ukuran berat ( gram, pounnd, kilogram ). Ukuran panjang ( cm, meter ). Umur tulang dan keseimbangan metabolik ( retensi kalium dan nitrogen tubuh ). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi yang lebih komplek dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan ( Soetjiningsih, 1998: 1 ).&lt;br /&gt;Pada pertumbuhan fisik dapat dinilai pertambahan berat badan sebanyak 2,2 Kg/ tahun dan tinggi badan akan bertambah kira – kira 7,5 cm/ tahun. Proporsi tumbuh berubah yaitu lengan dan kaki tumbuh lebih cepat dari pada kepala dan badan lorosis lumbal pada medulla spinalis kurang terlihat dan tungkai mempunyai tampilan yang bengkok. Lingkar kepala meningkat 2,5 cm/ tahun dan fontanella anterior menutup pada usia 15 bulan. Gigi molar pertama dan molar kedua serta gigi taring mulai muncul ( Betz &amp;amp; Sowden, 2002: 546 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.  Strategi Pengurangan Dampak Hospitalisasi Pada Usia Todler&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada usia todler anak cenderung egosentris maka dalam menjelaskan prosedur dalam hubungan dengan cara apa yang akan anak lihat, dengar, bau, raba dan rasakan. Katakan pada anak tidak apa- apa menangis atau gunakan ekspresi verbal untuk mengatakan tidak nyaman.&lt;br /&gt;Pada usia ini juga mengalami keterbatasan kemampuan berkomunikasi lebih sering menggunakan perilaku atau sikap. Sedikit pendekatan yang sederhana menggunkan contoh peralatan yang kecil ( ijinkan anak untuk memegang peralatan ) menggunakan permainan.&lt;br /&gt;Pada usia ini menjadikan hubungan yang sulit antara anak dengan perawat diperlukan orang tua pada keadaan ini, apapun cara yang dilakukan anaka harus merupakan pertimbangan pertama. Ibu harus didorong untuk tinggal atau paling sedikit mengunjungi anaknya sesering mungkin ( Yupi, S 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Fokus Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi ketidakmampuan Kolon mengevakuasi feces ( Wong, Donna, 2004 : 508 )&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;1. anak dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi sampai fungsi eliminasi secara normal dan bisa dilakukan&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;1. Pasien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adapatasi&lt;br /&gt;2. Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1. Berikan bantuan enema dengan cairan Fisiologis NaCl 0,9 %&lt;br /&gt;2. Observasi tanda vital dan bising usus setiap 2 jam sekali&lt;br /&gt;3. Observasi pengeluaran feces per rektal – bentuk, konsistensi, jumlah&lt;br /&gt;4. Observasi intake yang mempengaruhi pola dan konsistensi feses&lt;br /&gt;5. Anjurkan untuk menjalankan diet yang telah dianjurkan&lt;br /&gt;b. Perubahan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh berhubungan dengan saluran pencernaan mual dan muntah&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;1. Pasien menerima asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;1. Berat badan pasien sesuai dengan umurnya&lt;br /&gt;2. Turgor kulit pasien lembab&lt;br /&gt;3. Orang tua bisa memilih makanan yang di anjurkan&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Berikan asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan&lt;br /&gt;2. Ukur berat badan anak tiap hari&lt;br /&gt;3. Gunakan rute alternatif pemberian nutrisi ( seperti NGT dan parenteral ) untuk mengantisipasi pasien yang sudah mulai merasa mual dan muntah&lt;br /&gt;c. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang (Betz, Cecily &amp;amp; Sowden 2002:197)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;1. Status hidrasi pasien dapat mencukupi kebutuhan tubuh&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;1. Turgor kulit lembab.&lt;br /&gt;2. Keseimbangan cairan.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Berikan asupan cairan yang adekuat pada pasien&lt;br /&gt;2. Pantau tanda – tanda cairan tubuh yang tercukupi turgor, intake – output&lt;br /&gt;3. Observasi adanay peningkatan mual dan muntah antisipasi devisit cairan tubuh dengan segera&lt;br /&gt;d. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatanya. ( Whaley &amp;amp; Wong, 2004 ).&lt;br /&gt;Tujuan : pengetahuan pasien tentang penyakitnyaa menjadi lebih adekuat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;1. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakitnyaa, perawatan dan obat – obatan. Bagi penderita Mega Colon meningkat daan pasien atau keluarga mampu menceritakanya kembali&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal – hal yang ingn diketahui sehubunagndengan penyaakit yang dialami pasien&lt;br /&gt;2. Kaji pengetahuan keluarga tentang Mega Colon&lt;br /&gt;3. Kaji latar belakang keluarga&lt;br /&gt;4. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan serta obat – obatan pada keluarga pasien&lt;br /&gt;5. Jelaskan semua prosedur yang akan dilaksanakan dan manfaatnya bagi pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from rusli arif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-3432322070385760510?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/3432322070385760510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=3432322070385760510' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3432322070385760510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/3432322070385760510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/askep-anak-dengan-hirsprung_11.html' title='Askep Anak dengan Hirsprung'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-1904916305530046788</id><published>2008-11-11T08:30:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T08:32:22.685-08:00</updated><title type='text'>Askep Anak dengan Hirsprung</title><content type='html'>&lt;strong&gt;A. Pengertian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pengertian mengenai Mega Colon, namun pada intinya sama yaitu penyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter rectum berelaksasi.&lt;br /&gt;Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan ( Betz, Cecily &amp;amp; Sowden : 2000 ). Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir  3 Kg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan. ( Arief Mansjoeer, 2000 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Etiologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang menjadi penyebab Hirschsprung atau Mega Colon itu sendiri adalah diduga terjadi karena faktor genetik dan lingkungan sering terjadi pada anak dengan Down syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Patofisiologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily &amp;amp; Sowden, 2002:197).&lt;br /&gt;Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal.&lt;br /&gt;Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S &amp;amp; Wilson, 1995 : 141 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Manifestasi Klinis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan Meconium dalam 24 – 28 jam pertama setelah lahir. Tampak malas mengkonsumsi cairan, muntah bercampur dengan cairan empedu dan distensi abdomen. (Nelson, 2000 : 317).&lt;br /&gt;Gejala Penyakit Hirshsprung adalah obstruksi usus letak rendah, bayi dengan Penyakit Hirshsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai berikut. Obstruksi total saat lahir dengan muntaah, distensi abdomen dan ketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi meconium diikuti obstruksi konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala rigan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Konstipasi ringan entrokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Adanya feses yang menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang khas. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi abdomen hebat dan diare berbau busuk yang dapat berdarah ( Nelson, 2002 : 317 ).&lt;br /&gt;1. Anak – anak&lt;br /&gt;a Konstipasi&lt;br /&gt;b Tinja seperti pita dan berbau busuk&lt;br /&gt;c Distenssi abdomen&lt;br /&gt;d Adanya masa difecal dapat dipalpasi&lt;br /&gt;e Biasanya tampak kurang nutrisi dan anemi ( Betz cecily &amp;amp; sowden, 2002 : 197 ).&lt;br /&gt;2. Komplikasi&lt;br /&gt;a Obstruksi usus&lt;br /&gt;b Konstipasi&lt;br /&gt;c Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit&lt;br /&gt;d Entrokolitis&lt;br /&gt;e Struktur anal dan inkontinensial ( pos operasi ) ( Betz cecily &amp;amp; sowden, 2002 : 197 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Pemeriksaan Penunjang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan dengan barium enema, dengan pemeriksaan ini akan bisa ditemukan :&lt;br /&gt;a Daerah transisi&lt;br /&gt;b Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang menyempit&lt;br /&gt;c Entrokolitis padasegmen yang melebar&lt;br /&gt;d Terdapat retensi barium setelah 24 – 48 jam ( Darmawan K, 2004 : 17 )&lt;br /&gt;2. Biopsi isap&lt;br /&gt;Yaitu mengambil mukosa dan sub mukosa dengan alat penghisap dan mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa ( Darmawan K, 2004 :17 )&lt;br /&gt;3. Biopsi otot rektum&lt;br /&gt;Yaitu pengambilan lapisan otot rektum&lt;br /&gt;4. Periksaan aktivitas enzim asetil kolin esterase dari hasil biobsi isap pada penyakit ini khas terdapat peningkatan, aktifitas enzimasetil kolin esterase ( Darmawan K, 2004 : 17 )&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsi usus&lt;br /&gt;( Betz, cecily &amp;amp; Sowden, 2002 : 197 )&lt;br /&gt;6. Pemeriksaan colok anus&lt;br /&gt;Pada pemeriksaan ini jari akan merasakan jepitan dan pada waktu tinja yang menyemprot. Pemeriksaan ini untuk mengetahu bahu dari tinja, kotoran yang menumpuk dan menyumbat pada usus di bagian bawah dan akan terjadi pembusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. Penatalaksanaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Medis&lt;br /&gt;Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di usus besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal.&lt;br /&gt;Ada dua tahapan dalam penatalaksanaan medis yaitu :&lt;br /&gt;a Temporari ostomy dibuat proksimal terhadap segmen aganglionik untuk melepaskan obstruksi dan secara normal melemah dan terdilatasinya usus besar untuk mengembalikan ukuran normalnya.&lt;br /&gt;b Pembedahan koreksi diselesaikan atau dilakukan lagi biasanya saat berat anak mencapai sekitar 9 Kg ( 20 pounds ) atau sekitar 3 bulan setelah operasi pertama ( Betz Cecily &amp;amp; Sowden 2002 : 98 )&lt;br /&gt;Ada beberapa prosedur pembedahan yang dilakukan seperti Swenson, Duhamel, Boley &amp;amp; Soave. Prosedur Soave adalah salah satu prosedur yang paling sering dilakukan terdiri dari penarikan usus besar yang normal bagian akhir dimana mukosa aganglionik telah diubah ( Darmawan K 2004 : 37 )&lt;br /&gt;2. Perawatan&lt;br /&gt;Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya bila ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal, perhatikan utama antara lain :&lt;br /&gt;a Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada anak secara dini&lt;br /&gt;b Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak&lt;br /&gt;c Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis ( pembedahan )&lt;br /&gt;d Mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana pulang ( FKUI, 2000 : 1135 )&lt;br /&gt;Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak – anak dengan mal nutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai status fisiknya meningkat. Hal ini sering kali melibatkan pengobatan simptomatik seperti enema. Diperlukan juga adanya diet rendah serat, tinggi kalori dan tinggi protein serta situasi dapat digunakan nutrisi parenteral total ( NPT )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konsep Tumbuh Kembang Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Konsep tumbuh kembang anak difokuskan pada usia todler yakni 1 – 3 tahun bisa juga dimasukkan dalam tahapan pre operasional yakni umur 2 – 7 tahun. Menurut Yupi. S ( 2004 ) berdasarkan teori peaget bahwa masa ini merupakan gambaran kongnitif internal anak tentang dunia luar dengan berbagai kompleksitasnya yang tumbuh secara bertahap merupakan suatu masa dimana pikiran agak terbatas. Anak mampu menggunakan simbul melalui kata – kata, mengingat sekarang dan akan datang. Anak mampu membedakan dirinya sendiri dengan objek dalam dunia sekelilingnya baik bahasa maupun pikiranya bercirikan egesenterisme, ia tidak mahu menguasai ide persamaan terutama berkaitan dengan masalah–masalah secara logis, tetapi dalam situasi bermain bebas ia cenderung untuk memperlihatkan perilaku logis dan berakal sehat pada tahap ini akan mulai mengenal tubuhnya&lt;br /&gt;Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang dapat diukur dengan ukuran berat ( gram, pounnd, kilogram ). Ukuran panjang ( cm, meter ). Umur tulang dan keseimbangan metabolik ( retensi kalium dan nitrogen tubuh ). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi yang lebih komplek dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan ( Soetjiningsih, 1998: 1 ).&lt;br /&gt;Pada pertumbuhan fisik dapat dinilai pertambahan berat badan sebanyak 2,2 Kg/ tahun dan tinggi badan akan bertambah kira – kira 7,5 cm/ tahun. Proporsi tumbuh berubah yaitu lengan dan kaki tumbuh lebih cepat dari pada kepala dan badan lorosis lumbal pada medulla spinalis kurang terlihat dan tungkai mempunyai tampilan yang bengkok. Lingkar kepala meningkat 2,5 cm/ tahun dan fontanella anterior menutup pada usia 15 bulan. Gigi molar pertama dan molar kedua serta gigi taring mulai muncul ( Betz &amp;amp; Sowden, 2002: 546 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.  Strategi Pengurangan Dampak Hospitalisasi Pada Usia Todler&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada usia todler anak cenderung egosentris maka dalam menjelaskan prosedur dalam hubungan dengan cara apa yang akan anak lihat, dengar, bau, raba dan rasakan. Katakan pada anak tidak apa- apa menangis atau gunakan ekspresi verbal untuk mengatakan tidak nyaman.&lt;br /&gt;Pada usia ini juga mengalami keterbatasan kemampuan berkomunikasi lebih sering menggunakan perilaku atau sikap. Sedikit pendekatan yang sederhana menggunkan contoh peralatan yang kecil ( ijinkan anak untuk memegang peralatan ) menggunakan permainan.&lt;br /&gt;Pada usia ini menjadikan hubungan yang sulit antara anak dengan perawat diperlukan orang tua pada keadaan ini, apapun cara yang dilakukan anaka harus merupakan pertimbangan pertama. Ibu harus didorong untuk tinggal atau paling sedikit mengunjungi anaknya sesering mungkin ( Yupi, S 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Fokus Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi ketidakmampuan Kolon mengevakuasi feces ( Wong, Donna, 2004 : 508 )&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;1. anak dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi sampai fungsi eliminasi secara normal dan bisa dilakukan&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;1. Pasien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adapatasi&lt;br /&gt;2. Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1. Berikan bantuan enema dengan cairan Fisiologis NaCl 0,9 %&lt;br /&gt;2. Observasi tanda vital dan bising usus setiap 2 jam sekali&lt;br /&gt;3. Observasi pengeluaran feces per rektal – bentuk, konsistensi, jumlah&lt;br /&gt;4. Observasi intake yang mempengaruhi pola dan konsistensi feses&lt;br /&gt;5. Anjurkan untuk menjalankan diet yang telah dianjurkan&lt;br /&gt;b. Perubahan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh berhubungan dengan saluran pencernaan mual dan muntah&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;1. Pasien menerima asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;1. Berat badan pasien sesuai dengan umurnya&lt;br /&gt;2. Turgor kulit pasien lembab&lt;br /&gt;3. Orang tua bisa memilih makanan yang di anjurkan&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Berikan asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan&lt;br /&gt;2. Ukur berat badan anak tiap hari&lt;br /&gt;3. Gunakan rute alternatif pemberian nutrisi ( seperti NGT dan parenteral ) untuk mengantisipasi pasien yang sudah mulai merasa mual dan muntah&lt;br /&gt;c. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang (Betz, Cecily &amp;amp; Sowden 2002:197)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;1. Status hidrasi pasien dapat mencukupi kebutuhan tubuh&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;1. Turgor kulit lembab.&lt;br /&gt;2. Keseimbangan cairan.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Berikan asupan cairan yang adekuat pada pasien&lt;br /&gt;2. Pantau tanda – tanda cairan tubuh yang tercukupi turgor, intake – output&lt;br /&gt;3. Observasi adanay peningkatan mual dan muntah antisipasi devisit cairan tubuh dengan segera&lt;br /&gt;d. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatanya. ( Whaley &amp;amp; Wong, 2004 ).&lt;br /&gt;Tujuan : pengetahuan pasien tentang penyakitnyaa menjadi lebih adekuat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;1. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakitnyaa, perawatan dan obat – obatan. Bagi penderita Mega Colon meningkat daan pasien atau keluarga mampu menceritakanya kembali&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal – hal yang ingn diketahui sehubunagndengan penyaakit yang dialami pasien&lt;br /&gt;2. Kaji pengetahuan keluarga tentang Mega Colon&lt;br /&gt;3. Kaji latar belakang keluarga&lt;br /&gt;4. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan serta obat – obatan pada keluarga pasien&lt;br /&gt;5. Jelaskan semua prosedur yang akan dilaksanakan dan manfaatnya bagi pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from rusli arif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-1904916305530046788?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/1904916305530046788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=1904916305530046788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/1904916305530046788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/1904916305530046788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/askep-anak-dengan-hirsprung.html' title='Askep Anak dengan Hirsprung'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-6021198888664872122</id><published>2008-11-11T08:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T08:30:42.455-08:00</updated><title type='text'>endokarditis</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga pada endokar dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau penyakit kronik. Perjalanan penyakit ini bisa; akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita. Infeksi subakut hampir selalu berakibat fatal, sedangkan hiperakut/akut secara klinis tidak pernah ada, karena penderita meninggal terlebih dahulu yang disebabkan karena sepsis. Endokarditis kronik hampir tidak dapat dibuat diagnosanya, karena gejalanya tidak khas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Etiologi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah streptokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Faktor-faktor predisposisi dan faktor pencetus.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard, kuman yang sangat patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembentukan trombus yang mengandung kuman dan kemudian lepas dari endokard merupakan gambaran yang khas pada endokarditis infeksi. Besarnya emboli bermacam-macam. Emboli yang disebabkan jamur biasanya lebih besar, umumnya menyumbat pembuluh darah yang besar pula. Tromboemboli yang terinfeksi dapat teranggkut sampai di otak, limpa, ginjal, saluran cerna, jantung, anggota gerak, kulit, dan paru. Bila emboli menyangkut di ginjal. akan meyebabkan infark ginjal, glomerulonepritis. Bila emboli pada kulit akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri tekan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gejala-gejala&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sering penderita tidak mengetahui dengan jelas. Sejak kapan penyakitnya mulai timbul , misalnya sesudah cabut gigi, mulai kapan demam, letih-lesu, keringat malam banyak, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, sakit sendi, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada ekstremitas (jari tangan dan kaki), dan sakit pada kulit.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Gejala umum&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demam dapat berlangsung terus-menerus retermiten / intermiten atau tidak teratur sama sekali. Suhu 38 - 40 C terjadi pada sore dan malam hari, kadang disertai menggigil dan keringat banyak. Anemia ditemukan bila infeksi telah berlangsung lama. pada sebagian penderita ditemukan pembesaran hati dan limpha.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Gejala Emboli dan Vaskuler&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ptekia timbul pada mukosa tenggorok, muka dan kulit (bagian dada). umumya sukar dibedakan dengan angioma. Ptekia di kulit akan berubah menjadi kecoklatan dan kemudian hilang, ada juga yang berlanjut sampai pada masa penyembuhan. Emboli yang timbul di bawah kuku jari tangan (splinter hemorrhagic).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Gejala Jantung&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanda-tanda kelainan jantung penting sekali untuk menentukan adanya kelainan katub atau kelainan bawaan seperti stenosis mitral, insufficiency aorta, patent ductus arteriosus (PDA), ventricular septal defect (VCD), sub-aortic stenosis, prolap katub mitral. Sebagian besar endocarditis didahului oleh penyakit jantung, tanda-tanda yang ditemukan ialah sesak napas, takikardi, palpasi, sianosis, atau jari tabuh (clubbing of the finger). Perubahan murmur menolong sekali untuk menegakkan diagnosis, penyakit yang sudah berjalan menahun, perubahan murmur dapat disebabkan karena anemia . Gagal jantung terjadi pada stadium akhir endokarditis infeksi, dan lebih sering terjadi pada insufisiensi aorta dan insufisiensi mitral, jarang pada kelainan katub pulmonal dan trikuspid serta penyakit jantung bawaan non valvular .&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Endokarditis infeksi akut&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Infeksi akut lebih sering timbul pada jantung yang normal, berbeda dengan infeksi sub akut, penyakitnya timbul mendadak, tanda-tanda infeksi lebih menonjol, panas tinggi dan menggigil, jarang ditemukan pembesaran limfa, jari tabuh, anemia dan ptekia . Emboli biasanya sering terjadi pada arteri yang besar sehingga menimbulkan infark atau abses pada organ bersangkutan. Timbulnya murmur menunjukkan kerusakan katub yang sering terkena adalah katub trikuspid berupa kebocoran, tampak jelas pada saat inspirasi yang menunjukkan gagal jantung kanan, vena jugularis meningkat, hati membesar, nyeri tekan, dan berpulsasi serta udema. Bila infeksi mengenai aorta akan terdengar murmur diastolik yang panjang dan lemah. Infeksi pada aorta dapat menjalar ke septum inter ventricular dan menimbulkan abses. Abses pada septum dapat pecah dan menimbulkan blok AV . Oleh karena itu bila terjadi blok AV penderita panas tinggi, kemungkinan ruptur katub aorta merupakan komplikasi yang serius yang menyebabkan gagal jantung progresif. Infeksi katub mitral dapat menjalar ke otot papilaris dan menyebabkan ruptur hingga terjadi flail katub mitral.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Leukosit dengan jenis netrofil, anemia normokrom normositer, LED meningkat, immunoglobulin serum meningkat, uji fiksasi anti gama globulin positf, total hemolitik komplemen dan komplemen C3 dalam serum menurun, kadar bilirubin sedikit meningkat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemeriksaan umum urine ditemukan maka proteinuria dan hematuria secara mikroskopik. Yang penting adalah biakan mikro organisme dari darah . Biakan harus diperhatikan darah diambil tiap hari berturut-turut dua / lima hari diambil sebanyak 10 ml dibiakkan dalam waktu agak lama (1 - 3 minggu) untuk mencari mikroorganisme yang mungkin berkembang agak lambat. biakkan bakteri harus dalam media yang sesuai. NB: darah diambil sebelum diberi antibiotik . Biakan yang positif uji resistansi terhadap antibiotik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Echocardiografi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diperlukan untuk:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Melihat vegetasi pada katub aorta terutama vegetasi yang besar ( &gt; 5 mm)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Melihat dilatasi atau hipertrofi atrium atau ventrikel yang progresif&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Mencari penyakit yang menjadi predisposisi endokarditis ( prolap mitral, fibrosis, dan calcifikasi katub mitral )&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Penutupan katub mitral yang lebih dini menunjukkan adanya destrruktif katub aorta dan merupakan indikasi untuk melakukan penggantian katub&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Diagnosis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diagnosis endokarditis infeksi dapat ditegakkan dengan sempurna bila ditemukan kelainan katub, kelainan jantung bawaan, dengan murmur , fenomena emboli, demam dan pembiakan darah yang positif. Diagnosis dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria diatas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Endokarditis paska bedah dapat diduga bilamana terjadi panas, leukositosis dan anemia sesudah operasi kardiovaskuler atau operasi pemasangan katub jantung prostetik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengobatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemberian obat yang sesuai dengan uji resistensi dipakai obat yang diperkirakan sensitif terhadap mikroorganisme yang diduga. Bila penyebabnya streptokokus viridan yang sensitif terhadpa penicillin G , diberikan dosis 2,4 - 6 juta unit per hari selama 4 minggu, parenteral untuk dua minggu, kemudian dapat diberikan parenteral / peroral penicillin V karena efek sirnegis dengan streptomicin, dapat ditambah 0,5 gram tiap 12 jam untuk dua minggu . Kuman streptokokous fecalis (post operasi obs-gin) relatif resisten terhadap penisilin sering kambuh dan resiko emboli lebih besar oleh karena itu digunakan penisilin bersama dengan gentamisin yang merupakan obat pilihan. Dengan dosis penisilin G 12 - 24 juta unit/hari,dan gentamisin 3 - 5 mg/kgBB dibagi dalam 2 - 3 dosis. Ampisilin dapat dipakai untuk pengganti penisilin G dengan dosis 6 - 12 gr/hari . Lama pengobatan 4 minggu dan dianjurkan sampai 6 minggu. Bila kuman resisten dapat dipakai sefalotin 1,5 gr tiap jam (IV) atau nafcilin 1,5 gr tiap 4 jam atau oksasilin 12 gr/hari atau vankomisin 0,5 gram/6 jam, eritromisin 0,5 gr/8 jam lama pemberian obat adalah 4 minggu. Untuk kuman gram negatif diberikan obat golongan aminoglikosid : gentamisin 5 - 7 mg/kgBB per hari, gentamisin sering dikombinsaikan dengan sefalotin, sefazolia 2 - 4 gr/hari , ampisilin dan karbenisilin. Untuk penyebab jamur dipakai amfoterisin B 0,5 - 1,2 mg/kgB per hari (IV) dan flucitosin 150 mg/Kg BB per hari peroral dapat dipakai sendiri atua kombinasi. Infeksi yang terjadi katub prostetik tidak dapat diatasi oleh obat biasa, biasanya memerlukan tindakan bedah. Selain pengobatan dengan antibiotik penting sekali mengobati penyakit lain yang menyertai seperti : gagal Jantung . Juga keseimbangan elektrolit, dan intake yang cukup .&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pencegahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Faktor predisposisi sebaiknya diobati (gigi yang rusak, karies,selulitis dan abses).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;askep.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-6021198888664872122?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/6021198888664872122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=6021198888664872122' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6021198888664872122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/6021198888664872122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/endokarditis.html' title='endokarditis'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-7362980070385970576</id><published>2008-11-11T08:20:00.001-08:00</published><updated>2008-11-11T08:20:59.449-08:00</updated><title type='text'>CRF</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt;  &lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Pengkajian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;Dasar Data Pengkajian Pasien&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;- Aktifitas &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify;"&gt;Gejala &lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kelelahan ekstrem, kalemahan, malaise&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -144pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda &lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;- Sirkulasi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Adanya riwayat hipertensi lama atau berat&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;palpatasi, nyeri dada (angina)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hipertensi, DUJ, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak , tangan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                            &lt;/span&gt;Nadi lemah, hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia, yang jarang pada penyakit tahap akhir.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                            &lt;/span&gt;Pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                            &lt;/span&gt;Kecenderungan perdarahan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;- Integritas Ego&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Faktor stress, contoh finansial, hubungan dan sebagainya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Eliminasi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (pada gagal ginjal tahap lanjut)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Abdomen kembung, diare, atau konstipasi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda &lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;: Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat, oliguria.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Makanan / cairan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala &lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Peningkatan berat badan cepat (oedema), penurunan berat badan (malnutrisi).&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Penggunaan diurotik&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda &lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Perubahan turgor kulit/kelembaban&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Edema (umum, targantung)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Ulserasi gusi, pendarahan gusi/lidah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Penurunan otot, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Neurosensori&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sakit kepala, penglihatan kabur&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Kram otot / kejang, syndrome “kaki gelisah”, rasa terbakar pada telapak kaki, kesemutan dan kelemahan, khususnya ekstremiras bawah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gangguan status mental, contah penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Nyeri / kenyamanan &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Pernapasan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;: Napas pendek, dispnea, batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda &lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Batuk dengan sputum encer (edema paru)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Keamanan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulit gatal&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Ada / berulangnya infeksi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Tanda &lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pruritis&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Demam (sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara aktual terjadi peningkatan pada pasien yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Ptekie, area ekimosis pada kulit&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Fraktur tulang, keterbatasan gerak sendi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Seksualitas&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penurunan libido, amenorea, infertilitas&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Interaksi sosial&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;: Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -189pt;"&gt;- Penyuluhan / Pembelajaran&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -180pt;"&gt;Gejala&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Riwayat DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis heredeter, kalkulus urenaria, maliganansi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Riwayat terpejan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini / berulang.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 189pt; text-align: justify; text-indent: -162pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data dari pasien. Kemungkinan diagnosa keperawatan dari orang dengan kegagalan ginjal kronis adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;- &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Kelebihan volume cairan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;- &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;- &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Intoleran aktivitas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi, produk sampah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;- Resiko tinggi terhadap penururnan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial, dan tahanan vaskular sistemik.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;- &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi toksin dalam kulit.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;- &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana tindakan, dan prognosis.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;D.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Implementasi &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Asuhan Keperawatan bagi klien dengan kegagalan ginjal kronis&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Membantu Meraih Tujuan Terapi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan agar orang tetap menekuni pantangan air yang sudah dipesankan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan agar orang menekuni diet tinggi karbohidrat disertai pantangan sodium, potassium, phosphorus dan protein.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menekuni makanan bahan yang mengikat fosfat.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memberikan pelunak tinja bila klien mendapat aluminium antacid.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memberikan suplemen vitamin dan mineral menurut yang dipesankan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Melindungi pasien dari infeksi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengkaji lingkungan klien dan melindungi dari cedera dengan cara yang seksama.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;h.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mencegah perdarahan saluran cerna yang lebih hebat dengan menggunakan sikat gigi yang berbulu halus dan pemberian antacid. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan Kenyamanan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan mengurangi gatal, memberi obat anti pruritis menurut kebutuhan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan hangat dan message otot yang kejang dari tangan dan kaki bawah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menyiapkan air matol buatan untuk iritasi okuler.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan istirahat bila kecapaian&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan agar klien dapat tidur dengan cara yang bijaksana&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan kebersihan oral beberapa kali sehari terutama sebelum makan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Konsultasi dan Penyuluhan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menyiapkan orang yang bisa memberi kesempatan untuk membahas berbagai perasaan tentang kronisitas dari penyakit.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengusahakan konsultasi bila terjadi penolakan yang mengganggu terapi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Membesarkan harapan orang dengan memberikan bantuan bagaimana caranya mengelola cara hidup baru.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memberi penyuluhan tentang sifat dari CRF, rasional terapi, aturan obat-obatan dan keperluan melanjutkan pengobatan. (Keperawatan Medikal Bedah, Barbara C. Long)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Evaluasi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pertanyaan-pertanyaan yang umum yang harus diajukan pada evaluasi orang dengan kegagalan ginjal kronis terdiri dari yang berikut.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apakah terdapat gejala-gejala bertambahnya retensi cairan?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apakah orang menekuni pesan dietvdan cairan yang diperlukan?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apakah terdapat gejala-gejala terlalu kecapaian?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apakah orang menggaruk-garuk berlebihan?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apakah orang tidur nyenyak pada malam hari?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apakah dilakukan pencegahan infeksi, tambahan perdarahan saluran cerna?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apakah orang dapat menguraikan tentang sifat CRF, rasional dan terapi, peraturan obat-obatan dan gejala-gejalayang harus dilaporkan?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;(Keperawatan Medikal Bedah, Barbara C. Long)&lt;/p&gt;           &lt;/div&gt;                  &lt;em&gt;from: Iriyan Gunawan &lt;a href="http://asuhan-keperawatan.blogspot.com/2006/05/crf.html" title="permanent link"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-7362980070385970576?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/7362980070385970576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=7362980070385970576' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7362980070385970576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7362980070385970576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/crf.html' title='CRF'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-8213879258327142682</id><published>2008-11-11T08:19:00.001-08:00</published><updated>2008-11-11T08:19:40.736-08:00</updated><title type='text'>AIDS</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt;  &lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Pengertian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;AIDS atauAcquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang disebut HIV. Dalam bahasa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dapat dialih      katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Immune : Sistem kekebalan tubuh&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Deficiency : Kekurangan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit&lt;/p&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kerusakan progrwsif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( &lt;b style=""&gt;Suzane      C. Smetzler dan Brenda G.Bare )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( &lt;b style=""&gt;Center for Disease      Control and Prevention )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Etiologi&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Patofisiologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seseorang yang &lt;/span&gt;terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Klasifikasi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kategori Klinis A&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang      simptomatik.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI :      Persistent Generalized Limpanodenophaty )&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kategori Klinis B&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Angiomatosis Baksilaris&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kandidiasis      Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap      terapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Displasia      Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gejala      konstitusional seperti panas ( 38,5&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt; C ) atau diare lebih dari      1 bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Leukoplakial yang berambut&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda      / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Idiopatik Trombositopenik Purpura&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo      Varii&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kategori Klinis C&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Kandidiasis      bronkus,trakea / paru-paru, esophagus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kanker serviks inpasif&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kriptokokosis ekstrapulmoner&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kriptosporidosis internal kronis&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar      limfe )&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Enselopathy berhubungan dengan Human      Immunodeficiency Virus (HIV) &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Herpes simpleks (ulkus      kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isoproasis intestinal yang kronis&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sarkoma Kaposi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Limpoma      Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kompleks      mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;M.Tubercolusis      pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mycobacterium, spesies lain,diseminata /      ekstrapulmoner&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pneumonia Pneumocystic Cranii&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pneumonia Rekuren&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Leukoenselophaty multifokal progresiva&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Septikemia salmonella yang rekuren&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Toksoplamosis otak&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency      Virus ( HIV) &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;5. Gejala Dan Tanda&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="8" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="8" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa       gejala&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="8" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;6. Komplikasi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;a. Oral Lesi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;b. Neurologik&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;- kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;- Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;-. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;c. Gastrointestinal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;d. Respirasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;e. Dermatologik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;f. Sensorik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;7. Penatalaksanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terpinya yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengendalian Infeksi Opurtunistik&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terapi AZT (Azidotimidin)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. &lt;span style="" lang="SV"&gt;AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya &lt;&gt;3 . &lt;/span&gt;Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 &gt; 500 mm&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terapi Antiviral Baru&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;–&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Didanosine&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;–&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ribavirin&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;–&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Diedoxycytidine&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;–&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Recombinant CD 4 dapat larut&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Vaksin dan Rekonstruksi Virus&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="5" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Konsep Dasar Asuhan Keperawatan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;1. Pengkajian&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;a. Riwayat Penyakit&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jenis infeksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;- Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Terapi radiasi,defisiensi nutrisi,penuaan,aplasia timik,limpoma,kortikosteroid,globulin anti limfosit,disfungsi timik congenital.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;- Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Limfositik leukemia kronis,mieloma,hipogamaglobulemia congenital,protein – liosing enteropati (peradangan usus)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Aktifitas / Istirahat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Sirkulasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Integritas dan Ego &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Eliminasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Makanan / Cairan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Hygiene&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Neurosensoro&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Nyeri / Kenyamanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Pernafasan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Keamanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;-Seksualitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil pencegah kehamilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanda : Kehamilan,herpes genetalia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Interaksi Sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanda : Perubahan interaksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Penyuluhan / Pembelajaran &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan obat-obatan IV,merokok,alkoholik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;c. Pemeriksaan Diagnostik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;a. Tes Laboratorium&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1. Serologis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Tes antibody serum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Tes blot western&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;- Sel T limfosit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Penurunan jumlah total&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Sel T4 helper&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Indikator system imun (jumlah &lt;200&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- T8 ( sel supresor sitopatik )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Kadar Ig&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Reaksi rantai polimerase&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;- Tes PHS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;2. Budaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;3. Neurologis&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tes Lainnya&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sinar X dada&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tes Fungsi Pulmonal&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Deteksi awal pneumonia interstisial&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Skan Gallium&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Biopsis&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="5" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Brankoskopi / pencucian trakeobronkial&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;b. Tes Antibodi&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji – kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;1. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;2. Western Blot Assay&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;3. Indirect Immunoflouresence&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mendeteksi protein dari pada antibody.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;c. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus ( viral burden )&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: 16.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gels bekas dipakai penderita, handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: 16.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: 16.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/div&gt;                  &lt;em&gt;from: Iriyan Gunawan&lt;a href="http://asuhan-keperawatan.blogspot.com/2006/05/aids.html" title="permanent link"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-8213879258327142682?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/8213879258327142682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=8213879258327142682' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8213879258327142682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/8213879258327142682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/aids.html' title='AIDS'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-7065618571116835557</id><published>2008-11-11T08:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T08:17:51.721-08:00</updated><title type='text'>Bronkitis pada Anak</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;      Bronkitis pada Anak        &lt;/h3&gt;                &lt;div class="post-body"&gt;  &lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.    Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditanda oleh inflamasi bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah, 1997 )&lt;br /&gt;Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994)&lt;br /&gt;Sebagai penyakit tersendiri, bronkitis merupakan topik yang masih diliputi kontroversi dan ketidakjelasan di antara ahli klinik dan peneliti. Bronkitis merupakan diagnosa yang sering ditegakkan pada anak baik di Indonesia maupun di luar negeri, walaupun dengan patokan diagnosis yang tidak selalu sama.(Taussig, 1982; Rahayu, 1984)&lt;br /&gt;Kesimpangsiuran definisi bronkitis pada anak bertambah karena kurangnya konsesus mengenai hal ini. Tetapi keadaan ini sukar dielakkan karena data hasil penyelidikan tentang hal ini masih sangat kurang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    Review Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran, mengeluarkan CO2 hasil dari metabolisme .&lt;br /&gt;a.    Hidung&lt;br /&gt;Merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang dipisahkan oleh sekat septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk menyaring udara, debu dan kotoran. Selain itu terdapat juga konka nasalis inferior, konka nasalis posterior dan konka nasalis media yang berfungsi untuk mengahangatkan udara.&lt;br /&gt;b.    Faring&lt;br /&gt;Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening.&lt;br /&gt;c.    Laring&lt;br /&gt;Merupakan saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara. Terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis.&lt;br /&gt;d.     Trakea&lt;br /&gt;Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulang rawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk mempertahankan jalan napas agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, yang berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan.&lt;br /&gt;e.     Bronkus&lt;br /&gt;Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 – 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 – 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli.&lt;br /&gt;f.     Paru-paru&lt;br /&gt;Merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-gelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah.&lt;br /&gt;3.    Klasifkasi&lt;br /&gt;a.    Bronkitis Akut&lt;br /&gt;Bronkitis akut pada bayi dan anak biasanya juga bersama dengan trakeitis, merupakan penyakit saluran napas akut (ISNA) yang sering dijumpai.&lt;br /&gt;b.    Bronkitis Kronik dan atau Batuk Berulang&lt;br /&gt;Bronkitis Kronik dan atau berulang adalah kedaan klinis yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya selama 2 minggu berturut-turut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya (KONIKA, 1981). Dengan memakai batasan ini maka secara jelas terlihat bahwa Bronkitis Kronik termasuk dalam kelompok BKB tersebut. Dalam keadaan kurangnya data penyelidikan mengenai Bronkitis Kronik pada anak maka untuk menegakkan diagnosa Bronkitis Kronik baru dapat ditegakkan setelah menyingkirkan semua penyebab lainnya dari BKB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Etiologi&lt;br /&gt;Penyebab utama penyakit Bronkitis Akut adalah adalah virus. Sebagai contoh Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie Virus. Bronkitis Akut selalu terjadi pada anak yang menderita Morbilli, Pertusis dan infeksi Mycoplasma Pneumonia. Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab primer Bronkitis Akut pada anak. Di lingkungan sosio-ekonomi yang baik jarang terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut.&lt;br /&gt;Sedangkan pada Bronkitis Kronik dan Batuk Berulang adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.    Spesifik&lt;br /&gt;1)    Asma&lt;br /&gt;2)    Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis).&lt;br /&gt;3)    Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, infeksi mycoplasma, hlamydia, pertusis, tuberkulosis, fungi/jamur.&lt;br /&gt;4)    Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis.&lt;br /&gt;5)    Sindrom aspirasi.&lt;br /&gt;6)    Penekanan pada saluran napas&lt;br /&gt;7)    Benda asing&lt;br /&gt;8)    Kelainan jantung bawaan&lt;br /&gt;9)    Kelainan sillia primer&lt;br /&gt;10)    Defisiensi imunologis&lt;br /&gt;11)    Kekurangan anfa-1-antitripsin&lt;br /&gt;12)    Fibrosis kistik&lt;br /&gt;13)    Psikis&lt;br /&gt;b.    Non-spesifik&lt;br /&gt;1.    Asap rokok&lt;br /&gt;2.    Polusi udara&lt;br /&gt;5.    Patofisiologi&lt;br /&gt;Virus&lt;br /&gt;(penyebab tersering infeksi) - Masuk saluran pernapasan - Sel mukosa dan sel silia - Berlanjut - Masuk saluran pernapasan(lanjutan) - Menginfeksi saluran pernapasan - Bronkitis - Mukosa membengkak dan menghasilkan lendir - Pilek 3 – 4 hari - Batuk (mula-mula kering kemudian berdahak) - Riak jernih - Purulent - Encer - Hilang - Batuk - Keluar - Suara ronchi basah atau suara napas kasar - Nyeri subsernal - Sesak napas - Jika tidak hilang setelah tiga minggu - Kolaps paru segmental atau infeksi paru sekunder (pertahanan utama) (Sumber : dr.Rusepno Hasan, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak, 1981)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Tanda dan gejala&lt;br /&gt;Menurut Gunadi Santoso dan Makmuri (1994), tanda dan gejala yang ada yaitu :&lt;br /&gt;-    Biasanya tidak demam, walaupun ada tetapi rendah&lt;br /&gt;-    Keadaan umum baik, tidak tampak sakit, tidak sesak&lt;br /&gt;-    Mungkin disertai nasofaringitis atau konjungtivitis&lt;br /&gt;-    Pada paru didapatkan suara napas yang kasar&lt;br /&gt;Menurut Ngastiyah (1997), yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk yang lama, yaitu :&lt;br /&gt;-    Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan klien murang istirahat&lt;br /&gt;-    Daya tahan tubuh klien yang menurun&lt;br /&gt;-    Anoreksia sehingga berat badan klien sukar naik&lt;br /&gt;-    Kesenangan anak untuk bermain terganggu&lt;br /&gt;-    Konsentrasi belajar anak menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Komplikasi&lt;br /&gt;  a.    Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik&lt;br /&gt;  b. Pada anak yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi kurang dapat&lt;br /&gt;      terjadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia&lt;br /&gt;  c.    Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi&lt;br /&gt;  d.    Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau Bronkietaksis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;   a.    Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia&lt;br /&gt;   b.    Laboratorium : Leukosit &gt; 17.500.&lt;br /&gt;9.    Penatalaksanaan&lt;br /&gt;  a.    Tindakan Perawatan&lt;br /&gt;       Pada tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarakan lendir&lt;br /&gt;      -    Sering mengubah posisi&lt;br /&gt;      -    Banyak minum&lt;br /&gt;      -    Inhalasi&lt;br /&gt;      -    Nebulizer&lt;br /&gt;      -    Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan tenang perlu&lt;br /&gt;          diberikan minum susu atau makanan lain&lt;br /&gt;  b.    Tindakan Medis&lt;br /&gt;      -    Jangan beri obat antihistamin berlebih&lt;br /&gt;      -    Beri antibiotik bila ada kecurigaan infeksi bakterial&lt;br /&gt;      -    Dapat diberi efedrin 0,5 – 1 mg/KgBB tiga kali sehari&lt;br /&gt;      -    Chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif&lt;br /&gt;10.    Pencegahan&lt;br /&gt;  Menurut Ngastiyah (1997), untuk mengurangi gangguan tersebut perlu diusahakan agar     batuk tidak bertambah parah.&lt;br /&gt;  -    Membatasi aktivitas anak&lt;br /&gt;  -    Tidak tidur di kamar yang ber AC atau gunakan baju dingin, bila ada yang tertutup lehernya&lt;br /&gt;  -    Hindari makanan yang merangsang&lt;br /&gt;  -    Jangan memandikan anak terlalu pagi atau terlalu sore, dan mandikan anak dengan air hangat&lt;br /&gt;  -    Jaga kebersihan makanan dan biasakan cuci tangan sebelum makan&lt;br /&gt;  -    Menciptakan lingkungan udara yang bebas polusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;           &lt;/div&gt;          &lt;p class="post-footer"&gt;        &lt;em&gt;from: Iriyan Gunawan &lt;/em&gt;&lt;span class="item-control blog-admin pid-391774243"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;          &lt;!-- End .post --&gt;          &lt;!-- Begin #comments --&gt;&lt;!-- End #comments --&gt;&lt;!-- End #main --&gt;           &lt;!-- Begin #sidebar --&gt;&lt;!-- End #sidebar --&gt;     &lt;!-- Begin #footer --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4030074551120078974-7065618571116835557?l=javanurse.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://javanurse.blogspot.com/feeds/7065618571116835557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4030074551120078974&amp;postID=7065618571116835557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7065618571116835557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4030074551120078974/posts/default/7065618571116835557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://javanurse.blogspot.com/2008/11/bronkitis-pada-anak.html' title='Bronkitis pada Anak'/><author><name>professional nurse</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14463354369262634984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Jc-hdzfp6-w/SPE7wNTZlJI/AAAAAAAAAAM/86tXjACXkEc/S220/SSA40045.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4030074551120078974.post-7365906172065392190</id><published>2008-11-11T08:13:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T08:15:17.794-08:00</updated><title type='text'>Stroke Haemoragic</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;      Stroke Haemoragic        &lt;/h3&gt;                  &lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3730/2990/1600/Stroke%20Haemoragic.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3730/2990/320/Stroke%20Haemoragic.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;A. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Pengertian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Stroke secara umum merupakan defisit neurologis yang mempunyai serangan mendadak dan berlangsung 24 jam sebagai akibat dari terganggunya pembuluh darah otak (hudak dan Gallo, 1997)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Stroke digunakan untuk menamakan sindrome hemiparese atau hemiparalisis akibat lesi vascular, yang secara tiba tiba daerah otak tidak menerima darah karena arteri yang memperdarahi daerah tersebut tersumbat, putus atau pecah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;B. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;STROKE HAEMORAGIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Adalah bagian dari klasifikasi stroke, dimana perdarahan intra cerebral dan mungkin perdarahan sub arachnoid yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah otak pada daerah tertentu. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;" lang="FI"&gt;Kejadian biasanya saat melakukan aktifitas, namun dapat juga saat istirahat dan kesadaran pasien umunya menurun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;" lang="FI"&gt;C. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;D. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;FAKTOR RESIKO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Hipertensi, perokok, penyakit jantung terutama artrial fibrilasi, cerebral aneurisma, aterosclerosis, stroke sebelumnya atau TIA, Diabetes, Polisitemia, usila&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;E. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;GEJALA KLINIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;mendadak, nyeri kepala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Paraesthesia, paresis,Plegia sebagian badan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Dysphagia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Aphasia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Gangguan penglihatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Perubahan kemampuan kognitif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;F. &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;CT Scan&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Haemoragi: sub dural, sub aracnoid, intra cerebral. Edema, Iskemia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;" lang="SV"&gt;EEG&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;: Mengidentifikasi area lesi dan gelombang listrik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;" lang="SV"&gt;Angiografi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;: Haemoragi, obstruksi arteri, oklusi dan ruptur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;" lang="FI"&gt;MRI&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;: Infark, perdarahan, kelainan arteri venous&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Lumbal Punksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: Pada perdarahan Sub Arachnoid dan intra cerebral cairan cerebro spinal &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                  &lt;/span&gt;mengandung darah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;G. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;PENATALAKSANAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;1. &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Phase Akut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;" lang="FI"&gt;Pertahankan fungsi vital:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jalan nafas, pernafasan, oksigenisasi dan sirkulasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Reperfusi dengan trombolityk atau vasodilation: Nimotop&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Pencegahan peningkatan TIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Mengurangi edema cerebral dengan diuretik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 38.25pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;2. &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Post phase akut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57.25pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Pencegahan spatik paralisis dengan antispasmodik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57.25pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Program fisiotherapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57.25pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Penangan masalah psikososial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;H. &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;PENGKAJIAN KEPERAWATAN UTAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Monitor tanda vital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Monitor tingkat kesadaran &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Mengkaji&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fungsi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;eliminasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Mengkaji adanya gerakan involunter&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Mengkaji kemampuan ADLs&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Mengkaji kemampuan gerakan-otot&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;I. &lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Nyeri kepala b.d. gangguan vascular cerebral: perdarahan cerebral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Gangguan perfuisi jaringan otak b.d edema cerebral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-size: 85%;"&gt;Self care deficit b.d&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;parsial paralisis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-fa
